Sejak 9 tahun lalu, Unesco menetapkan 18 Desember sebagai Hari Bahasa Arab se-Dunia (al-Yaum al-‘Alami li al-Lughah al-Arabiyyah). Bahkan Persyarikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sejak 18 Desember 1973 telah menetapkan bahasa Arab sebagai bahasa internasional keenam, sejajar dengan 5 bahasa internasional lainnya: Inggris, Perancis, Spanyol, Cina, dan Rusia.

Peringatan dan pemaknaan bahasa Arab di era digital ini sangat penting bagi bangsa Indonesia yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Karena bahasa Arab merupakan bahasa Alquran dan Sunah, referensi utama ajaran Islam. Sebagai bahasa internasional, bahasa Arab bukan saja mendunia, tetapi juga telah mewarnai kosakata bahasa dunia lainnya, terutama di bidang keagamaan, sosial ekonomi, dan sosial budaya. Mempelajari dan menguasai bahasa Arab merupakan salah satu kunci utama memahami Alquran dan ajaran Islam.

Bahasa Alquran 

Bahasa Arab dipilih Allah SWT sebagai bahasa Kitab Suci-Nya, Alquran, bukan semata karena Nabi Muhammad SAW itu orang Arab, tetapi juga karena universalitas dan nilai sastranya yang tinggi. Keserasian kata, kedalaman makna, keluasan pesan, dan keindahan sastra bahasa Alquran juga merupakan argumen rasional penyampaian pesan Tuhan melalui Alquran. “Sesungguhnya Kami menurunkannya sebagai Quran berbahasa Arab, agar kamu memahaminya” (QS Yusuf [12]: 2). Dalam perkembangannya, bahasa Arab tampil sebagai bahasa peradaban, bahasa ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni.

Menurut Wahbah az-Zuhaily dalam at-Tafsir al-Munir, Alquran merupakan kitab suci paling agung yang diturunkan melalui Jibril AS, kepada Rasul paling mulia (asyraf ar-Rusul), Muhammad SAW, dengan bahasa paling mulia, bahasa Arab. Kemuliaan dan keagungan sumber, proses penurunan, penerima wahyu, dan bahasa Arab sebagai media pewahyuan bukanlah sebuah kebetulan, tetapi merupakan desain sempurna dari Allah SWT, untuk menunjukkan kemukzijatan, kebesaran, kebenaran, kehebatan, keindahan, dan kekuasaan-Nya.

Oleh karena itu, sangatlah logis jika ayat 2 surat Yusuf tersebut diakhiri dengan harapan (la’allakum ta’qilun) bahwa bahasa Alquran itu memang dapat dipelajari, dikaji, dipahami secara logis, dan dikontekstualisasikan dengan perkembangan zaman. Zamakhsyari dalam Tafsir al-Kasysyaf menegaskan bahwa redaksi ayat tersebut dipahami sebagai adanya keinginan (iradah) Allah SWT untuk menjadikan bahasa Alquran itu dipahami dan dimaknai dengan baik, tidak hanya bagi orang Arab, tetapi juga bagi umat manusia yang mau mempelajarinya.

Berbeda dengan semua bahasa di dunia, bahasa Arab sebagai Bahasa Kitab Suci mendapat garansi pemeliharaan, konservasi, dan aktualitas dari Allah itu sendiri. “Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Alquran, dan pasti Kami (pula) yang memeliharanya.” (QS al-Hijr [15]:9). Jadi, bahasa Arab merupakan satu-satunya bahasa peradaban di dunia yang otentisitas dan aktualitasnya mendapat garansi dan proteksi dari  Allah SWT.

Garansi terhadap bahasa Arab tersebut menjadi distingsi atau pembeda dengan bahasa dunia lainnya. Jika bahasa lain sangat potensial punah dan sirna dari muka bumi seiring dengan perkembangan zaman, maka bahasa Arab akan tetap terpelihara, selama Alquran tetap terjaga eksistensinya. Jika bahasa lain tidak memiliki dasar referensi dalam proses gramatisasi (taq’id), diksi, keluasan dan kedalaman maknanya, keindahan gaya bahasa dan stilistikanya, maka bahasa Arab selalu memiliki referensi dalam semua itu, selain terjaga aktualitas dan kontekstualitasnya.

Dengan kata lain, Alquran dan bahasa Arab membentuk sinergitas yang selalu aktual dan kontekstual sebagai bahasa peradaban. Secara historis, bahasa Arab terbukti mendunia, karena tidak hanya dipakai oleh masyarakat Arab di Jaziarah Arabia, tetapi juga berkembang seiring dengan penyebaran Islam. Implikasinya, masyarakat di sebagian besar negara Timur Tengah yang semula tidak berbahasa Arab berubah menjadi berbahasa Arab, seperti: Mesir (semula berbahasa Koptik), Suriah (semula berbahasa Suryani, Ibrani), Sudan, Libia, al-Jazair, Marokko, Tunis, Somalia, dan sebagainya.

Dewasa ini, terutama setelah peristiwa 11 September, bahasa Arab merupakan bahasa asing yang paling banyak diminati dan dipelajari di negara-negara Barat. Bahkan, sekadar contoh, Universitas Leipzig Jerman telah memiliki tradisi pengkajian dan penelitian bahasa Arab selama lebih dari 250 tahun, sehingga para orientalis Jerman banyak menghasilkan karya-karya monumental di bidang Bahasa Arab. Di antaranya adalah A Dictionary of Modern Written Arabic karya Hans Wehr dan al-Lughah al-‘Arabiyyah al-Mu’ashirah karya Eckehard Schulz, yang menjadi salah satu referensi standar belajar bahasa Arab di Barat.

Bahasa Arab Alquran sangat menarik dipelajari karena sarat dengan multidimensi kemukjizatan, terutama dari segi kebahasaan dan kesusastraannya. Alquran diyakini mengandung kemukjizatan dari segi syariah, isyarat ilmiah, kebahasaan, dan kebalagahan. Bahasa Alquran merupakan sebuah “lahan studi dan pengembangan ilmu” yang memungkinkan ilmu-ilmu keislaman lain berkembang.

Bagi umat Islam, Alquran dan bahasa Arab sangat penting dipelajari dan dipahami untuk menjadi pelajaran bagi umat manusia. Bahkan menurut Ibn Taimiyah, belajar bahasa Arab bisa menjadi wajib kifayah, apabila ajaran Islam harus dipahami dari sumber dan referensinya yang berbahasa Arab. “Dan demikianlah Kami menurunkan Alquran dalam bahasa Arab, dan Kami telah menjelaskan berulang-ulang di dalamnya sebagian dari ancaman, agar mereka bertakwa, atau agar (Alquran) itu memberi pengajaran bagi mereka.” (QS Thaha [20]:113).

Karena itu, bahasa Alquran itu sangat penting dipahami dan dikembangkan sebagai bahasa paling sarat makna, dan media komunikasi yang mampu mengemban pesan wahyu Ilahi. “(Yaitu) Alquran dalam bahasa Arab, tidak ada kebengkokan (di dalamnya) agar mereka bertakwa. (QS az-Zumar [39]:28).

Jadi, bahasa Arab merupakan bahasa peradaban yang sarat makna, bernas, indah, aktual, dan kontekstual  karena memang fungsi diturunkannya Alquran adalah sebagai petunjuk kehidupan bagi manusia. Bagaimana mungkin bisa berfungsi sebagai petunjuk kehidupan, jika bahasanya tidak jelas dan tidak kontekstual? Menurut linguistik teks, bahasa konstruksi dan redaksi Alquran itu satu sama lain saling menjelaskan (al-Qur’an yufassiru ba’dhuhu ba’dhan) secara intertektulitas. Sementara, salah satu tujuan pewahyuan Alquran adalah agar umat manusia mengetahui (berilmu) dan mengerti (dengan berpikir logis). “Kitab yang ayat-ayatnya dijelaskan, bacaan dalam bahasa Arab, untuk kaum yang mengetahui.” (QS Fushshilat [41]:3)

Riset Bahasa Arab

Fakta historis menunjukkan bahwa Alquran sukses menginspirasi dan memotivasi para ulama untuk melakukan riset tentang bahasa dan substansi ayat-ayatnya, sehingga muncullah berbagai cabang ilmu keislaman, seperti: ilmu kalam (teologi Islam), ulum al-Qur’an, ilmu qira’at, ilmu tajwid, tafsir, fikih, ushul fikih, nahwu, ushul nahwi,  sharaf, balaghah, tasawuf, dan sebagainya.

Dengan demikian, riset bahasa Arab berbasis Alquran di era digital atau revolusi industry 4.0 perlu terus dikembangkan, karena Alquran itu bagaikan intan-berlian yang dari sudut pandang manapun dilihat dan dikaji, pasti memancarkan kilauan yang indah, menarik, dan mempesona. Mata air Alquran tidak pernah kering “digali dan ditimba” dengan perspektif keilmuan apapun.

Inspirasi Alquran sudah terbukti melahirkan ratusan bahkan ribuan karya-karya tafsir yang telah ditorehkan para ulama. Inspirasi dan sumber daya nilai Alquran terus memberi spirit dan rahmat keilmuan bagi siapapun yang meneliti dan mendalaminya dengan kerendahan hati. Dan sebelum (Alquran) itu telah ada Kitab Musa sebagai petunjuk dan rahmat. “Dan (Alquran) ini adalah Kitab yang membenarkannya dalam bahasa Arab untuk memberi peringatan kepada orang-orang yang zhalim dan memberi kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS Al-Ahqaf [46]:12).

Sinergitas Alquran dan bahasa Arab menginspirasi dan memotivasi umat Islam untuk terus mempelajari, memaknai, dan mengontekstualisasikan syariah Islam sebagai rahmat semesta di bumi Allah manapun, termasuk Indonesia yang jumlah pembelajar bahasa Arabnya terbesar di dunia, lebih dari 8 juta, dari TK, MI/SD hingga Perguruan Tinggi (dari S1 hingga S3).

Akhirul kalam, riset dan pengembangan bahasa Arab sebagai bahasa ilmu dan peradaban mengharuskan kita melakukan kerja akademik yang serius, dengan mendata ulang dan rekonstruksi big data berbasis Alquran berikut pengembangan linguistik korpus. Big data dimaksud berupa data: huruf, kata, frasa, i’rab, isytiqaq, Sharaf, nahwu, ushul nahwi, konteks, balaghah, uslub, tadawuliyyah, logika, dan sebagainya. Dari rekonstruksi data linguistik dimaksud secara komprehensif dan sistematis, menjadi sangat terbuka ditemukannya ilmu-ilmu baru yang merupakan pengembangan atau inovasi dari ilmu-ilmu yang sudah dirumuskan para ulama. Penulis “bermimpi besar” suatu saat nanti akan dapat dirumuskan, misalnya, kontekstologi Qur’ani (Ilmu Konteks Alquran), logika Qur’ani, Ilmu Kisah Qur’ani, Stilistika Qur’ani, Pragmatik Qur’ani, dan sebagainya.

Dengan demikian, sinergitas, aktualitas, dan kontekstualitas Alquran dan bahasa Arab harus menjadi spirit dan inspirasi yang selalu “menyegarkan darah” para peneliti dan pengkaji dalam pengembangan Bahasa Arab, Linguistik Qur’ani, pembelajaran Bahasa Arab dan riset kebahasaaraban di berbagai institusi pendidikan (pesantren, madrasah, sekolah, dan perguruan tinggi). Jadi, masa depan dahasa Arab di era digital ini sangat tergantung kepada umat Islam, khususnya para pendidik,  gurubahasa Arab, peneliti, pengkaji, peminat, dan pengembangnya berikut dukungan institusional dan finansial dari berbagai lembaga keilmuan dan pendidikan. Kita sangat berharap IMLA (Ittihad Mudarrisi al-Lughah al-Arabiyyah) mampu merealisasikan “mimpu besar” tersebut menjadi kenyataan dan menjadi kontribusi berharga bagi pengembangan ilmu-ilmu kebahasaaraban. Selamat merayakan dan memaknai Hari Bahasa Arab Sedunia!

Dr. Muhbib Abdul Wahab MAg, Kaprodi Magister Pendidikan Bahasa Arab FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Wakil Ketua Umum IMLA (Perkumpulan Pengajar Bahasa Arab) Indonesia. Sumber: fitk.uinjkt.ac.id, Kamis, 19 Desember 2019. (lrf/mf)

Share This