FAH, Berita UIN Online – Komplektsitas pemikiran dan praksis Cak Nur (Nurcholish Madjid) sering tidak dipahami dengan baik oleh kalangan masyarakat, khususnya lingkungan Muslim tertentu. Tidak jarang, ketidakpahaman atau kekurangpahaman tersebut karena by nature para intelektual seperti Cak Nur tidak mudah dipahami.

Pikiran di atas mengemuka dari Prof Dr Azyumardi Azra, CBE ketika memaparkan makalah “Membaca Cak Nur; Pemikiran dan Praksis Sosial Politik”, pada peresmian Perpustakaan Prof Dr Nurcholish Madjid, Fakultas Adan dan Humaniora, Jumat, 3 November 2017.

Terkait kompleksitas pemikiran dan praksis Cak Nur yang sering tidak dipahami baik oleh kalangan masyarakat ini, membawa akibat stigma negative ke dalam diri Cak Nur.

“Semua itu akibat Cak Nur tidak mengurung dirinya dalam sekat-sekat intelektualisme sempit, tetapi sebaliknya mengungkapkan pemikiran, wacana dan gagasan ke depan publik secara terbuka. Pikiran terbuka Cak Nur sering kali disalahpahami kelompok Muslim tertentu, ” ungkap Azra.

Cak Nur dalam pandangan Azra, adalah salah satu dari sedikit “Intelektual Pubik”, public intellectual Indonesia kontemporer yang dari sudut pemikiran dan praksis sangat kompleks.

“Cak Nur memang berangkat sebagai aktivis dan pemikir Muslim. Tapi dalam perjalanan karir intelektual dan sosialnya, Cak Nur tidak terkungkung dalam batas-batas keagamaan. Dia adalah seorang pemikir, aktivis, pemimpin dengan tingkat akseptabilitas sangat luas melampaui demarkasi keagamaan, sosial dan politik,” tegas Azra. (Edy AE)

 

Share This