Para pendeta itu membentuk lingkaran mengepung Pentheus.

Mereka berjalan mengelilingi Pentheus

sembari menggenggam tongkat.

Mata Pentheus menatap satu per satu wajah mereka.

Langkah pendeta berputar makin cepat.

Sampai setengah berlari bagai gasing.

Kemudian tiba-tiba berhenti dan satu per satu mendekati Pentheus.

Dengan gerak “slow motion”,

mereka mengayunkan tongkat masing-masing.

Ada yang “menusuk”, “menebas”, “memotong”.

̶  Tadashi Suzuki

 Gedung FITK, BERITA UIN Online– Pojok Seni Tarbiyah (Postar) Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Jakarta menggelar Pelatihan Metode Suzuki Tadashi pada Rabu, (13/9/2018) di Teater Prof Dr Zakiyah Darajat lt 1 Gedung FITK.

“Ini merupakan inisiatif anggota Lingkar Sastra Tarbiyah (LST) Postar yang dilakukan untuk mengolah tubuh dan mengolah vokal sebagai pemain teater,” ujar Ketua Panitia Adilah Nida Rinjani saat acara berlangsung.

Pelatihan ini juga, lanjut mahasiswi semester lima Prodi Pendidikan Matematika itu, dilaksanakan sebagai bentuk latihan gabungan anggota LST, anggota Tari Tradisional Postar dengan anggota Teater Kumis. Kegiatan pelatihan, katanya, ini dilaksanakan selama dua hari, yaitu pada hari Kamis, 13 September 2018 dan Jumat, 14 September 2018.

“Pelatihan ini dibantu langsung oleh Bangkit Sanjaya, seseorang yang berguru langsung dengan Tadashi Suzuki di Jepang,” imbuhnya.

Dijelaskannya, Tadashi Suzuki merupakan seorang sutradara teater, penulis, dan filsuf yang bekerja di Toga, Toyama, Jepang. Dia juga pencetus, lanjutnya, pendiri, atau penggagas metode pelatihan yang  dinamakan SCOT (Suzuki Company of Toga).

“Dia itu sarjana hukum di Universtas Waseda, Tokyo tahun 1964 yang nota bene bukanlah seorang penggiat seni, namun punya ketertarikan memperhatikan, mempelajari, serta mengobservasi teater-teater tradisi Jepang, seperti Kabuki dan Noh, membawanya menjadi sutradara SCOT,” tandasnya.

Suzuki juga, sambungnya, memperhatikan bagaimana perilaku-perilaku orang Jepang, ketika teknologi semakin maju dan orang-orang bergerak lebih cepat serta cenderung statis. Dari situlah, Suzuki mengadaptasi serta mengembangkan metodenya secara perlahan.

Diinformasikannya, pelatihan dasar dengan metode Suzuki Tadashi ini dilakukan dengan memusatkan konsentrasi pada kekuatan bagian kaki. Hal ini tidak jauh berbeda dengan sistem kuda-kuda dalam pencak silat di Indonesia.

Dalam pelatihan ini, hal mendasar yang harus selalu terjaga adalah bagian pusar ke atas dilatih agar terbiasa rileks dan tidak tegang dengan keadaan siap. Sementara, bagain pusar ke bawah dikondisikan agar selalu tegang sebagai pusat energi dalam tubuh. Semua pelatihan pada metode ini, dikondisikan untuk selalu siap dan berkonsentrasi secara penuh baik pada tubuh, ruang, atau bahkan penonton.

Bentuk pelatihan ini hanya semacam perkenalan bagaimana bentuk-bentuk latihan metode Suzuki Tadashi, karena pelatihan ini lebih efektif jika dilakukan minimal dua minggu berturut-turut. Namun, kegiatan pelatihan ini merupakan pelatihan fisik untuk memacu dan mengolah energi.

Unsur dasar yang diolah dalam pelatihan ini adalah produksi energi, pengolahan nafas, dan melatih keseimbangan atau pusat gravitasi tubuh. Ketiga unsur tersebut juga ditemukan di berbagai bentuk seni bela diri dan kesenian tradisonal. Maka, efek dan manfaat yang didapatkan setelah melakukan pelatihan metode ini secara rutin adalah menambah kefokusan dalam menampilkan suatu pertunjukkan, dapat mengelola energi secara benar, dapat mengolah suara menjadi lebih bagus, dan power suara serta gerakan dapat lebih maksimal.

Hal yang paling utama adalah pelatihan dasar melalui metode Suzuki Tadashi ini dapat membuat energi permainan aktor dalam keteateran tetap terjaga dan terolah dengan baik di atas panggung. (mf)

Share This