Gempa bumi, tsunami, dan likuifaksi (tanah/batu tiba-tiba menjadi lumpur) yang terjadi di Palu, Sigi, dan Donggala merupakan musibah dahsyat yang menelan banyak korban, baik jiwa maupun materi. Bahkan, Kelurahan Petobo hilang ditelan bumi.

Tentu tidak seorang pun menghendaki bencana terjadi. Namun, apabila bencana menimpa warga tanpa bisa dihindari seperti gempa bumi dan tsunami, tidak ada jalan lain selain berempati, bergandeng tangan, bersinergi, dan saling menolong untuk menyelamatkan jiwa dan meringankan beban penderitaan korban yang selamat. Terutama dari trauma dan pemulihan jiwa.

Selain itu, sebagai umat beragama, bencana sejatinya merupakan ujian keimanan sekaligus kesabaran dalam rangka penyadaran dan instrospeksi diri, sehingga menumbuhkan kesadaran religius bahwa bencana alam itu harus menjadi ‘laboratorium keagamaan’ untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, Sang Pemilik alam semesta ini.

Mengarifi Bencana

Kesadaran religius itu perlu dimanifestasikan dalam bentuk sikap arif dan pemikiran positif sehingga yang dicari bukan ‘kambing hitam’, melainkan pelajaran terpetik dan hikmah indah di balik bencana itu. Mengarifi bencana merupakan proses pembelajaran dan pendewasaan mental spiritual, baik bagi korban langsung maupun tidak langsung. Pelajaran terpetik itu harus dijadikan sebagai bahan introspeksi diri, muhasabah, dan dzikrullah agar kita menjauhkan diri dari kesom­bong­an dan kemaksiatan, menuju pendekatan diri dan ketaatan kepada Sang Penguasa alam semesta.

Oleh karena itu, mengarifi bencana mengharuskan kita berbaik sangka kepada Allah SWT. Bencana yang menimpa bangsa ini perlu diresponi sebagai ujian iman dan kesabaran agar yang diuji memiliki etos perjuang­an dan ketahanan mental spiritul yang kokoh. “Dan sungguh, Kami benar-benar akan menguji kamu sehingga Kami mengetahui orang-orang yang benar-benar berjihad dan bersabar di antara kamu; dan akan Kami uji perihal kamu.” (QS Muhammad (47): 31).

Mengarifi bencana itu sarat dengan edukasi iman dan penyadaran mental spiritual agar kita tetap memiliki nalar positif dan kreatif sehingga semakin bersyukur, bersabar, dan bertawakal kepada-Nya. Mengarifi bencana alam di Palu, Sigi, Donggala, pada umumnya mengharuskan kita bersikap positif bahwa bencana itu merupakan salah satu cara Allah SWT untuk menegur hamba-Nya supaya tidak melampaui batas, dengan menghentikan pelampiasan nafsu syahwat duniawi dan kekuasaan, kemaksiatan dan kerusakan di muka bumi.
Dengan kata lain, bencana menyadarkan semua untuk bertaubat dan mendekatkan diri kepada-Nya sekaligus mengembangkan kesalehan autentik dengan peneguhan iman, ilmu, dan amal saleh.

Edukasi Agama

Bencana juga mengharuskan kita mengevaluasi keberagamaan dan edukasi agama yang selama ini dilakukan. Tampaknya, keberaga­maan mayoritas warga bangsa ini masih cenderung simbolis dan ritual formal, belum substansial dan kontekstual. Sudah saatnya umat beragama memaknai bencana sebagai alarm kehidupan bahwa manusia itu milik Allah dan akan kembali kepada-Nya. Karena itu, totalitas keyakinan dan keberserahan diri kepada Allah merupakan sikap keberagamaan yang positif. “Orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un” (Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali) adalah orang yang mendapatkan kabar gembira dengan kesabaran dan keimanannya (QS Al-Baqarah (2): 155-156).

Edukasi agama yang konstruktif akan membentuk mindset (minda) positif dalam melihat bencana. Karena itu, bencana dimaknai sebagai salah satu bentuk kasih sayang Allah kepada hamba-Nya untuk membuktikan rida tidaknya. “Sesungguhnya pahala besar itu sebanding dengan ujian yang berat. Sungguh, jika Allah mencintai suatu kaum, maka Dia akan menimpakan ujian kepada mereka. Siapa yang rida, maka ia akan meraih rida Allah. Sebaliknya, siapa yang tidak suka, maka Allah pun akan murka.” (HR Ibn Majah).

Edukasi agama juga harus mencerdaskan umat bahwa bencana merupakan bagian dari kemahakuasaan-Nya. Semua fenomena alam, termasuk bencana gempa bumi dan tsunami, didesain menjadi sumber dan proses pembelajaran, dengan senantiasa membaca dan memaknai ayat-ayat Allah yang ada di alam raya dan ayat-ayat-Nya dalam kitab suci. Dengan mengintegrasikan pemaknaan ayat-ayat kauniyyah dan ayat-ayat qauliyyah, manusia dapat menemukan, memutakhirkan, dan mengembangkan sains dan teknologi, khususnya teknologi kebencanaan.

Dalam perspektif edukasi agama, bencana mengajarkan pentingnya memiliki optimisme karena kehidupan itu tidak selamanya dalam kedukaan dan kesulitan, tetapi ‘badai pasti berlalu’. Karena itu, Allah menjanjikan, “Sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan” (QS Ash-Sharh (94):6).

Nabi Muhammad SAW juga bersabda, “Sungguh mengagumkan urusan mukmin. Semua urusannya itu baginya merupakan kebaikan. Hal itu bukan untuk seseorang melainkan untuk Mukmin itu sendiri. Jika menerima kenikmatan atau kesenangan, dia bersyukur; sehingga kenikmatan itu menjadi kebaikan baginya. Sebaliknya, jika mengalami musibah (bencana), dia bersabar, sehingga bencana itu menjadi kebaikan baginya.” (HR Muslim)

Edukasi agama melalui bencana memberikan pelajaran faktual bahwa manusia itu memang lemah, tidak bisa melawan ‘kekuatan alam’. Kelemahan dan keterbatasannya harus menjadi pelajaran moral untuk tidak sombong, arogan, dan merasa paling berkuasa. Bencana idealnya menginsafkan para pemimpin dan warga bangsa untuk sadar diri bahwa Allah itu mahakuat, mahakuasa, dan mahasegala-galanya. Jangan pernah menantang dan melawan-Nya dengan mempertontonkan kemungkaran dan kemaksiatan kepada-Nya.
Dalam edukasi agama, bencana hendaknya meneguhkan pentingnya empati kemanusiaan universal untuk berempati dan berbagi sehingga semua tergerak untuk bangkit dan bersinergi, saling membantu, meri­ngankan, mendoakan, dan menguatkan optimisme dan spirit kebangkitan dari keterpurukan menuju kemuliaan dan kebahagiaan.

Adanya bencana, agama mengedukasi kita semua untuk mengeratkan persaudaraan dan solidaritas sosial kebangsaan Sehingga semua terge­rak untuk bersinergi dalam berbagi, saling mengasihi, dan meringankan beban penderitaan para korban. Dengan bencana, persaudaraan dan persatuan bangsa ini menjadi lebih kuat dan solid.

Edukasi agama memberikan ‘motivasi kuat’ bahwa musibah itu menjadi penggugur dosa-dosa. Para korban yang ikhlas menerima ujian bencana dijanjikan oleh Allah pengampunan terhadap dosa-dosanya, sekaligus ‘naik kelas’ ketakwaannya. “Tiada sebuah musibah pun yang menimpa Muslim melainkan dengannya Allah menghapuskan kesalahan-kesalahannya.” (HR al-Bukhari dan Muslim). Oleh karena itu, bencana harus diresponi dengan memperbanyak istigfar dan bertobat kepada Allah yang mahapengampun.

Edukasi agama idealnya dapat meneguhkan dan memulihkan jiwa dari kedukaan menuju kebahagiaan sehingga bencana yang menimpa bangsa ini secara bertubi-tubi ini semakin mendekatkan diri kita kepada Allah, sekaligus mengokohkan persaudaraan, solidaritas sosial, kesatuan dan persatuan bangsa. Yakinlah bahwa, “Allah akan selalu menolong hamba-Nya, selama hamba bermurah hati menolong sesamanya.” (HR Muslim). (mf)

Dr Muhbib A Wahab MA, Ketua Prodi Magister Pendidikan Bahasa Arab FITK UIN Jakarta, Sumber: Media Indonesia, Jum’at, 19 Oktober 2018, http://m.mediaindonesia.com/read/detail/191813-bencana-dan-edukasi-agama?fbclid=IwAR0SKoEUwKBL4yVD8ocWW3S7Yb7rOawnD5CJrX-eR8VWO-inNaCupkBj9VI

Share This