Oleh Suparto

Dosen Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Ahad, 18 September 2022 adalah hari paling mengejutkan bagi saya, dan tentu bagi masyarakat Indonesia dan dunia. Semburat kesedihan yang saya rasakan agaknya juga dirasakan oleh banyak manusia. Hari itu adalah hari duka bagi dunia keilmuan karena berpulangnya ilmuwan besar milik dunia, yakni Prof. Dr. Azyumardi Azra, MA, CBE. Benarlah kata pepatah, “mawtul ‘aalim, mawtul ‘aalam” (kematian seorang alim adalah kematian alam semesta). Sedianya Pak Edy (saya biasa memanggil Beliau) akan menjadi pembicara kunci pada acara konferensi internasional bertajuk “Kosmopolitan Islam: Mengilhami Kebangkitan, Meneroka Masa Depan” yang dilaksanakan oleh ABIM (Angkatan Belia Islam Malaysia) di Bangi Avenue Convention Centre (BACC) Kajang. Beliau dijadwal akan membawakan satu makalah berjudul ” Nusantara untuk Kebangkitan Peradaban: Memperkuat Optimisme dan Peran Umat Islam Asia Tenggara” pada jam 11.30-13.30 tanggal 17 September 2022. Tak terhitung berapa banyak forum antarbangsa yang dihadiri Beliau untuk membentangkan buah pikirannya yang tak henti mengalir.

Saya mengenal Beliau sejak tahun 1998 saat Beliau menjabat rektor IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta periode pertama. Perkenalan saya adalah saat saya meminta izin Beliau untuk melanjutkan program magister di Australia. Saya menemui Beliau di kantornya yang sederhana bersama dengan Muhammad Zuhdi. Kami diterima petugas keamanan, Ahmadi, yang belakangan menjabat sebagai sub-koordinator di Fakultas Kedokteran.  Meski saya pegawai baru (saya baru saja selesai mengikuti program pra jabatan nasional yang semi militer pada jaman itu), Beliau menyalami kami dan menyampaikan selamat kepada kami atas beasiswa AusAID yang kami terima. Saat itu Pak Edy mengenakan celana gelap, berbaju putih lengan panjang, berdasi, dan bersisir rapi. Gayanya sangat gesit dan tangkas. Cepat sekali menganalisis masalah, intuitif, dan tak ragu membuat keputusan. Mengapa saya punya kesan demikian? Karena Beliau tak mempersalahkan saya yang karyawan baru, namun harus melanjutkan studi ke luar negeri. Artinya saya belum sempat memberikan kpntribusi banyak ke institusi tempat saya bertugas. Bahkan Beliau membuat disposisi agar kabag keuangan memberikan sumbangan untuk saya membeli koper.

Sepulang dari Australia tahun 2000, saya bertemu lagi dengan Pak Edy. Saya diminta bagian kepegawaian untuk menjabat sebagai kepala Kantor Rektorat yang notabene membantu sisi administratif rektorat; sebuah jabatan baru yang waktu itu belum pernah ada. Sesuai kebutuhan saat itu, kantor rektorat harus dibantu pada sisi administrasi mengingat saat itu IAIN Jakarta sedang menapaki tangga internasionalisasi kampus. Memang kenyataannya saat Beliau menjabat sebagai rektor, banyak tamu asing dari mancanegara yang tak terhitung jumlahnya berkunjung ke IAIN. Saya diminta untuk menangani korespondensi berbahasa asing dan sambutan tamu-tamu asing sebelum mengantar mereka bertemu rector dan para wakil rektor. Di samping itu seringkali saya ditugaskan menjadi MC dan kadang menjadi “tour guide” di area kampus.  Internasionalisasi IAIN adalah refleksi nyata komitmen Pak Edy mengantar kampus . Jejaring intelektual Beliau yang begitu luas seolah menjadi magnet bagi IAIN yang semakin diakui oleh dunia.

Servant Leadership

Mendampingi Pak Edy di kantor rektorat sedikit banyaknya saya belajar tentang karakter kepemimpinan yang melayani (Servant Leadership). Tak segan Pak Edy memberi arahan tentang tugas-tugas di kantor dan mengingatkan profesionalisme kerja administratif. Jika surat ditulis tidak sesuai dengan kaidah persuratan, maka kritik tajam Beliau seolah menghujam begitu kuat dalam perasaan saya. Namun di sisi lain Beliau juga sering memuji kerja staf yang dilaksanakan dengan baik dan benar. Saat itu terdapat tiga staf selain saya di Kantor Rektorat, yakni Ahmadi, Ros, dan Ostalinda. Komunikasi yang dibangun dengan staf sungguh sangat manusiawi dan santun. Beliau berbicara lembut, tak pernah berbicara kasar, dan tak pernah meninggikan suaranya. Beliau tempatkan dirinya sebagai pimpinan sekaligus kolega. Di setiap pagi saat masuk kantor, Beliau selalu menyapa para staf yang ada di kantor. Sisi lain dari sisi manusawi Beliau adalah, Beliau tak pernah pelit memberi uang saku tambahan dari kantong pribadi Beliau kepada seluruh staf rektorat. Beliau ingin menghargai  orang sesuai dengan beban kerjanya. Beliau juga sangat disiplin dan berkomitmen tinggi dalam bekerja. Tak pernah sekalipun Beliau datang kesiangan atau pulang lebih awal. Selalu saja di pagi hari jam 07.00 Beliau sudah berkantor, dan baru meninggalkan kantor hingga sore hari jam limaan di saat kampus mulai sepi.

Hal yang masih terngiang di telinga saya adalah Beliau sering mengatakan ke saya, “Mas Parto, Anda itu bukan staf biasa, Anda itu disiapkan untuk menjadi dosen.” Inilah empati Beliau yang seolah ingin memastikan agar saya tak perlu tertekan dengan tugas administratif ini karena ini bukan tugas pokok saya. Di samping itu, saya juga melihat bahwa Beliau orang yang mampu menggerakkan aspek organisasional, operasional, struktural, dan kemitraan strategis yang luar biasa. Meski berada di luar negeri, tak jarang Beliau menelepon para wakil rektor dan kepala biro terkait tugas keseharian di kampus. Beliau tak ingin melepas tanggung jawab meskipun saat itu Beliau sedang sangat sibuk melaksanakan kegiatan di luar negeri sekalipun. Sepulang dari luar negeri, tak berapa lama kemudian ada kunjungan balasan dari beberapa institusi dari luar negeri tersebut yang ingin membangun kerjasama dengan IAIN Jakarta. Dalam berkomunikasi, Pak Edy adalah sosok yang mau mendengar ide-ide segar; Beliau mau mendengar usulan-usulan pihak lain untuk pengembangan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, meski itu usulan berasal dari salah seorang bawahannya.

Hal yang selalu saya ingat adalah saat Beliau merasa lelah dan terlihat duduk di dalam kantor sembari bersandar di kursi di suatu siang. “Bapak, apa kabar?”, tanya saya sambil menaruh koran The Jakarta Post dan Kompas, dua surat kabar langganan kantor rektorat di atas mejanya. Sambil tersenyum Beliau menjawab, “Saya ini punya diabetes, sehingga kadang saat gula naik, maka saya merasakan sangat lelah.” Saya tertegun mendengar kalimat Beliau. Ada sebuha kekawatiran dalam hati saya. Saya tahu bahwa saat itu Beliau baru saja tiba dari luar negeri, namun tak membiarkan dirinya rehat terlebih dahulu. Kebiasaan Beliau adalah bila pulang dari bepergian, jika masih di jam kerja, selalu saja menyempatkan ke kantor terlebih dahulu. Seolah Pak Edy tak ingin waktu itu dibuang percuma tanpa manfaat dalam kehidupan ini. Melihat kondisi demikian, dengan polosnya saya berbicara, “Kalau Bapak kurang sehat, sebaiknya Bapak rehat dulu di rumah.”. Seolah tak suka cara pandang saya, Beliau tegas mengatakan, “Anda ini aneh. Ya gak bisa lah istirahat. Banyak yang harus saya kerjakan.” Di situlah saya sadar bahwa Pak Edy adalah sosok yang memiliki komitmen luar biasa dalam menjunjung amanah.

Orang mungkin mengenalnya “workaholic”, namun saya memahaminya bahwa Pak Edy siap menggenggam Amanah apapun resikonya. Baginya pekerjaan adalah amal untuk berbuat yang terbaik. Beliau sempat menyampaikan banyaknya intelektual yang tak mau kritis terhadap permasalahan sosial. Menurutnya, banyak kaum cendikiawan yang sudah terlalu nyaman dengan posisi dan jabatannya, sehingga daya nalar dan kritis itu seolah lenyap. Kepedulian ini lah yang mewarnai pemikiran-pemikiran kebangsaan Beliau dalam merespon persoalan-persoalan kontemporer. Sebagai sosok yang memiliki sisi “leadership” dan “managerial skills”, Beliau adalah sosok yang “valuing people” (menghargai orang), “humility” (kerendahan hati), “communicative” (komunikatif), “listening” (mau mendengar), “caring” (penuh perhatian) dan “down-to-the earth” (membumi); karakter pemimpin yang saat ini sangat jarang saya temui.

Mengantar IAIN Menjadi UIN

Saya menyaksikan bagaimana Beliau memimpin dan bersama dengan pimpinan lainnya mengantar IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta bertransformasi menuju “world class university” dan “research university” dalam wadah Universitas Islam Negeri. Awal tahun 2000 – 2002 adalah sebuah perjuangan berat yang menandai babak baru perkembangan perguruan tinggi keagamaan Islam menjadi perguruan tinggi yang diperhitungkan. Saat itu banyak rektor PTKI berseloroh bahwa anggaran APBN untuk satu IAIN itu sama dengan anggaran satu fakultas di perguruan tinggi umum negeri. Wal hasil IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta di bawah kepemimpinan Beliau terbukti menjadi PTKI pertama yang menjadi universitas Islam. Mimpi Beliau adalah universitas Islam di Indonesia harus menjadi wadah integrasi ilmu di mana ilmu agama mampu menjadi penyangga pengembangan ilmu-ilmu “sekuler”. Integrasi keislaman, keindonesiaan, dan keilmuan adalah visi yang selalu Beliau sampaikan di banyak forum. Beliau menebarkan optimisme dunia akademik, bahwa perguruan tinggi ideal adalah perguruan tinggi yang mampu mengembangkan keilmuan modern yang dijiwai oleh nilai-nilai Islam dalam konteks keindonesiaan. Visi Beliau sangat jelas bahwa perguruan tinggi keagamaan jangan menjadi perguruan tinggi marjinal yang hanya dipandang sebelah mata oleh orang Islam sendiri. Inilah komitmen konkrit keislaman dan keindonesiaan Beliau dalam mengembangkan perguruan tinggi Islam.

Di UIN Jakarta lah kali pertama fakultas-fakultas umum lahir dengan sukses, semisal Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan, Fakultas Sosial dan Ilmu Politik, dan Fakultas Psikologi; fakultas-fakultas yang dulunya “tabu” dihidupkan di dalam lingkungan perguruan tinggi Islam. Di era Beliau lah sejarah pertumbuhan PTKI menorehkan tinta emas perkembangan perguruan tinggi keagamaan Islam di Indonesia. Pandangan Beliau tentang pengembangan perguruan tinggi selalu konsisten hingga akhir hayat Beliau. Saya kutip satu kalimat yang tertulis dalam makalah Beliau yang semestinya dibentangkan kemarin, ” … pendidikan tinggi khususnya harus dikembangkan tidak hanya menjadi sekadar “teaching higher institution”—atau universitas pengajaran—tetapi sekaligus menjadi “research institution”. Proses pendidikan di perguruan tinggi sudah waktunya berbasiskan riset (research-based education)”. Perubahan IAIN Syarif Hidayatullah menjadi UIN Syarif Hidayatullah ini kemudian ditiru oleh hampir seluruh PTKIN se Indonesia. Di samping lahirnya fakultas dan program studi umum di UIN ini, infrastruktur pendukung dan gedung-gedung megah di kampus 1 dan kampus 2 adalah sebagian dari “legacy” yang Beliau tinggalkan. Saat Beliau menjabat Direktur Sekolah Pascasarjana, Program Studi Pengkajian Islam dibangun begitu semarak dengan berbagai pendekatan dan konsentrasi peminatan. Konstruk kebijakan yang inovatif dirumuskan bersama dengan tim yang handal yang diketuai oleh Prof Suwito.

Menabur Motivasi

Suatu hari di bulan September 2002, saya meminta izin Beliau agar saya diperbolehkan meninggalkan pekerjaan kantor untuk mengikuti program SEASREP di Universitas Kebangsaan Malaysia di Bangi-Selangor. Hal ini bermakna bahwa saya harus undur diri dari posisi jabatan saya waktu itu. Di luar dugaan, respon Beliau sangat luar biasa. Beliau tak keberatan jika saya melanjutkan pengalaman di luar negeri dan meninggalkan pekerjaan saya. Di beberapa kesempatan lain, Beliau mengusahakan agar saya mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan studi S3 ke luar negeri. Suatu hari saya pernah diminta Beliau untuk mendaftarkan diri pada sebuah beasiswa milik pemerintah Perancis, hingga akhirnya saya sempat mengambil kursus Bahasa Perancis yang dibiayai oleh IAIN atas rekomendasi Pak Edy di CCF Salemba selama tiga bulan. Di lain hari saya sempat dipanggil Beliau untuk bisa menggantikan seseorang yang kebetulan undur diri dari beasiswa S3 di McGill University. Saya mendengar sendiri saat itu Beliau berbicara melalui sambungan telepon dengan seseorang untuk mengusulkan saya berangkat ke McGill. Beliau selalu memotivasi saya agar tak menyerah mencari beasiswa.

Di awal tahun 2003 atas rekomendasi Pak Edy, saya mendapatkan beasiswa Australia Asia Award (AAA); beasiswa yang hanya menyediakan dua kursi saja, yakni satu untuk mahasiswa S3 dan satu untuk mahasiswa S2. Saat saya menyampaikan kabar bahwa saya mendapatkan beasiswa S3 tersebut, dengan muka ceria Pak Edy menepuk-nepuk punggung saya, “Selamat ya Mas Parto. Luar biasa…selamat…selamat.” Saya terharu betapa Pak Edy begitu ikhlas mendukung siapa pun yang ingin sukses studi. Beliau senang bahwa rekomendasinya menjadi wasilah bagi nasib baik orang lain. Tak terhitung berapa banyak orang yang ditolong melalui rekomendasi Pak Edy. Kebijakan rektor yang dinilai kontroversial waktu itu adalah, rektor tidak merekomendasikan dihapusnya tunjangan dosen yang tugas belajar. Meski Beliau disalahkan oleh bagian keuangan, Beliau berdalih bahwa uang tunjangan dosen harus tetap diberikan mengingat adanya keluarga yang ditinggalkan di Indonesia. Pandangan Beliau ini jelas merupakan wujud sisi kemanusiaan yang begitu tinggi.

Selamat jalan Pak Edy…. Tuhan menjemputmu di pintu surga yang penuh rahmat. Tulisan sederhana ini semoga menjadi ikhtiar untuk menyebut amal shalih Pak Edy.

Share This