Gedung Rektorat, BERITA UIN Online— UIN Jakarta dan Universitas Islam Indonesia (UII) bakal segera merealisasikan kemitraan riset yang melibatkan kalangan dosen penelitinya. Selain sains dan teknologi, kegiatan riset kedua universitas bakal menyasar wilayah humaniora.

Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) UIN Jakarta Dr Ali Munhanif kepada BERITA UIN Online, Jumat (3/2/2018), menjelaskan, percepatan realisasi kemitraan sudah menjadi komitmen kedua universitas. “Tadi juga sudah kita presentasikan ke Pak Rektor tentang tema-tema riset yang akan diusulkan dikerjasamakan,” ungkapnya.

Ali menambahkan, sebagian besar tema-tema riset yang diusulkan adalah riset di bidang sains dan teknologi. Selain tujuan pengembangan keilmuan, tema-tema riset sains dan teknologi didorong guna menghasilkan produk siap pakai dan berbasis hak cipta.

Namun, imbuhnya, beberapa tema riset humaniora juga cukup menarik untuk dikerjasamakan seperti usulan riset indeks kota paling Islami. “Rencananya, tema ini akan mengukur mana kota paling Islami di Indonesia berdasar variabel yang bisa dipertanggungjawabkan,” jelasnya.

Ali menambahkan, akselerasi realisasi kemitraan riset ini merupakan tindak lanjut kesepakatan kedua lembaga untuk berkerjasama melakukan kemitraan riset (joint research). Diketahui, pimpinan kedua universitas menandatangani nota kerjasama di Gedung Mohammad Hatta, Kampus Terpadu UII, Yogyakarta, Rabu (4/10/2017). Penandatanganan dilakukan langsung Rektor UIN Jakarta Prof. Dr. Dede Rosyada MA dan Rektor UII Nandang Sutrisno, SH., M.Hum., LLM., Ph.D.

Saat itu, Rektor mengungkapkan, nota kesepahaman dengan UII merupakan bagian dari ikhtiar UIN Jakarta mengembangkan aktifitas risetnya. Pengembangan riset terutama diperlukan pada bidang-bidang keilmuan seperti kedokteran dan kedokteran masyarakat, sains dan teknologi, kimia dan ilmu-ilmu eksakta, biologi dan ilmu-ilmu alam, dan ekonomi.

Sebagai Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri, sambungnya, kekuatan UIN Jakarta adalah di bidang ilmu-ilmu humaniora. Namun seiring transformasi sekaligus dorongan integrasi Islam dan ilmu pengetahuan sejak tahun 2000, UIN Jakarta dituntut untuk memperkuat bidang sains dan teknologi.

“Di sisi humaniora, UIN Jakarta leading. Namun di sisi science. Kami belum punya branding. Maka untuk itu, kami menilai perlu melakukan kerjasama, salah satunya dengan  UII,” papar rektor.

Komitmen pengembangan riset bidang sains sendiri, lanjut rektor, telah ditempuh UIN Jakarta dengan memperbesar alokasi hibah riset hingga Rp 30 miliar per tahun. Hanya saja untuk memperkuat kapasitas riset dan mengoptimalkan hasilnya, UIN Jakarta dinilai perlu menjalin kerjasama riset dengan perguruan tinggi terbaik, dalam dan luar negeri.

Di tepi lain, Nandang menyambut baik keinginan kerjasama riset UIN Jakarta. Ia berharap kerjasama bisa melengkapi bidang ilmu masing-masing perguruan tinggi. “Tentu dalam kerjasama ini diharapkan kedua institusi bisa saling mengambil manfaat, saling mengisi sehingga bisa bersama-sama mencapai kemajuan,” harapnya. (farah nh/yuni nurkamaliah/zm)

Share This