Pada semester 1, 2, dan 3, setiap mahasiswa menyelesaikan beragam tugas dari 4 matakuliah. Menghadapi banyak dosen. Setiap matakuliah diampu oleh 3 dosen, rata-rata. Hebatnya, mereka bisa melalui beragam tugas itu. Beberapa pake sistem kebut semalam. Tugas makalah uas minta diundur hingga 2 kali. Tantangan tugas matakuliah selesai karena dipaksa oleh titimangsa. Kualitas makalah sedikit yang bagus, untuk tidak mengatakan tidak ada.

Pada semester 4, mahasiswa hanya berhadapan dengan 1 kaprodi. Mulai dari acc judul tesis, persetujuan ujian pendahuluan hingga ujian terbuka. 2 penguji ujian pendahuluan dan 3 penguji ujian terbuka akan memberikan saran perbaikan, disamping menguji. 1 atau 2 dosen pembimbing seharusnya memudahkan siswa dalam penulisan tesis, bukan menjadi penghambat.

Singkatnya, mahasiswa tidak sendirian dalam menulis tesis. Ada pembimbing yang akan membantu mengarahkan. Anehnya, dalam beberapa kasus, pembimbing menjadi penghambat. Misal, sulit ditemui, menyalahkan tapi tidak memberi solusi jelas, lama membalas wa, lama mengoreksi tesis. Menghadapi pembimbing seperti ini mahasiswa harus kuat dan sabar.

Kecuali pembimbing, mahasiswa bisa diskusi dengan beberapa teman tentang tesisnya. 3 atau 5 orang cukup. Diskusi rutin akan mempercepat penyelesaian tesis. Komunikasi antarmahasiswa tidak berhenti meskipun sudah tidak di kelas lagi.

Pilihan tempat diskusi, membaca buku dan jurnal, bahkan menulis tesis, cukup banyak di sekitaran kampus UIN, berbeda dengan 5 tahun belakang. Banyak cafe dan resto yang didesain bukan hanya untuk makan atau minum, tetapi untuk menulis makalah atau tesis. Mereka menyediakan meja dan kursi yang nyaman untuk duduk seharian, termasuk wifi gratis.

Tidak ada kuliah bukan berarti tidak ke kampus. Di kampus mahasiswa mendapatkan aura akademis, bertemu dosen, kaprodi, dan mengikuti ujian-ujian tesis. Mereka akan terangsang untuk menulis dan menyelesaikan tesis. Jauh dari kampus akan melenakan mahasiswa dari kewajiban menulis dan membaca.

Dr Jejen Musfah MA, Kepala Prodi Magister Manajemen Pendidikan Islam FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Disampaikan pada perpisahan kelas Magister MPI, Taman Wisata Situ Gintung, 17 Januari 2019. (lrf/mf)

Share This