Catatan atas “Defending The West: A Critique of Edward Said’s Orientalism” (2007)

Mendengar nama Edward Said adalah membayangkan ‘imortalitas’ Orientalisme. Keduanya seperti tak terpisahkan. Said bukan semata penulis dan intelektual Amerika asal Palestina, tetapi ia sudah jadi raksasa, sudah jadi ideologi. Edward Said, melalui Orientalisme, telah jadi Saidisme. Orientalisme Said persis Religion of Java-nya Geertz. Dipuja banyak orang lalu jadi patung yang kokoh. Meskipun dikritik, dihajar, ditelanjangi, dan dibedol anatomi kelemahan bagian per bagian dari isi patung emas itu oleh banyak sarjana sesudahnya, namun patung itu seolah tetap agung.

Salah satu magnet Orientalisme ketika terbit pertama kali di planet bumi ini, sebagian warga dunia seolah baru sadar bahwa Barat itu jahat dalam memperlakukan Timur! Bukan hanya orang-orangnya, tapi struktur kekuasaan, budaya, episteme dunia akademiknya dan seterusnya dan seterusnya.

Bagi Said, Orientalisme kayaknya adalah representasi keseluruhan dirinya, jiwa raganya sebagai manusia Timur sekaligus Barat. Bagi Said, Orientalisme bukan semata pikiran dan mental orang-orang Barat yang memandang dunia Timur dalam tiga hal penting: (1) sebagai kajian akademik; (2) sebagai model pemikiran (style of thought) yang didasarkan atas distingsi epistemologis dan ontologis yang sengaja dibuat antara Timur dan Barat; dan (3) sebagai jenis pengetahuan Barat yang bertujuan mendominasi, merestrukturisasi, dan mendatangkan kekuasaan atas Timur, bukan sekedar itu!

Bagi Said, Orientalisme juga memori personal; adalah potret dirinya dan bangsanya yang pernah dijajah Inggris, lalu setelah dewasa ia ditakdirkan “dikutuk” menjadi orang Palestina yang hidup di dunia Barat, dimana ia dijadikan tawanan oleh ideologi-ideologi yang tidak “mengizinkannya” mempelajari Orientalisme. Tetapi dengan bekal pendidikan formal dalam bidang sastra dengan segala seluk beluknya, sikap kritisnya terus berkembang, hingga ia berhasil “menginventarisasi jejak-jejak” seluruh kebudayaan yang bertarung dalam dirinya. Istilah “inventaris” (inventory) ia pinjam dari filusuf politik Italia, Antonio Gramsci.

Akhirnya, bagi Said, Orientalisme tidak hanya “kesadaran kritis” yang menggunakan instrumen-instrumen penelitian historis, humanistik dan kultural yang dilakukan Said tentang Barat yang “memproduksi” Timur, tetapi juga Orientalisme adalah self-criticism: kesadaran kritis tentang diri-sendiri: mengapa kita inferior dan dibuat inferior? Mengapa mereka berhasil mengatur dan mendefinisikan kita? Mengapa mereka membuat kita menjadi objek tentang diri kita sendiri, padahal kita subjek, bukan?

Tetapi, benarkah Barat adalah sosok antagonis untuk dunia Timur? Benarkah keseluruhan usaha-usaha Barat untuk memahami Timur semata demi kekuasaan dan kolonialisasi? Benarkah Barat itu “imperialis, rasis dan jahat?” Benarkah apa yang diimajinasikan Said tentang “Barat” itu monolitik?

Kini muncul penantang Said yang sama-sama dari Timur: Ibn Warraq melalui karyanya, Defending The West: A Critique Of Edward Said’s Orientalism (2007). Hati-hati, Ibn Warraq ini “gila dan sadis”, dalam arti sikap kritis dan keseriusannya menelanjangi paragraf demi paragraf objek yang dikajinya.

Seperti halnya Said yang mungkin “dendam” dengan Barat, Ibn Warraq ini juga “sebal” dan “muak” dengan keluarga besar dan komunitasnya yang Muslim di Pakistan sana, yang ia anggap bertentangan dengan kemanusiaan dan ilmu pengetahuan. Ia menemukan “hidup” di Barat. Karena “kecewa berat” dengan perilaku Muslim yang ia saksikan, ia keluar dari Islam alias murtad.

Saya belum berani membaca karya-karya kritisnya seperti Why I am not a Muslim? Leaving Islam, The Quest for the Historical Muhammad, dan lain-lain, yang oleh para sarjana dan kritikus Barat dipuji-puji sebagai seorang “anak manusia yang jujur dengan hati nuraninya dan setia kepada kebebasan intelektualitasnya.” Tetapi dengan Defending the West ini segera saya tertarik. Dalam bab 2 dan bab 3 saja Warraq membuat 20 tema/topik kesalahan-kesalahan serius Said, apakah data dan informasi yang tidak akurat dan tidak komprehensif, atau kekeliruan rekonstruksi, perspektif dan kesimpulan (opini) Said sendiri. Semua dipreteli Warraq.

Saya hanya akan mendiskusikan empat topik utama: Pertama, soal Said yang anti Barat. Menurut Warraq, dalam sebuah pernyataan yang jujur pada 1994, Said menolak dituduh sebagai anti Barat dan bahwa fenomena Orientalisme adalah sebagian saja dari keseluruhan Barat. Said mengklaim tak ada konsep atau definisi yang tetap apa itu Orient (Timur) dan Occident (Barat) sebagaimana juga tidak ada realitas Timur yang abadi dan esensi Barat yang abadi. Said juga tidak tertarik, karena kurang punya kapasitas, untuk menunjukkan apa itu sesungguhnya Orient dan Islam.

Tetapi menurut Warraq, bagi orang yang telah selesai membaca Orientalisme, dia akan memiliki pemahaman yang cukup bahwa Said memang anti Westernisme (ide-ide tentang Barat). Lagi pula, keseluruhan polemik Said dalam Orientalisme memang muncul dari Said sendiri yang sudah mengkontraskan (kutub yang berlawanan) antara Timur dan Barat, Orient dan Eropa, Amerika dan non-Amerika, yang ia rekonstruksi sendiri secara vulgar dan “kasar”.

Said misalnya membuat karakterisasi tentang semua orang Eropa, katanya “Memang benar bahwa semua orang Eropa, ketika ngomongin soal Timur (Orient), pada gilirannya akan rasis, imperialis dan hampir etnosentris”. Dengan kata lain, menurut Warraq, semua orang Eropa tidak hanya rasis tapi “seharusnya memang menjadi rasis”.

Dalam beberapa kesempatan Said juga mengaku bahwa ia anti-essensialis, tapi dalam banyak tulisan dan kutipan-kutipan yang ia buat justru menunjukkan bahwa ia adalah seorang essensialis. Kritikus Keith Windschuttle menyebut bahwa Said mengutuk pandangan-pandangan esensialisme, tapi jika melihat jeli tulisan-tulisannya terlihat jelas kalau Said ternyata seorang esensialis dan a-historis.

Said, lanjut Warraq, mengabaikan banyak data/fakta penting bahwa tidak sedikit pemikir, penulis, dan sarjana Eropa mulai abad ke-16 yang mendiskusikan tema tentang “para bangsawan yang biadab” sebagai alat/medium untuk mengkritik kebudayaan mereka sendiri dan mendorong Bersikap toleran terhadap budaya non-Barat (Eropa).

Seorang kritikus tajam abad 16 terhadap para bangsawana biadab itu adalah Peter Martyr Anglerius. Dalam karyanya De Orbe Novo (1516) peter mengkritik keras para aristocrat penakluk Spanyol sebagai “orang-orang yang rakus, sempit pikiran, intoleran, kasar, angkuh”. Said juga, kata Warraq, mengabaikan pandangan-pandangan yang simpatik tentang Islam dari Voltaire dan Edward Gibbon, dua raksasa pemikir, filusuf dan sejarawan Eropa abad 16 dan 17. Voltaire menemukan ajaran Islam tentang Tauhid (Tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah) sebagai ajaran yang simpel, yang pada gilirannya mengajarkan tidak ada sistem kependetaan, tak ada mukjizat dan misteri yang berlebihan, dan Islam mendorong toleransi terhadap agama-agama lain. Hal ini kontras dengan Kristen (masa itu) yang tiran, eksklusif dan intoleran.

Seperti halnya Voltaire, Gibbon juga melukiskan Islam sebagai cahaya terang yang kontras dengan kekristenan. Gibbon menegaskan kemanusiaan Muhammad sebagai kritik atas doktrin pokok Kristen tentang ketuhanan Yesus. Gibbon sebagai pemikir anti kependetaan menunjuk Islam sebagai agama rasional, anti lembaga kependetaan dan bebas dari struktur masyarakat kelas yang “terkutuk”, dengan figur sentralnya, Muhammad, sebagai pemimpin yang bijak dan adil yang sangat mempengaruhi cara pandang orang-orang Eropa tentang Islam sebagai saudara Kristen.

Mengapa para pemikir Besar Eropa abad Pertengahan ini—yang simpatik dengan Orient–luput dari mata Said? Mengapa Barat Eropa selalu dituduh negatif dalam memandang Timur? Begitu kira-kira kritik Warraq.

Kedua, salah paham (misunderstanding) Said terhadap kebudayaan Barat. Menurut Warraq, benang emas yang mengalir di dalam peradaban Barat adalah rasionalisme. Seperti yang dikatakan Aristoteles, “Manusia pada dasarnya selalu berusaha untuk tahu” (Man by nature strives to know). Usaha keras mengeksplorasi “ingin tahu” itu menghasilkan sains, dengan cara menerapkan berfikir (reason).

Keingintahuan intelektual (intellectual inquisitiveness) adalah ciri khas peradaban Barat (Eropa). Warraq merujuk kepada pernyataan J M Roberts “Jelaslah bahwa keingintahuan orang-orang Eropa dan hobi mereka berpetualang (menjelajah) telah menjadi watak yang lebih dalam daripada sekedar (kepentingan) ekonomi, suatu keadaan yang penting sejauh keberadaan mereka. Ini bukan sekedar “kerakusan” yang membuat orang-orang Eropa pergi jauh menjelajah dunia. Kecintaan mereka terhadap “keuntungan” (menjelajah ini) tidak terbatas pada orang-orang atau kebudayaan tertentu.

Di abad ke-16 mereka berbagi (pengetahuan dan pengalaman) dengan orang-orang Arab, India atau para pedagang Cina. Tetapi sebagian orang-orang Eropa ingin mengeksplorasi lebih jauh lagi”. Pernyataan Roberts ini sangat penting bagi Warraq untuk menunjukkan watak natural orang-orang Eropa, yang sebagian besar digambarkan negatif oleh Said.

Menurut Warraq lebih lanjut, para pengikut Marxis, Freud dan anti-imperialis, telah mereduksi aktivitas manusia yang kompleks menjadi hanya sekedar uang, seks dan kekuasaan. Mereka kesulitan dan akhirnya tidak tertarik memandang manusia sebagai makhluk yang memiliki keingintahuan intelektual yang sangat besar. Kelahiran sains, sebagai hasil dari watak ingin tahu, memang berhutang kepada dorongan manusia untuk mencari jalan keluar dari masalah, untuk mengumpulkan emas, uang dan kekuasaan, tetapi jangan lupa sains juga muncul karena hasrat/dorongan ingin tahu, ingin tahu kebenaran. Karena itulah filusuf Karl Popper menyebut kerja-kerja intelektual sebagai “pencapaian spiritual”.

Hasrat ingin tahu ini, bagi Warraq, bukan sekedar soal materi atau hasrat menaklukan manusia lain (Orient). Akhirnya ini adalah pekerjaan yang sublim. Menurut Warraq, orang seperti Said harusnya ingat bahwa hasrat orang-orang Eropa untuk ilmu pengetahuan telah menuntun orang-orang Timur Dekat untuk “menemukan kembali” masa lalu, identitas dan kebudayaan mereka. Pada abad 19 dan awal abad 20, penemuan-penemuan arkeologis yang sangat penting di Mesopotamia, Siria kuno, Palestina kuno, Iran dan Mesir kuno, adalah hasil keringat para ilmuwan Eropa, dan Amerika belakangan. Dari sini muncullah ilmu-ilmu: Egyptologi, Asyriologi, Iranologi dan lain-lain. Apakah kerja-kerja intelektual itu harus selalu dibaca sebagai kolonialisasi dan imperialisme? Kan tidak.

Menurut Warraq, penting ditunjukkan bahwa seringkali motif, keinginan, dan prasangka seorang sarjana tidak ada hubungannya dengan nilai ilmiah dari kontribusi sarjana itu. Para pengikut Marxis misalnya, menolak argumen lawan-lawannya bukan atas dasar ilmiah atau rasional, tetapi hanya karena asal-usul sosial dari sarjana yang bersangkutan, misanya mereka kaum borjuis atau para pendukung kapitalis.

Kefanatikan Theodore Noldeke, seorang sarjana Quran dari Jerman, sudah dikenal luas, dan seringkali jadi sumber olok-olok teman-temannya. Tetapi tidak ada satu pun sarjana Islam modern yang tidak mengakui karyanya, Geschichte des Qorans. Begitu pula, kebencian Henry Lammen kepada nabi Muhammad juga sangat terkenal, tetapi seperti yang pernah dikatakan Profesor F E Peters, bahwa Lammens yang meragukan keaslian tradisi Muslim dan hubungan dekat antara Alquran dan kehidupan Muhammad, tidak pernah dibantah. Sebaliknya, menurut Warraq, seorang sarjana yang menunjukkan simpati terhadap seluruh aspek Islam juga belum tentu ia sarjana yang baik.

Dalam kasus ini, Said misalnya, mengutip pendapat Norman Daniel sembari menyatakan kesetujuannya. Tetapi kata Warraq, Maxime Rodinson mencatat bahwa Daniel bukan seorang sejarawan yang obyektif melainkan seorang apologis Islam.

Yang cukup mengherankan, bagi Warraq, adalah bahwa Said memilih Louis Massignon dengan pujian-pujian setinggi langit karena sikap simpatik Massignon terhadap Islam. Reputasi kesarjanaan Massignon memang tak diragukan. Biografi Hallaj, misalnya, pantas disebut sebagai masterpiece. Tetapi, jangan salah, kata Warraq, Massignon juga mencontohkan sifat-sifat yang oleh Said sendiri ia (sebenarnya) akan tolak dari orang lain. Orang Prancis ini (Massignon) bagi Warraq, bertanggung jawab telah mengabadikan mitos spiritual Timur sebagai lawan dari materialisme Barat. Said terus memujinya karena Massignon berhasil “mengidentifikasi suatu kekuatan vital tentang budaya Timur”, dan sebelumnya Said memberi tahu kita bahwa “Timur dinilai terlalu tinggi karena panteismenya, spiritualitasnya, stabilitasnya, umur panjangnya, sifat primitifnya, dan sebagainya”.

Massignon juga, menurut Warraq, menampilkan sifat-sifat yang tidak pantas yang tidak disebut oleh Said, yaitu anti-Semitismenya, dalam arti sentimen anti-Yahudi yang parah, suatu hal yang diakui sendiri oleh penulis biografinya. Akhirnya, bagi Warraq, Massignon sebenarnya jauh dari contoh suri tauladan spiritualitas Kristen—seperti yang dipuji-puji oleh Said— ketika salah satu ketertarikan Massignon terhadap Timur adalah karena, di dalam kota-kota di Timur itu, Massignon senang mencari para pelacur perempuan, sesuatu yang ia tidak berani lakukan di Barat yang katanya “dekaden”!

Mircea Eliade menceritakan dalam Jurnalnya, “Pada suatu malam saya makan dengan Massignon. Kami berbicara selama beberapa jam. Wow sangat fasih! Ia, selain terobsesi dengan kejantanan, lagi dan lagi membicarakan para “pelacur muda perempuan”. Akhirnya bagi Warraq, Massignon hanya siap mengeksploitasi Timur jika hal itu cocok untuknya.

Ketiga, keterlibatan kaum Orientalis dalam imperialisme. Tuduhan ini, kata Warraq, menjadi satu perhatian serius Said. Menurut Warraq, Salah satu tesis utama Said adalah bahwa Orientalisme bukan kegiatan ilmiah yang tidak memihak, tetapi sebuah upaya politis, dan kaum Orientalis sendiri memang sudah menyiapkan tanah yang subur untuk dan berkolusi dengan imperialis. Jadi, menurut Warraq, Said memang sudah “mengunci” bahwa kaum orientalis berkolusi dengan imperialis untuk kepentingan imperialisme.

“Sebelum fakta-fakta ada tentang studi Orientalisme, Orientalisme sendiri sebelumnya memang sudah membenarkan suatu model pemerintahan kolonial”, begitu kata Said. Kaum Orientalis memang sudah menyiapkan pengetahuan untuk membuat Orient (Timur) tetap terkendali. Menurut Said lagi “….semakin banyak pengetahuan yang dibutuhkan, maka semakin banyak pula kekuatan yang sangat menguntungkan untuk mengontrol”. Tesis Said ini, menurut Warraq, sesuai dengan pandangan seorang pemikir sosialis Koptik, Anwar Abdel Malek, bahwa Timur selalu dilihat oleh kaum orientalis sebagai hal yang tidak berubah, seragam/monolitik dan aneh”.

Lebih lanjut menurut Warraq, kaum Orientalis dituduh Said telah memberikan gambaran yang keliru tentang Islam: kata Said “Islam secara mendasar telah disalahpahami di Barat”. Jika dilihat secara jeli, menurut Warraq, ada beberapa hal yang aneh dan kontradiktif dengan Tesis Said sendiri. Kalau memang kaum Orientalis punya pandangan yang salah tentang Timur, Islam, Arab, atau masyarakat Arab, bagaimana bisa “pengetahuan yang salah dan palsu” ini kok mampu membantu negeri-negeri Eropa imperialis menjajah sepertiga dunia? “Informasi dan kontrol” diulang-ulang Said, tapi “informasi dan kontrol yang salah?” kok tepat sasaran..?

Menurut Warraq, dalam mendiskusikan Orientalis yang “kong-kalikong” dengan imperialisme, Said melakukan kesalahan fatal karena melupakan kontribusi besar kaum Orientalis Jerman. Seperti sudah masyhur bahwa Orientalis Jerman adalah deretan sarjana-sarjana hebat tentang dunia timur (orient), tetapi hallo, tentu saja Jerman tidak pernah menjadi penjajah, tidak pernah punya kekuasaan politik (menjajah) atas negeri-negeri di Timur, apakah Afrika Utara atau Timur Tengah, tidak pernah!

Bernard Lewis, Orientalis kenamaan yang juga mengkritik pola pikir Said, menulis, “Tidak ada waktu sebelum atau setelah zaman kekaisaran [Inggris dan Perancis], suatu kontribusi dalam (kualitas) jangkauan, kedalaman atau standar, yang bisa menandingi pencapaian pusat-pusat besar studi Timur (Orient) di Jerman dan negara-negara tetangganya. Kalau ada sejarah atau teori studi Arab di Eropa tanpa melibatkan orang Jerman itu sama artinya dengan sejarah atau teori musik atau filsafat Eropa dengan kelemahan yang sama”. Karena itu kata Warraq, apakah masuk akal bagi para orientalis Jerman yang telah menghasilkan karya-karya bermutu, ternyata hanya (digunakan) untuk membantu Inggris atau Prancis dalam membangun kekaisaran mereka? Hanya sekedar untuk itu (kekuasaan)?

Menurut Warraq, mereka yang dilupakan Said bukan sekedar tokoh pinggiran (periferal) tetapi para kreator dan raksasa sebenarnya dalam bidang/kajian Timur Tengah, Islam dan studi-studi Arab. Sebut saja sarjana-sarjana seperti Paul Kahle, Georg Kampffmeyer, Rudolf Geyer, F Giese, Jacob Barth, August Fischer, Emil Gratzl, Hubert Grimme, Alfred Von Kremer dan banyak lagi. Beberapa nama memang disebut Said seperti Theodor Nöldeke, Johan Fück, G Weil, Carl Heinrich dan Carl Brockelmann, tapi karya-karya terpenting mereka tidak didiskusikan Said secara memadai. Jangan lupa Nöldeke, pengarang Geschichte des Qorans (1860) menjadi fondasi bagi studi-studi Quran sesudahnya, dan Nöldeke dianggap sebagai pionir bersama-sama dengan Goldziher dalam studi Islam di Barat.

Menurut Warraq, bukan hanya banyak sarjana Jerman yang “dihilangkan” oleh Said tapi juga sarjana Rusia seperti Belayev dan Tolstov, sarjana Italia seperti Leoni Caetani, dan banyak sarjana Yahudi yang mengkaji Islam secara simpatik, yang tidak disebut dan diberi peringkat secara layak oleh Said.

Menurut Warraq lebih lanjut, mengargumentasikan bahwa kaum Orientalis Prancis dan Inggris, entah dengan cara bagaimana, menyiapkan lahan bagi kaum imperialis adalah mendistorsi (mengubah) sejarah secara serius. Kursi pertama (the first chair) untuk studi Arab di Prancis didirikan pada 1538, sedangkan ekspansi Prancis pertama ke Arab melalui Napoleon dimulai tahun 1798.

Di Inggris, kursi pertama untuk studi Arab didirikan pada 1633 di Cambridge, namun serangan Inggris pertama ke wilayah Arab menjelang abad kesembilan belas. Jadi kata Warraq, dimana letak keterlibatan Orientalis dengan kaum imperialis? Ketika dua kursi studi Arab dimulai di Barat, saat itu kaum Muslim sedang menguasai wilayah Mediterania, sementara negeri-negeri di Balkan di bawah kekuasaan Turki Utsmani. Sekali lagi, bagaimana menghubungkan Orientalisme sebagai studi di abad 16 dengan imperialisme Eropa di abad 18 dan 19?

Hal lain yang cukup fatal dilakukan Said adalah mereduksi Goldziher, seorang orientalis Jerman paling penting dari semuanya. Goldziher hanya diceritakan oleh Said dalam tiga baris saja, sementara Henry Kissinger mendapat tiga halaman dalam Orientalisme Said. Menurut Warraq, mustahil menutupi peran Goldziher dalam merintis studi Islam di Eropa. Karya Goldziher Muhammadanische Studien (1888-89) dan karya-karyanya yang lain “meliputi, secara luas, keseluruhan tradisi literal dan budaya Arab Islam, menyangkut sejarah teks, ushuluddin, hadis, fikih, tafsir, syair-syair, sastra, linguistik Arab dan lain-lain, yang memperkaya cakrawala sejarah dan kebudayaan dunia Arab sendiri, sebelum dan sesudah Goldziher”.

Bagi Warraq, tak berlebihan jika disebut bahwa teman-temannya (dan kaum Orientalis Eropa) terpukau oleh Goldziher. Sebelumnya, Said menyebut pengaruh besar Orientalis Silvestre de Sacy kepada Ernest Renan, dan dua raksasa Orientalis Prancis ini kemudian mempengaruhi secara umum para Orientalis Eropa dalam studi teks, mitos, bahasa, teknik analisis dan lain-lain, termasuk Goldziher. Tetapi Goldziher kata Warraq, tidak pernah dipengaruhi oleh de Sacy, Renan atau Orientalis Prancis mana pun. Goldziher, kata Warraq, secara meyakinkan, dipengaruhi oleh Abraham Geiger, seorang Yahudi di masa Pencerahan, dan oleh Moses Mendelssohn dan Immanuel Kant.

Goldziher, lanjut Warraq, seorang sarjana yang tidak hanya konsisten menjaga onjektivitasnya, tetapi juga seorang pengamat yang simpatik terhadap dunia Islam. Dia sering mengkritik Westernisasi dan pengaruh (negatif) Barat atas Timur Dekat. Dia secara khusus juga “membenci” para misionaris Kristen dan tak ada sikap simpati bagi Zionisme. Goldziher terpukau dengan nilai-nilai Pencerahan, dan merasa bahwa wawasannya tentang Islam sama-sama relevan bagi orang Yahudi karena kesimpulannya tentang iman yang baik sebenarnya memiliki dimensi universal bagi siapa pun.

Spiritualitasnya yang empatik kepada Islam dan kaum Muslim dapat dibaca dari konklusinya yang luar biasa: “Saya menjadi yakin dalam hati bahwa saya adalah seorang Muslim. Di Kairo, di tengah ribuan orang-orang saleh, saya meletakkan dahi saya di lantai masjid. Tidak pernah dalam hidup saya, saya merasa lebih taat, lebih benar-benar taat, daripada di hari Jumat yang agung itu”. Apakah suara Orientalis yang hebat ini yang dimaksud oleh Orientalis-nya Said? Apakah pantas seorang Orientalis yang sangat penting ini hanya dikasih tiga baris saja dalam Orientalisme?

Keempat, Orientalisme dan musik. Menurut Warraq, sejak abad ke-16 hingga 19, banyak artis dan musisi Eropa yang dengan senang hati “merayakan Timur”. Dari mulai Johan Sebastian Bach, Mozart, Beethoven, hingga Christoph Willibald Gluck, dan Andre Ernest Modeste Gretry. Mereka membuat simponi, orchestra dan syair-syair yang mengapresiasi tentang Timur, tentang “sungai-sungai di Timur yang tak tersentuh dan pantai-pantai yang tak memiliki mimpi”, yang merujuk kepada keindahan negeri Cina, Turki, Persia, India, Babilonia, Mesir dan Irak.

Ada juga ode dan simfoni dari para musisi Eropa itu tentang “berdoa kepada Allah” dan indahnya “panggilan adzan”. Dari mana mereka menggubah musik-musik yang indah tentang Timur itu? Darimana mereka membuat cerita tentang The Arabian Nights? Darimana Mozart menggubah simfoni Die Zauberflöte, dan II Seraglio? Darimana muncul sejumlah novel dan lukisan-lukisan tentang dunia Timur yang tak ternilai harganya? Tak lain, kata Warraq, dari persentuhan, perjumpaan, riset dan refleksi para seniman Eropa dengan Timur. Timur disini bukan “orang lain”. Timur disini bukan dianggap sebagai “ras rendah”. Dan para seniman Barat itu tidak selalu digambarkan “jahat” dan “rasis”. Hubungan harmonis dan apresiasi simpatik antara kesenian dan kemanusiaan Barat dan Timur itu juga banyak luput dari kamera Orientalisme Said.

Masih ada belasan topik lagi yang menjadi address kritik-kritik tajam Warraq atas Orientalisme. Bagi Warraq, Orientalisme adalah “dosa Said”. Dalam banyak hal Said tidak jujur. Said bukan sejarawan, karena itu analisis-analisis sejarahnya banyak yang keliru. Kompetensinya sebagai kritikus sastra ketika bicara Timur juga sangat dipertanyakan. Tetapi kata Warraq, lebih dari apa pun, “dosa-dosa Said” melebihi kesalahan dan inkompetensinya.

Dosa Said yang paling mencolok adalah bahwa Arab dan Muslim adalah korban dari keserakahan Barat dengan motivasi merusak Timur. Said selalu menggambarkan Timur sebagai korban abadi dari imperialisme Barat, dominasi, dan agresi. Bagi Warraq, Said mengartikulasikan untuk khalayak elit intelektual suatu kepercayaan yang populer bahwa semua problem, semua masalah dan semua kesulitan di Timur Tengah adalah hasil dari konspirasi Barat-Zionis.

Akhirnya kata Warraq, langsung atau tidak, Orientalisme seolah membangunkan fundamentalisme Islam, dan pada gilirannya radikalisme Musim di Timur Tengah untuk “menghajar balik” Barat dan orang-orang, meskipun Muslim, yang sepaham dengan Barat. Para cendekiawan Muslim, khususnya dari Timur Tengah, Asia, dan Asia Tengah, yang kritis terhadap dunia Islam, dalam bahaya terus-menerus karena dicap pro-Barat.

Dari beberapa cendekiawan ini, yang paling terkenal adalah Salman Rushdie, dan yang kurang terkenal adalah Ibn Warraq sendiri, yang sampai hari ini harus terus bersembunyi untuk melindungi diri dan keluarga mereka dari para ekstrimis Islam yang “memvonis” Rushdie dan Warraq sebagai murtad dari Islam dan menjadi target pembunuhan.

Terlepas dari kritik Warraq yang “ideologis” yang seolah tak ada yang positif dari Said, dan cara Warraq sendiri yang “lebay” dan “provokatif”, tetapi saya menikmati karya Warraq ini.

Sebenarnya, model kritik Warraq ini mirip dengan Tahafut al-Falasifah karya Ghazali yang mengkritik Ibn Sina dan al-Farabi, tapi kedua Filusuf ini tak punya kesempatan untuk memberi respons karena sudah meninggal jauh sebelum Ghazali menulis Tahafut. Begitu pula, ketika Ibn Rusyd menulis Tahafut al-Tahafut untuk mengkritik Ghazali, sayang Ghazali-nya sudah wafat sebelum karya Ibn Rusyd itu muncul (Ghazali wafat 1111, Ibn Rusyd wafat 1198). Edward Said meninggal pada September 2003, dan karya Warraq, Defending the West baru terbit pada 2007, empat tahun setelah kematian Said. Artinya, Ghazali sudah tak punya kesempatan membantah Ibn Rusyd, sebagaimana Said tak punya waktu lagi untuk “menghajar balik” Warraq.

Soal Tesis yang dilawan anti-Tesis yang kemudian memunculkan Sintesis, dan begitu pula sirkulasi teori dan kritik teori, telah mengembangkan dunia ilmu pengetahuan kita. Perspektif kita menjadi cerah. Inilah yang mungkin telah hilang dalam diskursus intelektual Islam Indonesia dalam 10 atau bahkan 20 tahun terakhir setelah kepergian para Begawan-cendekiawan Muslim tanah air. Kini kita hanya ribut soal bendera, soal identitas politik, soal kursi kekuasaan, soal halal-haram dan rebutan kavling surga. Mungkin zaman sudah berubah. Kini masanya angin populisme, simulakra, hiper-realitas, yang instan, dengan follower, lalu viral, lalu “pergi lagi bersama angin”, gone with the wind.

Dr Media Zainul Bahri, Dosen Studi Agama-agama Fakultas Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Ditulis 19 Januari 2019.(lrf/mf)

Share This