Gedung FITK, BERITA UIN Online– Sebagai Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan, Alumni dan Kerjasama (Wadek III) Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Jakarta periode 2015-2019, Dr Fauzan MA memahami betul bagaimana mengelola mutu pendidikan mahasiswa melalui program Beasiswa Bidikmisi (Bantuan Pendidikan Miskin Berprestasi).

Fauzan membagi pengalamannya kepada BERITA UIN Online sebagai Wadek III selama tiga tahun sampai 2019 dalam pengelolaan beasiswa program pemerintah ini pada Kamis (2/11/2017) di ruang kerjanya, Gedung FITK lantai 2. Dikatakannya:

“Hampir semua orang bisa bermimpi bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Bagi sebagian orang, asa untuk melanjutkan ke perguruan tinggi bukanlah perkara mudah. Masalah sosial ekonomi selalu menjadi hambatan seseorang untuk melanjutkan studi. Kemiskinan kadang selalu menjadi biang keladi dari semua persoalan.

Tawaran pemerintah tentang Program Bidikmisi yang menjadi program unggulan pemerintah rupanya memberikan kontribusi besar. Pasalnya, program Bidikmisi yang sudah dimulai sejak 2010 hingga 2016 tercatat lebih dari 352 ribu mahasiswa yang telah memperoleh bantuan biaya pendidikan Bidikmisi.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 87 ribu telah menyelesaikan pendidikannya (Ristekdikti, Pedoman Bidikmisi 2017). Bidikmisi sendiri merupakan program bantuan biaya pendidikan bagi calon mahasiswa tidak mampu secara ekonomi, tetapi memiliki potensi dan prestasi akademik (non akademik) untuk menempuh jenjang pendidikan tinggi. Syaratnya, para calon mahasiswa memiliki prestasi akademis yang baik, mampu membuktikan kondisi riil kehidupan kesehariannya, serta mengikuti serangkaian seleksi yang diberikan.

Mutu Pendidikan: Target Akhir Bidikmisi

Pendidikan bermutu berarti pendidikan yang mampu menghasilkan lulusan yang mampu menunjukkan kemampuan pengetahuan (knowledge), keterampilan (skill), serta soft skill atau nilai akhlaqiyah dalam mengarungi kehidupan di masyarakat.

Dalam perspektif Islam, pendidikan bermutu adalah pendidikan yang mampu menghasilkan manusia sempurna (insan kamil) dengan pribadi yang integral (integrated personality) yang mampu memadukan antara iman, ilmu, dan amal, sehingga target capaian pendidikan tertuju pada kebahagiaan/keselamatan dunia dan akhirat (rabbana aatina fil dunn yaa khasanah wafil aakhiroti khasanah waqinaa adzaa bannar).

Persoalan mutu pendidikan memang menjadi tugas dan tanggung jawab bersama (baca: keluarga, lembaga pendidikan, dan masyarakat), mulai dari input, proses, hingga output yang diharapkan. Untuk tetap menjaga mutu pendidikan nasional.

Pemerintah melalui PP No. 32 tahun 2013 menjelaskan tentang Standar Nasional Pendidikan (SNP), terdiri atas standar isi, proses, kompetensi lulusan, tenaga kependidikan, sarana dan prasarana, pengelolaan, pembiayaan, dan penilaian pendidikan. Standar nasional pendidikan berarti batas minimal sebuah ukuran kualitas pendidikan yang berlaku dan dilaksanakan di seluruh plosok negeri.

Sebagai sebuah standar minimal seharusnya pelaksanaan dan pengelolaan pendidikan dapat berjalan sesuai aturan terutama menyangkut acuan pengembangan kurikulum, tenaga pendidik dan kependidikan, sarana dan prasarana, pengelolaan, serta standar pembiayaan. Diharapkan dengan SNP, mutu pendidikan Indonesia semakin berkualitas dan bisa dirasakan oleh seluruh masyarakat luas dengan keutuhan kompetensi yang diharapkan.

Melalui program Bidikmisi pemerintah berusaha memberikan pemerataan pada pendidikan, diharapkan mutu pendidikan bukan hanya milik sebagian golongan, tetapi masyarakat Indonesia secara lebih luas.

Tawaran Pola Pembinaan

Melihat pentingnya peran Bidikmisi dalam peningkatan mutu akademik mahasiswa, tentu yang harus dibangun dari mahasiswa adalah sebuah cara pandang baru tentang beasiswa. Bidikmisi bukan hanya sebatas proses transaksional antara pemberi dan penerima dalam rentang waktu delapan semester (S1) dengan jumlah dana Rp 6.6 jt/semester, namun sebuah amanah atau tanggung jawab yang harus ditunjukkan para penerima Bidikmisi, kepada pribadi, orang tua, sivitas akademik, masyarakat, Sang Khaliq menyangkut akuntabilitas penggunaan anggaran, proses penyelesaian studi tepat waktu, hingga capaian prestasi.”

Oleh karena itu, Fauzan menyimpulkan perlu sebuah tawaran pola pembinaan bagi mahasiswa Bidikmisi, yaitu pertama membangun komunikasi intensif dan berkala antara pihak Dekanat/Rektorat dengan seluruh mahasiswa penerima Bidikmisi.

Kedua, biasakan mahasiswa melaporkan seluruh bentuk penggunaan anggaran yang digunakan. Selain melatih bagaimana cara memanfaatkan ketersediaan anggaran, yang paling penting bagaimana para mahasiswa dilatih untuk lebih bertanggung jawab dan amanah terhadap beasiswa Bidikmisi yang diterima.

Ketiga, sediakan waktu 2-5 jam/minggu bagi mahasiswa untuk berinteraksi dengan pengelola Program Studi, unit-unit lembaga fakultas/rektorat pada semua bidang akademik non akademik. Suatu interaksi yang sengaja dibangun agar control akademik para mahasiswa bisa dilakukan kapanpun, dimanapun, dan oleh sipapun selama proses pemagangan dilakukan.

Dan keempat, sediakan asrama atau ma’had sebagai tempat tinggal mahasiswa dengan tawaran program ysng sinergis dengan perkuliahan. Ketersediaan asrama atau ma’had sejatinya menjadi salah satu sarana pembentukan nilai-nilai positif melalui proses habituasi yang siatemik, terkontrol dengan rondwn kegiatan. Oleh karensnya, bagi para mahasiswa Bidikmisi (semester awal) sangat dianjurkan tinggal di asrama atau ma’had, hal ini agar mudah melakukan koordinasi dan pengawasan seluruh aktifitas yang dilakukan. (mf)

Share This