Nabi Muhammad SAW tahun ini diperingati sehari sebelum Hari Pahlawan 10 November. Karena itu Maulid Nabi menjadi menarik dimaknai dalam konteks aktualisasi nilai-nilai heroik dan kepemimpinan profetik. Sejarah mencatat bahwa Muhammad SAW merupakan pahlawan kemanusiaan paling agung sepanjang sejarah. Karena selama 23 tahun mengemban tugas kenabian, menurut Michael H Hart, beliau adalah pemimpin dunia paling berpengaruh, paling autentik, dan paling sukses sepanjang masa karena pengaruh dan pengikutnya hingga saat ini semakin berkembang pesat.

Kesuksesannya sebagai pemimpin umat dan bangsa tidak hanya diakui kawan dan lawan, tetapi juga selalu menginspirasi para pemimpin dunia dari masa ke masa. Nabi SAW menampilkan kepemimpinan heroik (heroic leadership) dan autentik dengan legasi peradaban kenabian, peradaban iman, ilmu, amal saleh, dan prestasi kemanusiaan yang abadi. Nabi SAW memimpin umat dan bangsa dengan cinta kemanusiaan dan keteladanan. Visi kepemimpinan heroiknya mendahului dan melampaui zamannya.

Rekam Jejak Teladan

Sebelum diangkat menjadi rasul, Nabi SAW telah memiliki rekam jejak kepemimpinan yang teruji secara sosiologis. Sebagai calon pemimpin heroik autentik, beliau menunjukkan moralitas dan karakter pemimpin yang jujur, amanah, komunikatif, dan cerdas.

Singkatnya rekam jejak kepribadiannya yang tanpa cela itu menjadi modal sosial dan moral untuk menjadi pemimpin teladan. Beliau bukan pemimpin hasil “karbitan dan pencitraan”, tetapi merupakan pemimpin autentik heroik.

Kepemimpinan autentik heroik Nabi SAW tidak hanya menarik dikontekstualisasi dengan perkembangan sosial politik di era disrupsi dewasa ini, tetapi juga penting dijadikan sebagai sumber inspirasi dan motivasi umat dan bangsa agar tidak kehilangan atau merasa tidak memiliki role model dalam menggerakkan kepemimpinan, mulai dari level rumah tangga hingga kepemimpinan negara-bangsa. Sebab menurut Montgomery Watt dalam Muhammad: Prophet and Statesman, Nabi SAW setelah hijrah dari Mekkah ke Madinah sukses menjadi pemimpin teladan agama dan pemimpin negara sekaligus.

Sebagai pemimpin agama, beliau tampil sebagai referensi dalam memberi solusi terhadap berbagai soal agama: akidah, ibadah, muamalah, akhlak, dan sebagainya. Adapun sebagai pemimpin negara, beliau menjadi pemersatu, pelindung, pengayom, penggerak, penegak hukum, dan agen perubahan sosial menuju masyarakat bangsa yang bersatu, berdaulat, maju, adil, dan makmur.

Meskipun ketika berdakwah di Mekkah mengalami persekusi, intimidasi, dan kriminalisasi dari kaumnya yang tidak beriman, Nabi SAW selalu membela, melindungi, dan membebaskan para pengikutnya dari segala bentuk permusuhan dan kekerasan. Karena itu Nabi SAW selalu berinisiatif mencari solusi yang dialami pengikutnya seperti hijrah ke Habsyi, ke Taif, dan akhirnya ke Madinah. Kepemimpinan heroik dan autentik yang ditunjukkan Nabi antara lain terbaca dalam sirahnya yang proaktif mencari jalan damai dan solusi strategis agar pengikutnya tidak menjadi korban kebiadaban.

Pemimpin Heroik

Kepemimpinan heroik Nabi SAW juga terlihat dalam keberaniannya mengambil risiko ketika harus hijrah ke Madinah setelah para pengikutnya, terutama yang lemah dan sudah tua, meninggalkan Mekkah menuju Madinah dengan aman dan selamat. Beliau berani memilih jalan hijrah tidak biasa dan berisiko tinggi, yaitu transit selama tiga hari di Gua Tsur, berlokasi sekitar 7 km selatan Mekkah, padahal Madinah berada di utara Mekkah.

Setelah merasa aman dari kejaran para pasukan bayaran Kafir Quraisy, secara heroik Nabi berani mengambil risiko dengan menjadikan Abdullah bin Uraiqit al-Laitsi, seorang Yahudi, sebagai pemandu jalan hijrah menuju Madinah. Kerja sama profesional lintas iman ini menunjukkan betapa pemimpin heroik itu lebih mengutamakan kepentingan umat daripada kepentingan pribadi. Ketika tiba di Madinah dengan selamat dan disambut dengan penuh antusias oleh warga Quba, beliau langsung melakukan konsolidasi umat dengan mempersaudarakan dan menyatukan dua suku, Aus dan Khazraj, yang terlibat konflik dan perang saudara.

Ketika melihat realitas sosial masyarakat Madinah yang sangat plural dan multikultural, Nabi tampil sebagai pemimpin visioner yang mengakomodasi, melindungi, menyatukan, dan memberdayakan segenap potensi komponen masyarakat. Dengan gagasan cerdas dan strategis, Nabi menawarkan traktat perjanjian atau kontrak sosial politik Mitsaq/Shahifah al-Madinah yang berisi regulasi hak-hak dan kewajiban yang mengikat bagi semua warga Madinah seperti menjaga keamanan, ketertiban, kedamaian, bela negara, penegakan hukum.

Sebagai pemimpin heroik autentik, visi kepemimpinan beliau adalah menjadikan Islam sebagai rahmatan lil ’alamin. Islam itu agama peradaban berkemajuan. Islam itu untuk semua dan memberi rahmat bagi semesta raya (Islam for All). Semua legasi yang ditinggalkannya, khususnya Alquran dan Sunnah, mencerdaskan, mencerahkan, dan menginspirasi umatnya.

Pemimpin heroik itu memimpin rakyatnya dengan sentuhan cinta. Semua warga bangsa dicintai, diperlakukan secara adil, dan diberdayakan, bukan dibodohi dan dimusuhi. Nabi SAW sangat peduli dan gemar berbagi kebaikan bagi semua. Beliau tidak pernah menyakiti, melukai, apalagi membohongi dan menyengsarakan umatnya. Sesaat sebelum mengembuskan napas terakhirnya, beliau masih menyatakan: “Ummati… ummati… ummati… ummati… ash-shalah… ash-shalah… ash-shalah” (umatku, umatku, umatku, jagalah salat, jagalah salat, jagalah salat).

Dalam The Art of Leadership in Islam, Muhammad Fathi menegaskan bahwa Nabi SAW sukses sebagai pemimpin heroik autentik karena memiliki integritas pribadi yang jujur dan benar (shidiq), dapat dipercaya, akuntabel (amanah), terbuka dan komunikatif (tablig), dan cerdas (fathanah) dalam memahami dan memperjuangkan kemajuan masyarakatnya. Kata kunci dari kesuksesan Nabi SAW dalam memimpin umat adalah keluhuran akhlak dan keteladanannya yang menginspirasi, bersatunya antara kata dan perbuatan nyata.

“Sungguh, telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaan yang kamu alami, (dia) sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, penyantun dan penyayang terhadap orang-orang yang beriman.” (QS at-Taubah [9]: 128)

Sebagai pengikutnya, umat ini perlu mengaktualisasi nilai-nilai Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin dengan menampilkan kepemimpinan heroik dan autentik. Karena itu umat dan bangsa ini penting meneladani kepemimpinan beliau agar NKRI tidak menjadi negara gagal (failed state), sebaliknya menjadi negara bangsa yang sukses mewujudkan tujuan dan cita-cita didirikannya negara ini. Warga bangsa ini sangat merindukan pemimpinnya yang tampil heroik dan autentik dalam menyelamatkan masa depannya dari keterpurukan, disintegrasi, dan neokolonialisme (penjajahan gaya baru) dalam berbagai aspek kehidupan.

Dr Muhbib Abdul Wahab MAg, Ketua Prodi Magister Pendidikan Bahasa Arab FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Wakil Ketua IMLA Indonesia. Sumber: Koran Sindo, Sabtu, 9 November 2019. (lrf/mf)

Share This