Auditorium Utama, BERITA UIN Online— Buku sejarah Mangkunegara I atau Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara I, Soul Catcher: Java’s Fiery Prince Mangkunagara I, 1726–1795, karya  M.C. Ricklefs, diluncurkan untuk pertamakalinya di Indonesia di Ruang Auditorium Utama UIN Jakarta, Rabu (26/9/2018). Peluncuran buku dihadiri mahasiswa dan sarjana murid M.C. Ricklefs di Indonesia dan diikuti Ricklefs sendiri melalui sambungan video daring.

Peluncuran buku sekaligus diskusi tentang sejarah dan kiprah pemegang Tahta Mangkunegaran paling pertama digelar Divisi Riset Social Trust Fund bekerjasama dengan Fakultas Adab dan Humaniora UIN Jakarta. Diskusi yang dipandu Dr. Amelia Fauzia dan Dr. Fuad Jabali menghadirkan narasumber Sejarawan Peter Carey dan dua Guru Besar UIN Jakarta Prof. Azyumardi Azra dan Prof Oman Fathurrahman.

Dalam paparannya, Azra mengungkapkan, selain sebagai ahli strategi perang Jawa, Mangkunegara I berperan memulai pembentukan pranata sosial Islam di Jawa. Pada masa kekuasaan Pangeran Samber Nyawa inilah, jumlah pesantren di Jawa bertambah dari 5000 pesantren di tahun 1882 menjadi 11.000 pesantren di tahun 1893.

“Bisa dikatakan, pada masa kepemimpinannya ini dimulai pembentukan pranata Islam di Jawa,” tuturnya.

Kondisi demikian, jelasnya bisa dilihat dari dua hal. Secara kepribadian, Mangkunagara I merupakan muslim Jawa yang saleh. Selain mencintai kebudayaan Jawa, ia juga menjalankan rukun Islam, bahkan tergabung dalam Tarekat Syatariyah.

Di sisi lain, sejarah keilmuan Islam Jawa di periode kepemimpinannya banyak ditandai dengan kepulangan sejumlah ulama penting dari tanah suci untuk mengajar Islam di Jawa. Diantaranya seperti Syaikh Khalil Bangkalan-Madura, Syaikh Saleh Darat-Semarang, Syaikh Mahfud Tarmasi, Ahmad Rifai Kalisalak, Syaikh Nawawi al Bantani.

Laman https://puromangkunegaran.com mencatat, Mangkunegara I atau Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara I merupakan pemegang tahta tahta pertama sejarah Mangkunegaran. Ia lahir di Kartasura (7 April 1725) dengan nama Raden Mas Said dari pasangan Pangeran Arya Mangkunegara dan Raden Ayu Wulan.

Sebagai ahli strategi perang, Mangkunegara I tercatat melakukan peperangan melawan Kongsi Dagang Belanda VOC, maupun penguasa lokal yang mengancam kedaulatan politiknya. Selama hampir 16 tahun, Mangkunegara I memimpin pasukannya melakukan pertempuran sebanyak 250 kali.

Saat berjuang melawan VOC, Mangkunegara I mendapat julukan Pangeran Samber Nyawa atas kemampuannya memenangkan peperangan.Untuk meningkatkan moral pasukannya, Mangkunegara I memiliki semboyan Tiji Tibèh, kependekan dari mati siji, mati kabèh (gugur satu, gugur semua) dan mukti siji, mukti kabèh (sejahtera satu, sejahtera semua).

Selain ahli strategi perang, Mangkunegara I juga pencipta seni tari. Beberapa tarian sakral yang diciptakan Mangkunegara I, antara lain: Bedhaya Mataram Senapaten Anglirmendung, Bedhaya Mataram Senapaten Diradameta, dan Bedhaya Mataram-Senapaten Sukapratama. Tari- tarian itu diciptakan untuk memperingati perjuangan Mangkunegara I di medan perang.

Mangkunegara I bertahta selama kurang lebih 40 tahun. Pada tanggal 23 Desember 1795  beliau wafat. Pada tahun 1983, Pemerintah Republik Indonesia mengangkat Mangkunegara I sebagai pahlawan nasional dan mendapat penghargaan Bintang Mahaputra karena jasa-jasa kepahlawanannya.

Sementara itu, dari sambungan media daring, Ricklefs mengapresiasi peluncuran sekaligus bedah buku yang ditulisnya. Ia berharap karyanya bisa lebih memperkaya dinamika kajian tentang Islam dan kebudayaan Jawa. “Terima kasih, semoga ini bisa menjelaskan peranan kesejarahan Mangkunegara I sekaligus memperkaya dinamika kajian tentang Islam dan Jawa,” paparnya.

Diketahui, Rickelfs merupakan sejarawan kontemporer Australia yang banyak menaruh perhatian risetnya tentang Islam dan Jawa. Tiga diantaranya A History of Modern Indonesia since c. 1200 (1981), The Seen and Unseen Worlds in Java, 1726–1749, Mystic Synthesis in Java, Polarising Javanese society, Islamisation and its Opponents in Java. (farah nh/yuni nk/zm)

Share This