Pernahkah Anda mendengar atau membaca tentang pesantren yang satu itu? lnilah pesantren yang tidak hanya modern dan berkarakter internasional, tetapi juga karena perkembangan lingkungan kampus dan penddikan yang fenomenal. Tak ragu lagi, Pondok Modern lnternasional Dea Malela (PMI-Dea Malela) telah dan sedang memperkaya nomenklatur pesantren atau pendidikan Islam Indonesia.

Mengunjungi Malela, penulis Resonansi, ini menyertai sekitar 30 orang ulama, rohaniwan, dan cendekiawan lintas agama untuk berdialog dengan Kapolri Jenderal (Pol) Muhammad Tito Karnavian [30/11/2018). Dialog membahas ikhwal agama dalam kaitannya dengan dinamiuka dalam negeri Indonesia dan perkembangan dunia global yang memengaruhi kehidupan agama, sosial, budaya, ekonomi, dan politik Tanah Air.

Tito Karnavian yang datang untuk kedua kalinya di PMI-Dea Malela memberikan pengantar komprehensif tentang berbagai isu terkait. Tampil tebih sebagai scholar yang fasih memahami berbagai duduk perkara masalah, Tito Karnavian memetakan macam-macam masalah dan tantangan yang tidak perlu diungkapkan panjang lebar di sini yang dihadapi Indonesia dewasa ini dan ke depan.

Menghadapi banyak masalah, boleh jadi orang pesimistis terhadap masa depan Indonesia. Tapi, pandangan lebih optimistis melihat Indonesia bisa mengatasi masalah-masalah tersebut secara bertahap dengan memberikan prioritas pada bidang-bidang tertentu, seperti peningkatan kualitas pendidikan, penegakan hukum lebih komprehensif dan konsisten, dan konsolidasi demokrasi.

Dialog yang dipimpin Din Syamsuddin, ketua Pembina Yayasan Pendidikan dan Kebudayaan PMI-Dea Malela, mengungkapkan pandangan dan perspektif berbagai pemimpin agama, rohaniwan, dan cendekiawan lintas agama tentang masalah-masalah yang dihadapi Indonesia. Tak kurang pula mereka memberikan pandangan tentang arah yang mesti ditempuh Indonesia tidak hanya untuk bertahan, tetapi juga lebih maju lagi. Kapolri dan para peserta bersepakat untuk melanjutkan percakapan lebih intens dalam waktu dekat.

Kapolri Tito Karnavian hanyalah salah satu pemimpin formal dan tokoh nasional yang datang ke PMI-Dea Malela. Lebih dua tahun sebelumnya, Wakil Presiden M Jusuf Kalla datang untuk meresmikan PMI-Dea Malela bersamaan dengan bermulanya pembangunan kompleks PMI-Dea Malela (25 Juli 2016). Pembangunan mencakup Masjid Saidah, rumah kiyai ‘Bayt Kalla’, Wisma Ustadzah, perumahan guru laki-laki dan perempuan. Kini semua bangunan ini sudah selesai ditambah sejumlah bangunan baru yang terus dibangun dalam waktu dua tahun terakhir.

Wakil Presiden Jusuf Kalla dalam ceramahnya pada kesempatan peresmian menegaskan tentang pentingnya membangun sistem pendidikan modern, untuk menJawab tantangan hari ini dan ke depan berdasarkan nilai-nilai Islam juga sesuai dengan kebutuhan dewasa ini dan masa datang.

“Pada saat yang sama, kita juga perlu memperkuat pengetahuan dan kecakapan teknologi untuk menghadapi tantangan global yang terus meningkat.”

Bukan hanya Wakil Presiden yang berkunjung ke PMI-Dea Malela, Presiden Jokowi juga datang ke PMI-Dea Malela untuk meresmikan sejumlah fasilitas gedung (MasJid Saidah, perpustakaan, gedung belaJar, dan wisma] yang telah selesa, dibangun [29/7/2018). Mengungkapkan kesannya, Presiden Jokowi memuji tata letak PMI-Dea Malela di perbukitan dengan view [pemandangan] yang indah.

“Saya melihat tadi dari atas, gedung-gedungnya sangat tertata, tata ruangnya sangat bagus dengan kontur tanah turun naik, di depannya ada gunung yang menjulang indah, dan di kanan kiri ada perbukitan.”

Dengan berbagai fasilitas yang dimilikinya, Presiden Jokowi optimistis PMI-Dea Malela dapat menjadi pusat keunggulan pendidikan Islam di Indonesia dan Dunia Islam lebih luas.

“Jadi kalau tadi disampaikan Profesor Din Syamsuddin bahwa ini akan menjadi kampus internasional, insya Allah bukan suatu mimpi, tetapi akan menjadi sebuah kenyataan,” ujar Presiden.

Jika PMI-Dea Malela mengambil posisi terdepan dalam konteks nasional dan internasional tidaklah terlalu mengherankan. PMI-Dea Malela sejak awal diproyeksikan pendirinya sebagai “Dari Tana Samawa Membangun Tata Dunia Utama” -sebuah mimpi dan janji yang sama sekali bukan tidak mungkin diwujudkan- bahkan sudah mulai kelihatan wujudnya, mimpi dan janji perlu sebagai kekuatan pendorong [driving force) untuk mewujudkan kebudayaan dan peradaban dunia utama yang lebih damai dan mulia.

Kebudayaan menjadi salah satu dan dua agenda utama PMI-Dea Malela -satunya lagi adalah pendidikan. Ini tecermin dari nama induk lembaganya, Yayasan Pendidikan dan Kebudayaan Dea Malela.

Sebagai lembaga pendidikan, PMI-Dea Malela bercita-cita untuk “menjadi pusat keunggulan pendidikan Islam di Dunia Islam untuk melahirkan sumber daya insani, beriman, berakhlak mulia, mandiri, kreatif, inovatif, dan kompetitif.” (mf)

Prof Dr Azyumardi Azra MA, Guru Besar Sekolah Pascasarjana (SPs) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Sumber: Koran Republika, Kamis, 6 Desember 2018.

Share This