Pertanyaan mendasar yang sering dibahas di kalangan teolog, apakah Tuhan ada di dalam diri atau di luar diri kita? Apakah Ia di dalam dan menyatu dengan alam atau Ia berdiri sendiri di luar alam ciptaan-Nya? Kalangan sufi dan penganut tarekat pun sering mempertanyakan: Hal Allah fi na au nahnu fi Allah (Apakah Allah ada di dalam diri kita atau kita ada di dalam dirinya?

Pertanyaan ini tidak bisa dijawab secara memuaskan dengan menggunakan ilmu (science) yang merupakan produk akal murni, atau apa yang biasa disebut dengan ‘ilm al-hushuli (knowledge by correspondent), tetapi harus (dilengkapi) dengan menggunakan ma’rifah (gnosis) yang melibatkan hidayah (divine knowledge), atau yang biasa diistilahkan dengan ‘ilm al-hudhuri (knowledge by present).

Sekadar pengantar untuk memasuki wacana keesaan Allah dalam berbagai perpekstif, yang insya Allah diturunkan dalam beberapa artikel mendatang, maka tulisan ini berusaha untuk memperkenalkan triologi teologi yang meliputi pengetahuan tentang Tuhan, alam, dan manusia. Tak diragukan lagi Allah SWT sebagai A God dan The God, sebagaimana dibahas di dalam lima artikel serius terdahulu. Namun, yang perlu dibahas lebih lanjut ialah siapa sesungguhnya diri manusia yang dikenal sebagai mikrokosmos dan siapa alam semesta yang dikenal sebagai makrokosmos? Bagaimana hubungan antara mikrokosmos, makrokosmos, dan Allah SWT?

Jika alam disebut sebagai wujud makrokosmos dan manusia disebut sebagai mikrokosmos, lalu Allah SWT sendiri memiliki wujud-Nya, dalam waktu bersamaan kita mengenal ada tiga wujud. Kalaupun dibatasi hanya ada dua wujud, yaitu Allah SWT sebagai Pencipta dan alam termasuk manusia sebagai ciptaan-Nya sebagai sebuah wujud sendiri, maka tetap wujud itu berganda (ta’addud al-wujud).

Para teolog berusaha menjembatani antara keduanya dan mengatakan ada wujud mutlaq (al-muthlaq al-wujud) dan alam bersama manusia disebut wujud relative (al-mumkin al-wujud), tetap menyisahkan adanya etintas ganda (double entity) yang mengesankan adanya “kemusykilan” terhadap Kemahamutlakan Allah SWT. Sampai di sini akal sudah sulit untuk menjawabnya.

Untuk mengatasi kemusykilan teologi ini, muncul aliran yang secara parenial berusaha untuk menjelaskan misteri Keesaan Allah SWT, sebagai Tuhan YME. Kerja keras para pemikir perenial ini lambat laun membuahkan hasil yang lebih impresif, terutama dengan semakin majunya perkembangan sains dan teknologi, yang tentu saja ditambah dengan semakin meningkatnya multikecerdasan anak manusia. Apa yang dahulu berbeda secara diametrikal saat ini lambat laun semakin muncul titik terang. Apa yang dahulu disebut mustahil oleh sains, ternyata hanya ketidakmampuan manusia menjelaskannya.

Mendekatnya kesimpulan antara ilmuwan (scientist) dan ahli ma’rifah (agnostic) bukan hanya dengan upaya pendekatan semantik yang mengambinghitamkan problem linguistik, melainkan dengan pendekatan substansi melalui perkembangan sains dan teknologi.

Perkembangan IT yang semakin sophisticated diharapkan bukan sengaja mendekatkan antara kesimpulan (natijah) antara ilmu logika (manthiq) dan ilmu rohani (irfan), tetapi juga mampu mendekatkan jarak antara berbagai agama dan kepercayaan yang selama ini hanya diusahakan melalui pendekatan linguistik dan formal logic ditambah dengan pendekatan sosiologis.

Optimisme kita kedepan tentu bukan untuk menciptakan berbagai agama dan kepercayaan menjadi satu (al-wahdah al-adyan), itu tidak mungkin karena dalam Alquran pun secara eksplisit disebutkan: Lakum dinukum wa liyadin (untukmu agamamu dan untukku agamaku. Q.S al-Kafirun/102: 6). Namun, yang diharapkan ialah mencari titik temu secara fundamental antara berbagai kelompok dan penganut agama dan kepercayaan, sebagaimana diserukan Allah SWT dalam ayat: “Katakanlah: ‘Hai Ahli kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat yang sama (kalimah sawa’) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kalian.” (QS Ali Imran/3: 64).

Ilustrasi menarik dari Allah SWT ada di mana-mana dan tidak ke mana-mana, tergambar juga di  dalam kitab mulia  agama Hindu (upanisad): Jika Anda bertanya kepada secercah cahaya matahari, “Siapa Anda?” Ia akan menjawab “Akulah matahari.” Jika Anda bertanya kepada ombak di laut, “Siapa Anda?” Ia akan menjawab “Akulah lautan.” Jika Anda bertanya kepada Roh, “Siapa Anda?” Ia akan menjawab “Akulah Dia satu-satunya. Akulah Dia yang sendirian sekarang dan selamanya. Akulah terang dari satu matahari; Akulah gelombang di laut; Akulah nafas dari suatu kehidupan. Akulah segala hal yang terlihat atau tak terlihat. Dari Akulah semuanya muncul, dan Kepada-Ku-lah semua akan kembali.”

Lebih lanjut dikatakan: Saya bukan hanya tubuh ini, bukan hanya percikan kesadaran ini, juga bukan seluruh alam semesta ini, Akulah sumber alam semesta, dan alam semesta itu sendiri. Saya adalah objek sekaligus objek. Tidak ada yang lain di sini kecuali Aku. Dengarkan apa yang dikatakan shankaracharya: orang bodoh berfikir, ‘Aku adalah tubuh’. Orang cerdas berfikir ‘Aku adalah jiwa yang menyatu dengan tubuh; tetapi orang bijak, dengan kearifannya melihat diri sebagai satu-satunya realitas, lalu berfikir, ‘Aku adalah Brahman’.

Brahman dalam agama Buddha juga dikenal dua dimensi, yaitu Brahman Nirguna yang tampil sebagai Impersonal God (The God), Ain Sof dalam Tradisi Kabbalah Yahudi, yang dalam mistisisme Cina Taoisme, atau dalam Islam dapat diparalelkan dengan konsep Ahadiyyah, dan Brahman saguna yang tampil sebagai personal God (A God), sefired dalam tradisi Kabbalah Yahudi, Yin dalam mistisme Cina/Taoisme, atau dalam Islam dikenal dengan konsep Wahiddiyah.

Memang agak sulit untuk memahami lebih mendalam Allah SWT ada di mana-mana dan tidak ke mana-mana. Bukan Allah SWT Maha Pelit, tidak mau menjelaskan diri-Nya kepada kita, tetapi seperti apa kata Jalaluddin Rumi di dalam Matsnawi-nya, “Apa arti sebuah cangkir untuk menangkap samudra! (Allahu a’lam). (mf)

Prof Dr H Nasaruddin Umar MA, Guru Besar Ilmu Tafsir Fakultas Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta. Sumber: Dialog Jumat Koran Republika, Jumat, 7 Desember 2018.

Share This