Gedung FITK, BERITA UIN Online– UIN Jakarta menjadi PTKIN (Perguruan Tinggi Keislaman Negeri) pertama yang menerapkan Program PLP (Pengenalan Lapangan Persekolahan) pada 2018 ini. Demikian disampaikan Sekretaris Lab FITK UIN Jakarta Dindin Ridwanudin MPd saat sosialisasi Program PLP pada acara Rapat Dosen PAI di Ruang Sidang FITK lt 2, Senin (3/8/2018).

“Ini merupakan amanat dari Permen Ristek Dikti No 55 Tahun 2017 tentang Standar Pendidikan Guru, maka sebagai LPTK (Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan), FITK perlu segera melakukan rekonstruksi pendidikan baik pada Program Sarjana Pendidikan maupun Program PPGn (Program Pendidikan Profesi Guru),” ujar Dindin.

Mengakomodir Permen tersebut, lanjut Dindin, FITK membuat pedoman PLP berdasarkan hasil ijtihad sendiri dari pelaksanaan PPKT (Praktik Profesi Keguruan Terpadu) pada tahun-tahun lalu, walaupun pada akhirnya pedoman dari Dirjen Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa) yang digunakan.

“Dari acuan pedoman Belmawa dikombinasi dengan pedoman FITK, tahun ini kita sudah siap untuk melaksanakan PLP perdana dan UIN Jakarta menjadi kampus PTKIN pertama yang melaksanakannya, kampus lain masih belum siap,” imbuh Dindin.

Ditambahkannya, PLP ini lebih fokus pada aspek pengajaran dan menghilangkan aspek penelitian dan pengabdian, berbeda dengan program sebelumnya, yaitu PPKT yang mengakomodir semua Tri Darma Perguruan Tinggi.

“Penelitian diwacanakan masuk ke dalam matakuliah setelah pelaksanaan PLP, sementara program pengabdian masuk ke dalam program KKN kampus yang sudah dilaksanakan sebelumnya, jadi ada slotnya masing-masing,” paparnya.

Untuk pelaksanaan kegiatan ini, lanjutnya, akan dilaksanakan selama 2 bulan lebih, yaitu PPL 1 dilaksanakan selama 2 minggu untuk mengenal budaya sekolah dan PPL 2 dilaksanakan selama 2 bulan untuk pengajaran dan administrasi guru.

Pada kesempatan yang sama, Kepala Lembaga Penjaminan Mutu (LPM) UIN Jakarta Dr Sururin MA yang hadir pada acara tersebut menambahkan, program pengadaan guru yang diselenggarakan LPTK meliputi pendidikan akademik atau Program Sarjana Pendidikan dan PPG.

“Program ini untuk memperkuat jati diri calon pendidik dan untuk membentuk kesiapan sebagai calon pendidik,” ujar Sururin.

Dari kerangka pikir tersebut, lanjutnya, dapat dinyatakan bahwa penyiapan guru profesional harus disiapkan mulai jenjang akademik, baik pada tataran kampus maupun pengenalan lapangan sedini mungkin di sekolah.

Hal ini menurutnya, dimaksudkan agar sedini mungkin calon pendidikan memahami, mengetahui, menghayati, menjiwai, dan memiliki kemampuan kritis dan analitis terhadap profesinya kelak.

“Untuk itulah, seluruh mahasiswa Program Sarjana Pendidikan wajib mengikuti tahapan pemagangan penyiapan calon guru profesional melalui PLP,” pungkas dosen Psikologi Agama FITK UIN Jakarta itu. (mf)

Share This