Jalan Kaki di Trotoar

Tantan Hermansah

 

Bayangkan kita keluar rumah, dengan tujuan tempat kerja atau sekolah, atau berbelanja kebutuhan sehari-hari. Lalu di perjalanan kita mendapati trotoar yang indah dengan tinggi 20-25 cm di atas permukaan jalan. Di bagian alas trotoar itu tersusun mozaik bermotif batuan yang enak dipandang.

Di samping trotoar terdapat banyak pot bunga kecil menghiasi keindahan trotoar yang sedang dilalui. Dari bawah trotoar itu terdengar air mengalir, melengkapi alunan alam nan harmoni. Air yang mengalir syahdu menjadi penanda bahwa gorong-gorong di bawah trotoar itu berfungsi baik, tidak mampet.

Sesekali dalam perjalanan itu kita bertemu tetangga maupun teman yang sedang melakukan hal yang sama. Ada yang pergi ke kantor maupun kegiatan lain. Sambil bertegur sapa, tervisualisasi dalam keadaan riang gembira, di antara mereka banyak tawa karena berbahagia. Meskipun agak jauh, perjalanan macam itu tidak akan terasa melelahkan. Selain banyak teman, jalanan juga cukup teduh karena dinaungi pohon-pohon yang daunnya lebar, melindungi dari paparan sinar matahari.

Menikmati keindahan suasana ini tidak hanya selalu pagi hari,saat mentari hangat menyinari.Di malam hari, jalan di trotoar tak kalah indah karena dihiasi lampu warna-warni. Sungguh kesan tersendiri sebelum akhirnya tiba di rumah untuk mengistirahatkan diri.

Cerita di atas tentu saja diharapkan bukan hanya imajinasi. Selayaknya itu terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari. Tetapi, realitasnya sungguh tidak demikian. Karena para pejalan kaki bukan prioritas di negeri ini. Lihat saja ruang untuk para pejalan kaki ini, jika dipetakan masalahnya demikian banyak dan kompleks.

Mulai dari lebar trotoar yang sangat minim, banyaksarana jalan kaki yang akhirnya hilang,entah dijadikan tempat jualan atau dijadikan tempat pintu masuk ke sebuah rumah atau tempat usaha,atau mengalah karena terkena pelebaran.

Hak pejalan kaki di negeri ini sudah banyak dianeksasi untuk kepentingan yang bukan haknya.Maka, wajar apabila kemudian publik meresponsnya dengan beragam aksi. Paling menyedihkan dari semua itu adalah pemahaman dan pemaknaan terhadap ruang para pejalan kaki itu di masyarakat yang kini melenceng jauh.Pemaknaan dan pemahaman yang terjadi di publik adalah tidak adanya hak pejalan kaki di republik ini.

Ketika ada seseorang atau sekelompok masyarakat yang mencoba melakukan penegakan hukum atas para pelanggar ruang bagi para pejalan kaki,pun biasanya tidak bisa bertahan lama.Alasannya pasti langkah itu bersifat voluntaristik atau sukarela.

Penegakan ruang agar sesuai fungsi dan haknyamemang harus dilakukan oleh negara.Bahwaselama ini negara melakukan peningkatan kualitas trotoar dengan melakukan penataan ulang, membuat penghalang bagi selain pejalan kaki dan sepeda, itu ya. Namun, tampaknya hal ini masih demikian kurang.

Jika menilik manfaat praktis dari kegiatan jalan kaki, sudah banyak disebutkan dalam berbagai literatur. Dikutip dari situsHallodoc, misalnya, manfaat jalan kaki itu jelas menyehatkan secara fisik.

Bahkan, beberapa pakar kesehatan menyarankan sebaiknya kita bisa mendapatkan manfaat optimum dari berjalan kaki dengan 10.000langkah.Dari jumlah sebanyak itu pejalan kaki akan mendapatkan manfaat kesehatan yang sangat besar lain, seperti memperkuat fisik tubuh, menghindari penyakit kronis, membantu membakar kalori,meningkatkan imunitas tubuh, meningkatkan energi, dan memperbaiki suasana hati.

 

Mengembalikan Budaya Jalan Kaki
Kendati beragam kebaikan jalan kaki itu tidak ada yang membantah, pada praktiknya kegiatan ini jarang dilakukan oleh kebanyakan warga.Bahkan ketika pemerintah membuat beberapa kegiatan, seperticar free dayyang di dalamnya memberikan ruang seseorang untuk membiasakan jalan kaki, pun tetap saja kegiatan ini belum kembali menjadi budaya.

Jika ditelisik lebih lanjut, ada sejumlah alasan mengapa masyarakat, terutama yang tinggal di perkotaan saat ini,kurang menyukai budaya jalan kaki dalam kehidupan sehari-hari.Pertama, seperti sudah disebutkan di atas, tidak seluruh trotoar yang menjadi hak para pejalan kaki itu eksis di semua ruang jalan.Banyaknya trotoar yang tidak terurus atau beralih fungsi menjadi kegiatan lain membuat masyarakat semakin malas untuk berjalan kaki.

Kedua, tersedianya kendaraan, khususnya sepeda motor, menyebabkan orang malas untuk berjalan kaki.Ada anggapan sekaligus fakta bahwa menggunakan motor menjadi lebih cepat mencapai tempat tujuan.Ketiga, keamanan.Di Indonesia keamanan buat para pejalan kaki demikian rapuh.

Keamanan yang dimaksud di sini adalah dari sisi sarana prasarana yang nyaman diinjak dan dilalui, karena unsur luas dari jalan tersebut memadai untuk dilalui orang banyak; juga keamanan dari hal-hal yang sifatnya nonfisik seperti dari orang yang berniat tidak baik kepada para pejalan kaki.

Berangkat dari masalah itu, pilihan terbaik untuk mengembalikan budaya jalan kaki adalah negara memiliki keberpihakan kepada para pejalan kaki. Misalnya dengan memberikan berbagai insentif bagi mereka yang melakukan jalan kaki dari rumah ke tempat kerja maupun ke tempat aktivitas lain.

Berbagai insentif itu bisa berwujud dalam beragam hal seperti insentif pemotongan pajak atau dapatvoucheruntuk membeli kopi atau insentif lain yang bisa mengundang orang turun kembali untuk melakukan jalan kaki. Selanjutnya memastikan bahwa para pejalan kaki itu selain nyaman juga aman. Faktor-faktor ini tentu sangat fundamental dalam mengembalikan budaya jalan kaki agar kembali menjadipada masyarakat.

Mereka yang melakukan kegiatan jalan kaki merasa aman karena terdapat banyak CCTV yang mengawasi aktivitas mereka juga ada aparat polisi trotoar, misalnya, yang memastikan kenyamanan.
Terakhir, memastikan ruang jalan kaki pun cukup luas untuk dilalui oleh banyak orang sehingga ketika ada sejumlah orang yang melakukan aktivitas bersamaan di sana untuk menuju ke sebuah tempat atau ke tujuan mana pun, mereka tidak akan bertabrakan atau bersenggolan. Jika itu semua bisa dilakukan, banyak orang akan terpanggil untuk menikmati lingkungan dengan berjalan kaki.

 

Penulis adalah Pengajar Sosiologi Perkotaan UIN Jakarta. Sedang artikelnya diterbitkan di SINDOnews.com, Senin 23 Januari 2023.

Related Posts