Saya cukup lama nyantri dengan Prof Dr Kautsar Azhari Noer (Guru Besar Studi Agama-agama Fakultas Ushuludin UIN Jakarta), menjadi muridnya sekaligus asistennya di Fakultas Ushuluddin sampai 7 tahun. Pak Kautsar menggembleng saya soal “makanan sehari-hari.” Kalau mau menjadi expert, bidang itu harus jadi “makanan sehari-hari”. Setiap hari memang harus membaca, merenungi bidang itu.

Suatu hari, Pak Kautsar diminta mengajar di Sekolah Pascasarjana dengan materi Agama-agama Ibrahimi dipasangkan dengan seorang profesor dari fakultas lain. Pak Kautsar menolak, karena beliau mengetahui bahwa orang tersebut makanan sehari-harinya bukan bidang Studi Agama-agama atau Perbandingan Agama. Nanti akan menimbulkan kekacauan, begitu katanya.

Nah, saya kira politisi kita juga harus makan ilmu tata-negara, seni berpolitik, ilmu hukum dan ekonomi. Kalau itu jadi makanan sehari-hari, bergumul setiap hari dengan soal-soal itu, mereka akan naik kelas menjadi negarawan.

Para pendiri bangsa ini dulu Soekarno-Hatta dan kawan-kawannya mungkin ada yang bertitel insyinyur, sarjana hukum, atau sarjana ekonomi, tapi tata-kelola negara, seni berpolitik, dan hal-hal lain soal negara, menjadi makanan mereka sehari-hari. Mereka semua menjadi negarawan.

Al-Farabi mengatakan, pemimpin yang ideal itu harus seorang filusuf. Dahulu Bung Hatta membaca filsafat dan menulis buku Filsafat Yunani untuk mas kawin menikahi Bu Rahmi, luar biasa itu. Padahal Bung Hatta itu doktorandus  Ekonomi dari Belanda.

Saat ini, ada perkumpulan partai politik membuat rekomendasi seorang ustadz menjadi cawapres. Ustadz itu makanan sehari-harinya ilmu agama, ia ahli agama. Tata kelola negara dan seni politik bukan makanan sehari-harinya. Ini ngurus negara lho, bukan ngurus madrasah atau pesantren.

Syukurlah sang ustadz itu tahu diri dan menolak. Saya pikir kalau kerumunan politisi di sebuah partai politik, yang biaya operasional partai itu sampai puluhan bahkan ratusan milyar, hanya membuat rekomendasi amatiran kayak gitu, mending bubar saja itu partai!

Kita sudah punya banyak politisi yang seringkali membuat gaduh tidak produktif. Kita kekurangan negarawan. Kita butuh negarawan. (mf)

Dr Media Zainul Bahri MA, Dosen Studi Agama-agama Fakultas Ushuludin UIN Jakarta

Share This