Betawi Depok (22)

Oleh: Syamsul Yakin
Penulis Buku “Milir” dan Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi

Salah satu rangkaian Hari Raya Idul Fitri dalam masyarakat Betawi Depok adalah ngaji kubur. Ngaji kubur maksudnya mengaji di kuburan. Waktunya tujuh hari tujuh malam. Sejak lebaran hari pertama hingga hari ketujuh. Belakangan ngaji kubur disebut juga dengan khatmul qur’an atau khataman saja. Padahal keduanya berbeda. Ngaji kubur kental dengan nilai budaya. Khatmul qur’an kental dengan ajaran agama. Mungkin karena ngaji kubur sering dikritisi, perlahan dikatakan jadi khatmul qur’an.

Padahal aspek budaya berperan besar dalam menghidupkan ajaran agama. Misalnya, silaturahmi kepada kedua orangtua dan sanak saudara adalah ajaran agama. Namun mudik sebagai budaya menyemangatinya. Begitu juga ziarah kubur adalah ajaran agama, sementara budaya ngaji kubur menghidupi ziarah tersebut. Jadi memang antara ajaran agama dan budaya tidak bisa dipisahkan. Orang Betawi memamggul keduanya. Oleh karena itu orang Betawi dalam beragama dan berbudaya sama-sama kental. Tidak bisa dipisahkan.

Ngaji kubur istilah anak sekarang gurih-gurih sedap. Maksudnya, satu sisi kita semangat mengikutinya, di sisi lain ada perasaan takut menghantui.

Pada sekitar 1991, saya ikut ngaji kubur. Kalau tidak salah saya datang sesudah Isya. Bersama teman saya, Badruddin, saya mengaji bergantian. Awalnya tidak ada perasaan takut. Karena banyak orang ikut menemani kendati di ruang berbeda. Suara kongkow mereka masih bisa saya dengar. Itu yang menenangkan saya. Perlahan suasana mulai sepi. Sementara Makam Parung Bingung pada tahun itu, tempat orang mengaji dibuat di sudut ruangan, mencil di pojokan. Setelah saya sadari bahwa suasana kian sepi sementara pengganti belum datang, bacaan saya agak terganggu.

Untung saat itu ada Pak Mujih anak Guru Joan. Melihat saya ketakutan saya digantikan. Akhirnya, tanpa berpikir panjang saya ajak Badruddin pulang.

Saya menduga rasa takut itu muncul karena pengaruh film layar tancep yang serem-serem yang saya tonton. Kayak “Sundel Bolong”, “Pengabdi Setan”, “Ratu ilmu Hitam”, “Malam Jumat Kliwon”, “Bangkit dari Kubur”, dan lain-lain. Tanpa menonton film-film tersebut saya yakin, ketika berada dikuburan tidak akan ada lintasan pikiran tentang memedi, pocong, kuntilanak, atau sebangsanya.

Hingga 1990, yang saya ingat ngaji kubur dijadwal per RT per malam. Sebab saat itu orang masih jarang. Wilayah satu RT juga masih luas, belum dibuat pemekaran. Namun sekarang petugas ngaji kubur di Makam Parung Bingung dijadwal per RW per malam. Namun pergeseran ini tidak memunculkan pengaruh apa-apa. Kegiatan ngaji kubur berjalan dengan lancar. Bahkan dalam satu dekade belakangan acara ngaji kubur dipungkasi dengan tausiyah. Saya sudah dua kali memberi ceramah agama dalam khataman tersebut.

Pada malam khataman biasanya hadir tokoh agama, tokoh pemerintah baik eksekutif seperti lurah dan legislatif seperti anggota DPRD. inilah sisi positif ngaji kubur. Selain menjalin silaturahmi dengan yang sudah mati, juga memperbaharui hubungan baik dengan yang masih hidup. Sisi buruknya, hampir-hampir tidak ditemukan. Kalaupun diungkapkan dalam sudut pandang orang yang kontra, kapiran jadi perdebatan yang kagak puguh.

Dalam masyarakat Betawi Depok, ngaji kubur sebenarnya ada dua momen. Momen lebaran seperti yang saya tuturkan dan momen kematian seseorang. Saat seseorang meninggal, ada inisiatif dari keluarganya agar jenazah “diaji’in” hingga tujuh hari tujuh malam. Tempatnya di atas makam orang yang mati. Di atas makam tersebut dibuat tempat berteduh ukuran sedang yang bisa menampung dua hingga empat orang. Pada 2000-an saya masih menyaksikan tradisi ngaji kubur ini di Bedahan dan di Sawangan. Keduanya di Kota Depok.

Untuk ngaji kubur macam ini biasanya ada tim khusus yang dipimpin oleh serorang ustadz. Biaya yang dikeluarkan juga agak besar. Karena itu, orang yang “diaji’in” 24 jam nonstop selama tujuh hari tujuh malam adalah orang kaya, seperti almarhum mertua saya, Haji Muhammad Daan.(sam)

Share This