Dalam Numorologi, bilangan atau angka satu tidak sama antara konsep matematika dan metafisika. Dalam Numorologi Arab, bilangan satu tidak disebut angka karena belum bisa dibagi (undivisible). Bilangan terendah ialah angka dua (2) dan disusul angka-angka berikutnya karena sudah dibagi dan diidentifikasi. Angka 1 (satu) adalah sumber dari segala bilangan. Tidak ada angka dua, tiga, sepuluh, seratus, sejuta, setriliun, dan seterusnya tanpa ada angka satu (1). Bukankah angka dua (2) adalah kelipatan dari angka satu (1).

Matematika menyimpulkan bahwa tidak mungkin kita berbicara tentang angka dan bilangan seberapapun banyaknya tanpa berbicara angka satu. Sebutlah angka seribu triliun (1000.000.000.000.000) tidak akan pernah terwujud tanpa angka satu karena bukankah angka itu merupakan kelipatan seribu triliun dari angka satu.

Logika numerologi dan matematika seperti ini dapat digunakan untuk menyimpulkan keberadaan Tuhan, sesuatu Yang Maha Mutlak di dalam diri dan di sekitar kehidupan kita bahwa angka satu tidak tampak pada setiap bilangan, tetapi tidak mungkin ada bilangan tanpa angka satu itu. Itu ilustrasi bahwa keberadaan Tuhan menjadi substansi pada segala sesuatu. Itulah alasan pandangan metafisika menganggap sesungguhnya Wujud Satu (The One) tidak memiliki kelanjutan angka atau bilangan, sebagaimana akan dijelaskan dalam artikel mendatang.

Salah seorang yang sangat percaya tentang keajaiban angka ialah Pythagoras (570 SM-495 SM). Ia seorang Filsuf Yunani yang dikenal sebagai “Bapak Matematika” karena yang pertama kali mengembangkan angka atau bilangan sebagai dasar filosofi untuk mengurai misteri kejadian alam.

Menurut dia, angka atau bilangan-bilangan merupakan unsur penyusunan berbagai bentuk dan keterhubungan. Bilangan atau angka adalah menentukan kepastian yang selanjutnya terciptanya berbagai bentuk. Menurutnya, tidak ada satupun di dunia ini yang terlepas dari bilangan atau angka. Semua realitas dapat diukur dan diprediksi dengan perhitungan melalui bilangan.

Substansi dari semua benda adalah bilangan, bahkan semua fenomena alam merupakan terbentuk dari keterhubungan secara diametrikal melalui bilangan. Yang paling nyata ditunjukkan ialah ilmu musik dengan bukti bahwa interval antar nada dapat dinyatakan dalam rasio 4 angka bulat pertama yang disusun menjadi sepuluh titik yang disebut “tetractys of decads”. Kesepuluh titik itu ialah: Terbatas >< tak terbatas  ><, ganjil >< genap, satu >< banyak, kanan >< kiri, laki-laki >< perempuan, diam >< gerak, lurus >< bengkok, terang >< gelap, baik><jahat, dan bujur sangkar >< empat persegi panjang.

Kaum Phytagorian berpendapat keseluruhan kosmos terdiri atas dan terbentuk dari hal yang berhadap-hadapan atau berlawanan. Mereka percaya bahwa segala sesuatu di dunia ini berhubungan dengan matematika dan segalanya dapat diprediksikan dan diukur dalam siklus yang teratur.

Mereka takjub terhadap matematika karena yakin segala fenomena alam dapat dinyatakan dalam bilangan dan perhitungan. Ia menegaskan: “if number rules the universe, number is merely our delegate to the throne, for we rule number.” (Jika bilangan mengatur alam semesta, bilangan adalah kuasa yang diberikan kepada kita guna mendapatkan mahkota, untuk itu kita menguasai bilangan).

Kelompok Phytagorian, termasuk filsuf Augustine (354-430 SM), percaya kalau seluruh fenomena alam dapat dijelaskan melalui istilah yang terdapat  pada bilangan yang saling berkaitan. Bilangan ditempatkan sebagai penanda untuk mendeteksi fenomena alam atau simbol. Bilangan enam, misalnya, selain dianggap bilangan sempurna, juga dianggap memiliki nilai mistis.

Mereka seperti memitoskan apa yang disebut dengan “bilangan sempurna”, yaitu bilangan yang apabila faktor-faktornya dijumlahkan hasilnya sama dengan bilangan itu sendiri, seperti bilangan 6, faktor-faktornya adalah 1, 2, dan 3. Jika dijumlahkan (1+2+3), hasilnya akan sama dengan 6. Angka ini selain memiliki nilai mistis, yang dipercaya sebagai simbol kepercayaan dan keberuntungan. Angka 6 ini dilukiskan Augustine sebagai keberuntungan, bukan saja karena Tuhan Menciptakan segala sesuatu dengan enam hari, tetapi memang angka enam itu merupakan bilangan yang memiliki kekuatan keteraturan dan tentu saja kebaikan.

Teologi angka 6 ini juga seolah mendapatkan legitimasi secara teologis. Selain muncul dalam Bibel, juga ditemukan angka ini dalam Alquran. Di dalam Alquran, angka 6 (sittah) terulang sebanyak 6 kali yang keseluruhannya digunakan untuk menjelaskan bahwa alam semesta ini diciptakan dalam 6 hari, seperti yang kita temukan dalam ayat: ”Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas Arasy. Dia menutupkan malam pada siang yang mengikutinya sangat cepat, dan (diciptakannya pula) matahari, bulan, dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam.” (QS al-Araf/7: 54). Selain ayat ini, juga diulangi lagi dalam QS Yusuf/10: 3, QS Hud/11: 7, QS al-Furqon/25: 59, QS al-Sajadah/32: 4, QS Qaf/50: 38, QS al-Hadid/57: 4, dan QS al-Mujadalah/57: 4.

Salah seorang ilmuwan modern pengagum Phytagoras ialah Von Martin Rees yang menyelesaikan karyanya (2001), just six number; universe, menjelaskan bentuk geometri kosmos yang dirintis oleh Pythagoras. Ia menjelaskan, kedudukan matematika sebagai pintu utama untuk membedah rahasia alam.

Pythagoras yang merintis konsep ini kemudian dikenal “Theorema Pythagoras”, sangat berguna untuk menentukan panjang sisi miring dalam segitiga siku-siku (hipotenusa).

Teori ini secara sangat sederhana dapat digunakan untuk menghitung penjumlahan akar hasil kuadrat dari kedua sisi yang lain. Teorema yang sederhana ini berlaku umum dan menjadi dasar perkembangan geometri Non-Euclid. Teorema Pythagoras ini juga disempurnakan al-Khawarismi (780-845 M) yang dikenal sebagai “Bapak al-Jabar”.

Karya-karya Ilmuwan Muslim ini menginspirasi para saintis di Barat dan boleh jadi juga Einstein yang terkenal dengan teori relativitasnya. (mf)

Prof Dr H Nasaruddin Umar MA, Guru Besar Ilmu Tafsir Fakultas Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta. Sumber: Dialog Jumat Koran Republika, Jumat, 14 Desember 2018.

Share This