Palu, BERITA UIN Online— Konferensi Internasional Tahunan Studi-studi Islam ke-18 atau The 18th Annual International Conference on Islamic Studies (AICIS) 2018 menghasilkan sejumlah rekomendasi dalam penanganan radikalisme. Rekomendasi diharap bisa dilakukan seluruh elemen Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) nasional sehingga penanganan radikalisme sekaligus penciptaan keseimbangan hidup beragama berbangsa bisa tercapai.

Rekomendasi dibacakan Steering Committe The 18th AICIS 2018, Prof. Dr. Noorhaidi Hasan dalam penutupan kegiatan, Rabu malam (19/9/2018). Rekomendasi pertama, jelasnya, adalah perlunya PTKI meninjauulang penggunaan perspektif lama dalam kajian keislaman. Peninjauan ulang diperlukan agar berhasil didapat perspektif baru dalam pengembangan kajian.

“Perspektif baru dalam kajian Islam perlu menilik kembali akar sejarahnya dalam membangun model Islam moderat sebagaimana yang berkembang di Indonesia dan negara-negara Asia Tenggara lainnya,” paparnya.

Forum AICIS juga menyimpulkan, sikap intoleransi saat ini terwujud dalam berbagai bentuk yang dipengaruhi oleh banyak faktor, baik faktor ideologis maupun faktor-faktor lainnya. Untuk itu, AICIS merekomendasikan respon dan strategi lanjutan yang koeksisten sehingga mampu membangun toleransi dan perdamaian melalui berbagai program dan aksi yang relevan.

Selanjutnya, AICIS merekomendasikan perlunya transfer pemahaman komprehensif tentang radikalisme di kalangan anak muda. “Paham radikal sangat cepat merasuk apabila diterima kalangan muda yang dilanda frustasi dengan berbagai fenomena sosial seperti korupsi, kemiskinan, pengangguran dan berbagai macam kondisi tidak idel lainnya,” paparnya.

Radikalisme di kalangan muda, kata dia, juga tidak bisa dipisahkan dari perubahan sosial yang cepat, modernisasi, dan globalisasi. Karena itu, forum yang diparkarsai Kementerian Agama dan melibatkan banyak akademisi dan peneliti ini menghasilkan simpulan bahwa menangani radikalisme tidak bisa dilakukan melalui satu jalur.

Kelima, langkah-langkah dalam bidang ekonomi, budaya, dan pendekatan sosial harus segera diambil untuk mengikis pengaruh radikalisme dan terorisme, selain pendekatan ideologi dan deradikalisasi. “Bila selama ini pemerintah negara-negara Islam cenderung berfokus pada pendekatan ideologi, kini saatnya mengambil pendekatan bidang ekonomi, budaya, dan sosial,” pungkasnya.

AICIS 2018 Resmi Ditutup

Sementara itu, penyelenggaraan AICIS ke-18 tahun 2018 sendiri resmi ditutup. Pantauan BERITA UIN Online, tak kurang dari tujuh panel digelar dengan para pembicara undangan ahli dari perguruan tinggi dalam dan luar negeri.

Beberapa narasumber ahli diantaranya Dominik M. Muller dari Max Plank Institute Jerman, Hans Christian Gunther dari Albert Ludwiw Universitat, Freiburg, Jerman, Prof. Hakimolahi dari Tehran University Iran, Ketua Umum PB Al-Khairaat KH Habib Ali al-Jufri, Direktur CRCS UGM Yogyakarta Dr. Zainal Abidin Bagir.

Para ahli memaparkan hasil riset dan pandangannya tentang berbagai kondisi keislaman dan studi-studi keislaman. Hal ini sesuai dengan tema utama AICIS kali ini Islam in a Globalizing World: Text, Knowledge and Practice.

Selain panel ahli, kegiatan AICIS juga diisi dengan 63 panel diskusi paper penelitian para akademisi partisipan dari berbagai perguruan tinggi dalam negeri dan luar negeri, termasuk UIN Jakarta. Mereka memaparkan sejumlah riset yang dibagi ke dalam sejumlah sub tema yang disediakan panitia. (Farah NH/syams/ali nh/zm)

Share This