Diorama, BERITA UIN Online— Center for the Study of Religion and Culture (CSRC) bekerjasama dengan Himpunan Qori dan Qori’ah (HIQMA) UIN Jakarta menggelar seminar yang mengusung tema Infiltrasi Radikalisme di Kalangan Mahasiswa dan Strategi Pencegahannya, Senin (23/09), di ruang Diorama, Auditorium Harun Nasution lantai dasar, kampus I UIN Jakarta.

Hadir sekaligus menjadi keynote speech dalam acara tersebut, Rektor UIN Jakarta, Amany Lubis, didampingi oleh Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Masri Mansoer dan Direktur CSRC Idris Hemay. Selain itu, turut hadir beberapa narasumber ahli, antara lain, Azyumardi Azra (Guru Besar UIN Jakarta), Irfan Abubakar (Direktur CSRC 2014-2019), Ade Armando (UI), dan Hamli (BNPT RI), serta Solehudin sebagai moderator.

Dalam sambutannya, rektor menegaskan bahwa mahasiswa UIN Jakarta tidak terpapar paham-paham radikalisme. Hal tersebut dikarenakan, UIN Jakarta senantiasa mensosialisasikan moderasi beragama dalam setiap perkuliahan, bahkan mata kuliah keagamaan serta pelajaran agama yang menyeluruh (kaffah), sudah disisipkan dalam kurikulum.

“Adapun selentingan-selentingan yang mengatakan UIN Jakarta sudah terinfiltrasi paham-paham radikal, nampaknya perlu ada kajian ulang yang lebih detail. Belum lama ini, ada penelitian mahasiswa tentang kecenderungan mahasiswa terhadap paham-paham radikal, hasilnya secara umum membuktikan bahwa di UIN Jakarta khususnya, masih masuk kategori aman,” jelas rektor.

Namun demikian, sambung rektor, hasil tersebut dan keadaan seperti saat ini tidak lantas membuat UIN Jakarta terlena dan berdiam diri. UIN Jakarta terus aktif mensosialisasikan moderasi beragama dan berusaha membentuk mahasiswa yang berpikir moderat.

“Sudah tiga kali wisuda ini, tema yang diusung selalu tentang moderasi beragama. Dengan demikian setidaknya akan menjadi acuan baik bagi sivitas akademika UIN Jakarta sendiri dalam segala aktivitasnya, atau pun bagi masyarakat luas akan mengetahui bahwa UIN Jakarta senantiasa menggaungkan sekaligus mengaplikasikan Islam yang moderat, Islam yang rahmatan lil a’lamien,” tandas Guru Besar Sejarah Politik Islam tersebut.

Di tempat yang sama, Direktur CSRC Idris Hemay menuturkan, bahwa salah satu tujuan diadakannya kegiatan seminar tersebut untuk mendukung salah satu misi Rektor UIN Jakarta yang merupakan mandate dari Menteri Agama, bahwa saat ini perlu ditekankan tentang moderasi beragama.

“Selain itu, hal ini selaras dengan kajian-kajian, penelitian juga salah satu visi misi CSRC UIN Jakarta yaitu mempromosikan nilai-nilai Islam yang ramah, damai dan menghargai perbedaan, terutama di Indonesia,” ujar Idris.

Dirinya menambahkan, bahwa CSRC sampai saat ini telah menjalin kerja sama dengan sedikitnya 5000 pesantren di seluruh Indonesia, dan lembaga-lembaga keagamaan lainnya. Tidak lupa, Idris juga mengucapkan terima kasih atas dukungan UIN Jakarta, para narasumber yang menyempatkan hadir, dan mitra sehingga acara yang penting tersebut dapat terlaksana.

Sebagai informasi, seminar yang berjalan cukup hangat tersebut, dimulai dengan penyampaian materi oleh Azyumardi Azra, yang memaparkan tentang apa itu radikalisme dan pencegahannya, kemudian Hamli, Ade Armando, dan Irfan Abubakar yang kesemuanya berbicara tentang bahaya paham radikalisme sekaligus metode pencegahannya terutama di lingkungan pendidikan. (lrf)

Share This