Bintaro, BERITA UIN Online— Masyarakat Muslim Indonesia ditengarai menjadi lebih konservatif dan intoleran terhadap penganut kepercayaan agama berbeda. Kurang sistematiknya pembelajaran keislaman yang diberikan kepada generasi muda dan maraknya penggunaan media sosial dinilai menjadi

Demikian disampaikan Antropolog Islam Indonesia Minako Sakai saat menjadi pembicara dalam The 2nd International Conference on Culture and Language in South East Asia, Rabu (29/08/2018). Pada konferensi itu, Sakai memaparkan paper bertajuk The Increasing Role of Non-Orthodox Islamic Education as Mediating Agencies: Social Media and its Challenge for Islamic Higher Education in Indonesia.

“Potret Islam Indonesia berubah. Ia menunjukkan perkembangan yang lebih konservatif dan intoleran terhadap agama-agama lain,” paparnya.

Sakai yang meneliti tentang peran otoritas Islam ortodoks dan pengaruhnya terhadap ikatan sosial Islam selama lebih dari 25 tahun melihat adanya gambaran mengejutkan dua hal yang saling bertentangan. Di satu sisi, pembangunan ekonomi Indonesia yang cukup sukses mendorong lahirnya kelompok sosial ekonomi kelas menengah.

Selain kemampuan ekonomi, kelompok sosial ini ditandai dengan keberhasilan mereka mengakses tingkat pendidikan lebih baik. Dengan begitu, idealnya mereka tumbuh sebagai pemeluk agama yang rasional dan moderat.

Di sisi lain, justru terjadi penguatan kecenderungan konservatif di kalangan masyarakat Muslim. “Jadi ada gambaran mengejutkan bahwa ada kebangunan Muslim yang konservatif sedang di saat yang sama perkembangan ekonomi juga cukup sukses,” paparnya.

Berkembangnya kecenderungan ini, dicurigai Sakai merupakan dampak dari tidak cukup sistematiknya pengajaran agama Islam yang dilakukan para tokoh agama. Di saat yang sama, generasi muda juga makin dekat dengan media sosial yang menjadi wadah efektif persebaran Islam bernada konservatif dan intoleran.(farah nh/yuni nk/zm)

Share This