Kekisruhan Malasyia tampaknya belum selesai dengan pelantikan Muhyiddin Yassin sebagai Perdana Menteri kedelapan Malaysia (1/3/2020). Sementara keabsahannya sebagai PM semakin dipersoalkan banyak kalangan. Muhyiddin mengundur sidang parlemen Malaysia dari 9 Maret ke awal Mei. AS, Inggris, Uni Eropa, dan Cina, misalnya belum mengucapkan selamat kepada Muhyiddin Yasssin; beberapa negara ASEAN, seperti Singapura dan Indonesia sudah mengucapkan selamat.

Muhyiddin Yassin dengan cepat membentuk kabinetnya yang dia umumkan pada awal pekan ini (9/3/2020). Tidak ada timbalan (wakil) PM; Kabinet masih didominasi figur-figur Melayu dari UMNO, PKR, dan PPBM.

Sementara itu, pastilah perubahan waktu sidang parlemen Malaysia dimaksudkan Muhyiddin untuk dapat mengonsolidasikan kekuasaan menghadapi tantangan Mahatir Mohamad dan Anwar Ibrahim dengan kubu masing-masing. Kedua kubu terakhir ini pastilah tidak terpaku tangan menunggu dalam menghadapi berbagai manuver Muhyiddin Yassin.

Dengan demikian, politik Malaysia semakin fragmented, terutama di antara puak Melayu. Dalam batas tertentu, fragmentasi itu juga ada kalangan komunitas minoritas Cina dan India. Tetapi karena Melayu yang identik dengan Islam merupakan kelompok mayoritas relatif, kegalauan dan kegaduhan di antara puak Melayu potensial mengakibatkan datangnya krisis politik, sosial, dan ekonomi.

Krisis ekonomi yang kemudian bisa memperburuk krisis dan politik sudah memperlihatkan tanda-tandanya dengan penyebaran wabah corona secara global, termasuk Malaysia. Sampai akhir pekan lalu, Malaysia menangani 93 terduga pengidap Covid-19.

Pemerintah Malaysia, seperti juga pemerintah negara-negara lain, telah mengambil langkah-langkah drastis menghadapi wabah corona. Penulis Resonasi ini juga terkena dampaknya dengan pembatalan dua konferensi penting di Malaysia. Konferensi pertama yang batal adalah World Conference on Islamic Thought and Civilization (WCIT 2020) dengan tema ‘Sharing Humanity’ yang diselenggarakan Unversity Sultan Azlan Shah di Ipoh, Perak (9/11/2020). Kedua adalah ‘World Ummatan Wasatan Forum’ (WUWF 2020) yang dilaksanakan ISTAC, University Islam Antarbangsa, Kuala Lumpur (24-26/3/2020).

Penulis Resonansi ini sebelumnya telah dijadwalkan menjadi narasumber dalam kedua konferensi tersebut bersama beberapa pembicara lain, seperti Karen Armystrong dan Jhon Esposito. Tidak jelas kapan kedua konferensi yang diundurkan itu akhirnya dilaksanakan mengingat kedua tema konferensi itu sangat penting bagi masyarakat global, khususnya bagi Malaysia.

Beruntung konferensi tentang ‘Serantau Hidup Bersama dalam Budaya Damai 2020’ sempat diselenggarakan Sasakawa Peace Fondation (SPF), The Habibie Centre (THC), Institute Darul Ehsan (IDE) dan University Selangor (Unisel). Dilaksanakan di Shah Alam, Selangor (11-12/2/2020), konferensi ini mengangkat tema dengan substansi tentang yang dalam bahasa Melayu Malaysia disebut ‘Kepelbagian’ atau  keragaman.

Tema atau substansi ‘Kepelbagian’ atau kemajemukan semakin relevan di Malaysia dalam konteks perubahan dan kegaduhan politik belakangan ini. Hal sama juga berlaku bagi Indonesia yang memang sangat mejemuk lebih dibandingkan Malaysia dan banyak negara lain. Indonesia punya pengalaman panjang dan kaya dalam menghadapi kepelbagian atau keragaman masyarakatnya.

Dalam konteks itulah beberapa narasumber Indonesia berbagi pengalaman tentang kemajemukan dalam penciptaan kedamaian hidup berdampingan secara damai. Pembicara dari Indonesia mencakup penulis Resonansi ini, Profesor (riset) Dewi Fortuna Anwar, Profesor Sofian Effendi, Dadang Trisasongko (mantan Transparansi Internasional Indonesia), Imam Rulyawan (Dompet Dhuafa), dan Wahyu Dyatmatika (Pemred Tempo.Co).

Sedangkan dari Malaysia sendiri, ada dua pembicara kunci: Anwar Ibrahim dan Timbalan PM Wan Azizah Wan Ismail. Keduanya banyak berbicara tentang pentingnya pengembangan toleransi dan saling menghormati untuk membangun kedamian.

Selanjutnya adalah pembicara kunci, Profesor Siddiq Fadzi, yang membahas panjang tentang “Membina Kesatuan Bangsa: Kerukunan Hidup Bersama dalam Budaya Damai.” Menjelaskan tema ini dalam perspektif doktorin dan sejarah Islam, dia menyarakan pengembangan pendidikan damai melalui berbagai lokus lembaga pendidikan.

Azyumardi Azra, Guru Besar Sejarah Kebudayaan Islam Fakultas Adab dan Humaniora UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Sumber: Resonansi Republika, Kamis, 12 Maret 2020. (zm/mf)

Share This