Auditorium, BERITA UIN Online – Raktor UIN Jakarta Amany Lubis mendorong jurnal-jurnal yang diterbitkan oleh unit dan lembaga di UIN Jakarta agar dikelola lebih serius. Hal itu penting agar dosen dan mahasiswa dapat menuangkan hasil-hasil penelitiannya dengan baik melalui penebitan jurnal ilmiah.

“Saya juga ingin agar setiap hasil penelitian yang dipublikasikan memiliki impact berupa kebijakan yang dapat dimanfaatkan oleh pemerintah,” katanya saat memberi pengagarahan pada workshop pengelolaan jurnal ilmiah UIN Jakarta di Ruang Diorama Auditrorium Harun Nasution, Jumat (10/1/2020).

Rektor menambahkan bahwa penerbitan jurnal ilmiah selama ini masih banyak yang belum dikelola secara maksimal. Padaha jurnal-jurnal tersebut sangat penting bagi peningkatan mutu akademik, khususnya dalam bidang penelitian.

Untuk itu, Rektor mengharapkan agar jurnal-jurnal publikasi yang diterbitkan oleh berbagai unit dan lembaga di UIN Jakarta dapat dikelola lebih baik lagi.

“Tahun ini harus ada semangat baru untuk mengaktifkan kembali jurnal-jurnal yang ada di UIN Jakarta, termasuk jurnal yang dikelola mahasiswa. Begitu pula untuk program studi-program studi, kita dorong agar memiliki jurnal. Kalau bisa semua jurnal terindeks Sinta dan Scopus,” tandasnya.

Sementara itu, Kepala Pusat Penelitian dan Penerbitan (Puslitpen) Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) Imam Subhi dalam laporannya mengungkapkan bahwa dari 40 jurnal yang ada saat ini hingga per Januari 2020 baru 27 jurnal yang sudah terindeks Sinta 1-6. Dalam skala nasional, skor Rank jurnal UIN Jakarta berada di angka 17, namun berada di posisi Rank ke-34 per tiga tahun terakhir dari lima UIN lain.

“Hal ini tentu menjadikan perkembangan skor publikasi UIN Jakarta dalam tiga tahun terakhir masih kurang kompetitif dibandingkan dengan UIN lain,” katanya.

Namun, imbuhnya, Puslitpen akan terus berupaya agar semua jurnal dapat masuk Sinta sehingga skor Rank-nya naik.

“Masih ada 13 jurnal yang belum terindkes Sinta. Tapi nanti akan kita upayakan semua jurnal terindeks,” ujar Imam Subhi.

Tah hanya itu, Puslitpen juga akan berusaha untuk menjadikan fasilitas rumah jurnal UIN Jakarta sebagai pusat koordinasi bagi tata kelola jurnal dan publikasi. Upaya lainnya adalah menargetkan tiga jurnal yang ada menjadi jurnal internasional bereputasi dan siap untuk submmit Scopus.

“Kita optimis karena saat ini sudah memiliki tim pengelola jurnal yang di-SK-an oleh Rektor,” katanya.

Ketua LP2M Jajang Jahroni menambahkan, dosen-dosen selama ini diakui kurang menaruh perhatian pada penerbitan jurnal. Mereka justru lebih banyak melakukan penelitian dibandingkan mengelola jurnal.

Namun demikian, Jajang berjanji pengelolaan jurnal ke depan akan lebih ditingkatkan lagi, baik dari segi penganggaran maupun kulitas penelitiannya. Menurut dia, anggaran pengelolaan penelitian publikasi yang dikelola Puslitpen dari Bantuan Operasional Perguruan Tinggi Negeri (BOPTN) saat ini cuma Rp 913 juta. Anggaran tersebut dibagi dua, yaitu untuk bantuan pengelolaan jurnal sebesar Rp 383 juta dan bantuan tambahan biaya penelitian Rp 530 juta.

“Idealnya, dana untuk satu jurnal terakreditasi berkisar antara Rp 30 juta-Rp 40 juta,” katanya. (ns)

Share This