Gedung FAH, BERITA UIN Online— Fakultas Adab dan Humaniora (FAH) UIN Jakarta menggelar Seminar Internasional. Acara yang mengangkat tema Ali Ahmad Bakatsir: Sastrawan Dalam Jejak Sejarah Indonesia dan Launching Buku Audatul Firdaus tersebut, dilaksanakan pada, Senin (24/09), bertempat di Teater Prof Abdul Ghani.

Selain itu, seminar yang dimulai pukul 09.00 itu, dihadiri sedikitnya 150 orang peserta yang terdiri dari mahasiswa, dosen, dan tamu undangan. Dengan tujuan mengapresiasi karya para sastrawan, seminar tersebut menghadirkan beberapa narasumber, diantaranya Dr Abdul Hakim Abdullah Zubaidi (Sastrawan asal Uni Emirat Arab), Nabiel A. Karim Hayaze (Direktur Menara Center Jakarta), dan Dosen Bahasa dan Sastra Arab Ali Hasan Al Bahar MA.

Abdul Hakim Abdullah Zubaidi dalam pemaparannya mengatakan, bahwa Ali Ahmad Bakatsir (penulis Audatul Firdaus.red) merupakan sastrawan yang berkontribusi besar dalam memperkenalkan Indonesia yang saat itu belum merdeka kepada masyarakat Mesir.

“Jauh sebelum ditulisnya Audatul Firdaus, Ali sudah sering mengisi kolom-kolom surat kabar Mesir, sehingga telinga masyarakat di sana terbiasa dengan hal-hal yang berkaitan dengan Indonesia, misalkan alam, budaya, dengan mayoritas masyarakatnya yang beragama Islam,” terang Abdul Hakim.

Di tempat yang sama, Nabiel A. Karim Hayaze menambahkan, dalam Audatul Firdaus, Ali mendeskripsikan pemimpin-pemimpin bangsa diantaranya, Ahmad Soekarno, Muhammad Hatta, dan Sutan Sjahrir sebagai pemimpin-pemimpin muslim yang berani untuk memerdekakan Indonesia. Yang paling menonjol dari ketiganya adalah penambahan nama “Ahmad” sebagai nama depan Soekarno.

“Penambahan nama Ahmad sebagai nama depan Soekarno mampu mempengaruhi pandangan pemimpin-pemimpin liga Arab pada saat itu, sehingga pada tahun 1947 Mesir menjadi negara pertama yang mengakui kemerdekaan Indonesia”, jelas Nabiel.

Selanjutnya, Ali Hasan Al Bahar ikut memperkuat argumen kedua pemateri sebelumnya. Dia mengatakan kalau Ali Ahmad Bakatsir patut mendapat tempat yang sangat penting dalam sejarah sastra di Indonesia. Ketekunan dan kemahirannya dalam menggubah syair, naskah drama, novel, dan karya sastra lainnya sampai sekarang belum ada tandingannya.

“Ali Ahmad Bakatsir tidak bisa begitu saja dilupakan dalam perkembangan sastra di Indonesia sekaligus kemerdekaan bangsa ini. Beliau berjasa besar dalam menyiarkan keberadaan dan keadaan bangsa Indonesia yang saat itu belum merdeka. Hal yang paling membekas adalah saat Ali Ahmad Bakatsir menerjemahkan lagu Indonesia Raya ke dalam bajasa Arab sehingga orang-orang Mesir bisa menyanyikannya saat berita Indonesia merdeka sampai ke telinga mereka. Selain itu radio-radio pun banyak yang memainkan drama dari karyanya Audatul Firdaus”, papar Al Bahar.

Sebagai informasi, Ali Ahmad Bakatsir adalah sastrawan kelahiran Surabaya pada 1900, kemudian menjadi warga negara Mesir sejak tahun 1951 dan wafat tahun 1969 di Mesir. Di dunia sastra Arab nama Ali masuk kategori sastrawan paling berpengaruh di sana. Orang-orang Mesir mengenal Ali, karena acapkali memasukan unsur-unsur Indonesia ke dalam karyanya dengan bahasa yang indah sehingga sangat digemari para pecinta sastra di sana. Salah satu karyanya yang terkenal dan kental dengan cerita perjuangan bangsa Indonesia adalah Audatul Firdaus (Kembalinya Surga Yang Hilang). (lrf/Irvan)

Share This