Oleh: Syamsul Yakin
Dosen Magister KPI FIDIK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

“Ya Allah, Pemilik kekuasaan! Engkau memberi kekuasaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan mencabut kekuasaan dari orang yang Engkau kehendaki, Engkau memuliakan orang yang Engkau kehendaki, dan menghinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah terletak kebajikan. Engkau sesungguhnya Maha Kuasa atas segala sesuatu” (QS Ali Imran/3: 26).

Menurut Quraish Shihab, dalam Tafsir al-Mishbah, kata “Allahumma” di atas merupakan doa. Asalnya adalah “Ya Allah”. Tetapi untuk menghindari kata “Ya” atau “wahai” yang merupakan panggilan untuk jarak jauh, maka sebagai gantinya ditambahkanlah huruf ‘Mim” bertasydid sehingga berbunyi, “Allahumma”. Memang, lafadz mulia itu, yakni Allah, mempunyai keunikan-keunikan yang menarik untuk dijadikan pelajaran. Misalnya, kendati dihapus huruf demi huruf dari lafadznya, ia tetap menunjuk kepada Allah Yang Maha Kuasa itu.

Contohnya, hapuslah hurufnya yang pertama, ia akan terbaca “lillah” yakni “milik Allah”. Lalu, hapus lagi huruf yang kedua, dia akan menjadi “lahu”, yakni “bagi-Nya” atau “milik-Nya”. Dan jika dihapus huruf yang ketiga, akan terbaca “Hu” yang menunjuk kepada-Nya. Selanjutnya, bila dipersingkat, maka yang terucapkan adalah “Ah”, yakni keluhan kaum beriman yang disampaikan kepada Allah Yang Maha Kuasa dan Maha Penolong itu. Dengan demikian, Allah diseru oleh makhluk-Nya suka atau tidak suka, sadar atau tidak sadar.

Muhammad Nasib al-Rifa’i dalam Taisiru al-Aliyyul Qadir li Ikhtishari Tafsir Ibn Katsir, menulis makna anak kalimat “Ya Allah Yang memiliki kerajaan” adalah “Engkau yang mengatur urusan makhluk-Mu, Yang Maha Mengerjakan apa yang Engkau kehendaki, maka kepunyaan Engkaulah segala kekuasaan. Sedangkan anak kalimat selanjutya, “Engkau memberi kekuasaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan mencabut kekuasaan dari orang yang Engkau kehendaki, Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki, dan menghinakan orang yang Engkau kehendaki”, artinya ‘Engkaulah Yang memberi dan menolak. Bila sesuatu itu Engkau kehendaki, maka hal itu pun akan terealisasi dan bila sesuatu itu tidak Engkau kehendaki, maka tak akan terjadi”.

Menurut Muhammad Nasib al-Rifa’i. ayat ini mengandung peringatan dan bimbingan untuk senantiasa bersyukur kepada Allah SWT atas nikmat yang telah dikaruniakan-Nya kepada umat ini berupa pengalihan kenabian dari tangan Bani Israil kepada seorang nabi yang berbangsa Arab. Yakni Muhammad SAW.

Anak kalimat, “Di tangan Engkaulah terletak kebajikan” membuat kita tersentak. Misalnya, Muhammad Yusuf Ali dalam The Holy Qur’an, ia bergumam: dengan ukuran apa kita dapat menilai yang baik? Itulah kehendak Allah. Itu sebabnya, jika kita menyerah kepada kehendak Allah, maka kebaikan tertinggi itu akan kita lihat dan gapai. Kebaikan tertinggi itu adalah kehendak Allah. Manusia beriman harus terus bekerja keras untuk mempelajari dan memahami kehendak-Nya. Sebaliknya, kejahatan adalah pengingkaran terhadap kehendak Allah. Kehendak Allah itu sendiri berarti nama lain mengenai keputusan Allah.

Secara umum ayat 26 surat Ali-Imran di atas, menurut Allamah Kamal Faqih Imani dalam Nur al-Qur’an: An Enlightening Commentary into The Light of The Holy Qur’an, mengatakan bahwa ayat ini merujuk kepada kekuasan dan pemerintahan Allah yang telah mewujud di alam eksistensi berkat kemampuan manusia dan keterikatan manusia kepada Allah. Ayat ini tidak merujuk kepada pemerintahan dan kekuasaan tiran. Karena kekuasaan tiran tercipta melalui penerapan kesewenanga dan teror, yang penuh intrik politik dan konflik baik internal maupun eksternal.

Terkait dengan ayat ini, dalam beberapa kitab tafsir, seperti Tafsir al-Kabir karya Fakhrurrazi, lanjut Allamah Kamal Faqih Imani, tercatat bahwa Nabi SAW, setelah menaklukkan kota Mekah, beliau meramalkan bahwa umat Islam akan menang dalam sejumlah peperangan melawan Persia dan Romawi. Saat itu, beberapa orang munafik saling memandang dengan maksud mengolok-olok.

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Qatadah seperti ditulis Jalaluddin al-Suyuthi dalam Lubab al-Nuqul fi Asbab al-Nuzul, dia berkata: “Kami diberi tahu bahwa Rasulullah meminta kepada Allah untuk menjadikan Raja Romawi dan Persia sebagai umat beliau. Maka Allah menurunkan firman-Nya”.

Allamah Kamal Faqih Imani menulis dalam kitab tafsirnya, beberapa ahli tafsir lain menyatakan bahwa secara sosio-historis, pewahyuan ayat tersebut terjadi pada saat penggalian sebuah parit. Ketika itu, alat penggali Nabi SAW terbentur sebuah batu dengan keras dan terlihat seberkas cahaya. Lalu Nabi SAW bersabda, “Aku menerima berita tentang penaklukan puri-puri Ctsiphon (sebuah kota kuno dekat Baghdad) dan Yaman dari Jibril dalam kilatan cahaya tadi”. Inilah riwayat lain yang kemudian membuat orang-orang munafik tersenyum melecehkan. Setelah itu turun surat Ali-Imran/3 ayat 26.

Perlu dikemukakan, kata Allamah Kamal Faqih Imani, apapun yang berupa karunia , kemuliaan, dan penghinaan, yang dirujuk dalam ayat ini adalah dari sisi Allah, sesuai dengan hukum dan perlakuan Allah. Jika tidak, Allah tidak akan memberikan kemuliaan kepada seseorang dan tidak juga memberikan kehinaan kepada orang yang lain. Jadi, memberikan kemuliaan atau kehinaan adalah hak Allah. Namun yang membuka jalan untuk keduanya dan membuatnya terjadi adalah kita sendiri.

Jika saja kita ditakdirkan Allah untuk memanggul amanah kekuasaan dan pemerintah di negeri ini, sikap seperti apa yang harus dipegang teguh? Dalam sejumlah fragmen kehidupan Nabi SAW sebagi pemimpin keagamaan dan kemasyarakatan terdapat sejumlah pedoman. Pedoman ini semua terdapat dalam sunnah Nabi SAW dan ayat-ayat dalam al-Qur’an yang bisa dipelajari dan diikuti.

Pertama, amanah. Dalam sejarah, Abu Ubaidah bin al-Jarrah dikenal sebagai figur yang amanah dan hal itu diakui di kalangan sahabat. Bersumber dari Hudzaifah, ia berkata: ”Penduduk Najran datang kepada Rasulullah SAW. Mereka berkata, ’Wahai Rasulullah SAW, kirimlah utusan kepada kami seorang laki-laki yang amanah’. Maka Rasulullah SAW bersabda: “Ya, aku akan mengirim utusan kepada kalian seorang laki-laki yang benar-benar amanah”. Maka, lanjut Hudzaifah, orang-orang pun berusaha mencari kemuliaan untuk menjadi utusan tersebut. Akhirnya Rasulullah SAW mengutus Abu Ubaidah bin al-Jarrah. (HR. Bukhari).

Karena amanah, sejatinya kekuasaan tidak boleh diminta. Menarik sekali, untuk dicermati, satu hadits lagi yang bersumber dari Abu Dzar: ”Aku berkata, ’Wahai Rasulullah, kenapa Engkau tidak mengangkatku menjadi wakilmu?’ Kemudian beliau menepuk-nepuk pundakku dengan kedua tangannya, seraya bersabda, “Wahai Abu Dzar, sesungguhnya Engkau adalah orang yang lemah, padahal kekuasaan itu adalah amanah. Kelak di hari kiamat kekuasaan itu akan menjadi kehinaan dan kesedihan, kecuali orang yang mengambilnya dengan kebenaran dan menunaikan segala kewajiban” (HR. Muslim).

Rasulullah kembali tegaskan: “Sesungguhnya kita, demi Allah, tidak akan memberikan pekerjaan ini kepada seorang pun yang memintanya dan tidak juga kepada orang yang sangat menginginkannya” (HR. Muslim).

Tentang hal ini, Allah memberikan peringatan: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedangkan kamu mengetahui” (QS. Al-Anfal/8: 27). Lalu, “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia suapaya kamu menetapkan dengan adil…”(QS. al-Nisaa/4: 54).

Kedua, berlaku adil. Misalnya firman Allah dalam surat al-Maidah/5: 42: “…Dan jika kamu memutuskan perkara mereka, maka putuskanlah (perkara itu) di antara mereka dengan adil. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang adil”.

Ayat di atas merupakan petunjuk Allah kepada Rasulullah untuk menghadapi orang-orang Yahudi. Walaupun mereka sering menyakiti Nabi, tapi Allah tetap memerintahkan berlaku adil ketika memutuskan perkara mereka. Allah tidak menghendaki kebencian kepada suatu kelompok membuat hak-hak mereka terenggut dan diperlakukan secara tidak adil. Allah mempertegas: ”…Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa…” (QS. al-Maidah/5: 8).

Lebih jelas lagi, dalam hal kepemimpinan atau pemerintahan, Allah katakan: “Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (atas masalah-masalah yang timbul) di antara manusia itu dengan adil, janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena dia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah …”(QS. Shhad/38: 26).

Ketiga, senantiasa berlaku taat. Kewajiban berlaku taat diperbincangkan dalam al-Qur’an dengan sangat jelas, yakni dalam surat al-Nisaa/4 ayat 59. Allah berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya, dan ulil amri di antara kamu. Kemudian, jika kamu saling berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (al-Qur’an) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Hal seperti ini lebih utama (bagimu) dan lebih baik dampaknya”.

Mari kita bersama panjatkan doa ini. Siapapun di antara kita yang doanya dikabulkan Allah dan kelak ditakdirkan memimpin negeri ini, maka harus kita taati karena itu kita yakini sebagai hadiah dari Allah SWT untuk Indonesia tercinta. Semoga Indonesia dipimpin oleh seorang yang beriman dan bertakwa. Amin!* (sam/mf)

Share This