Abdul Karim al-Jili adalah seorang ulama dan sufi besar di abad 14 Masehi. Ia lahir di Baghdad, tepatnya di kota Jilan (atau Kilan) pada 767 H/sekitar 1365-6 M, namun, sejak usia kanak-kanak ia telah dibawa oleh orangtuanya berimigrasi ke Yaman, tepatnya di kota Zabid. Di kota inilah al-Jili mendapatkan pendidikannya sejak dini, menjalani kiprah ilmiahnya, hingga mengantarkannya kepada posisi tertinggi sebagai ulama-sufi Yaman dengan gelar Qutb al-Din (Poros Agama), suatu gelar tertinggi dalam hirarki kaum sufi, suatu gelar bukan main-main. Lewatlah kalau ustadz-ustadz atau kyai masa kini.

Karyanya yang terkenal adalah al-Insan al-Kamil fi Ma’rifat al-Awail wal Awakhir. Sejak menjalani kiprah keulamaannya, al-Jili sempat berkelana ke beberapa negeri untuk memperkaya cakrawala keilmuan dan pengalamannya. Ia pernah berkunjung ke Irak, Persia (Iran), India, Mekkah, Kairo, Gaza (Palestina), hingga akhirnya kembali menetap di kota Zabid dan meninggal di sini pada 826 H.

Dalam Kitab al-Insan al-Kamil, selain membicarakan komunitas agama-agama (kaum kafir, kaum naturalis, para filusuf, kaum Manichean (Dualis), kaum Majusi, kaum materialis, kaum Brahmana Hindu, kaum Yahudi, kaum Nasrani, dan kaum Muslim), Al-Jili juga mendiskusikan 8 tingkatan surga: surga as-Salam, surga al-Khuldi atau al-Makasib, surga al-Mawahib (anugerah), surga an-Naim, surga Firdaus, surga Fadhilah, surga Rofiah, dan surga al-Maqam al-Mahmud.

Yang menarik adalah pandangan spiritual dia tentang surga anugerah (jannat al-Mawahib). Al-Jili melihat/menyaksikan (ru`ya, secara spiritual) sebagian besar penghuni surga ini berasal dari macam-macam agama, kepercayaan dan keyakinan (non-Islam) yang beragam. Mereka semua masuk surga disebabkan rahmat-Nya. Jika surga-surga yang lain didapat oleh umat nabi Muhammad SAW karena amal salih yang banyak, maka surga anugerah ini betul-betul “pemberian” dari Tuhan untuk semua pemeluk agama dan keyakinan.

Surga anugerah ini menurut al-Jili, selain karena firman Tuhan sendiri yang menyebut bahwa kasih sayang-Nya meliputi segala sesuatu, lebih luas dan lebih agung dari murka-Nya, juga diisyaratkan oleh hadis Nabi Muhammad bahwa ada satu surga yang dipersiapkan untuk manusia memasukinya tetapi bukan sebagai balasan karena amalnya. Surga itu dirancang oleh Tuhan semata-mata untuk menunjukkan rahmat-Nya bagi semua pemeluk agama, kepercayaan dan keyakinan yang beragam. Bahkan surga anugerah itu disebut oleh al-Jili sebagai surga yang paling besar dan paling luas dibanding tujuh surga lainnya (Hadzihil jannah aktsarul jinan wa awsa’uha).

Menurut Al-Jili, tidak semua memang dari beragam agama dan keyakinan itu yang masuk surga tersebut, tetapi ada sekelompok (tha’ifah) dari tiap-tiap dari agama dan keyakinan itu yang mewakili mereka masing-masing.

Bahkan melalui visi spiritualitasnya (ru`ya: penglihatan spiritual, bukan mimpi) al-Jili melihat Plato berada dunia gaib (surga) dengan cahaya dan kedudukannya sangat tinggi, sehingga termasuk dalam sedikit kelompok para wali yang memiliki derajat seperti itu. Padahal selama di dunia, kata al-Jili, banyak teolog menilai Plato sebagai tidak beriman alias “sesat” dan “kafir”.

Jika elit-elit agama dan umat masa kini bertengkar berebut kavling surga sebagai hanya milik kelompok masing-masing, al-Jili, ulama abad 14 silam punya pandangan dan visi relijius yang jauh “lebih maju” dari (konon) manusia2 modern. (mf)

Dr Media Zainul Bahri MA, Dosen Program Studi Agama-agama Fakultas Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Share This