UIN Jakarta Akan Dirikan Harun Nasution Institute

Prof Dr Harun Nasution

Prof Dr Harun Nasution

Gd. Rektorat, BERITA UIN Online— UIN Jakarta bakal mendirikan Harun Nasution Institute sebagai penghormatan terhadap peran keilmuan dan kelembagaan almarhum Prof Dr Harun Nasution. Selain memelihara spirit dan pemikirannya, keberadaan Harun Nasution Institute diharapkan mampu menyemai pemikiran keislaman rasional dan moderat yang digagas Harun.

Demikian disampaikan Wakil Rektor Bidang Kerjasama Prof Dr Murodi MA kepada BERITA UIN Online di Gedung Rektorat, Selasa (01/009). “Ini merupakan bentuk penghargaan terhadap almarhum yang sangat berjasa mengembangkan tradisi keilmuan dan kelembagaan IAIN Jakarta hingga menjadi UIN Jakarta,” ujarnya.

Menurut Guru Besar Sejarah Kebudayaan Islam ini, pendirian Harun Nasution Institute sudah dalam tahap penyusunan naskah akademik dan desain kelembagaan. Naskah akademik dan desain kelembagaan ini nantinya akan dibahas pimpinan rektorat dan senat universitas. “Mudah-mudahan awal tahun depan sudah bisa di-launching,” tuturnya.

Selain riset keislaman yang menjadi programnya, Harun Nasution Institute akan difungsikan sebagai lembaga diskusi dan pelatihan tentang keislaman yang rasional dan moderat. Bahkan, lembaga ini nantinya direncanakan untuk difungsikan sebagai lembaga yang memberikan penghargaan terhadap individu dengan kapasitas akademik maupun peran sosial keislaman yang senafas dengan semangat dan cita-cita Harun Nasution.

Diketahui, Harun merupakan figur penting dalam perjalanan IAIN Jakarta (kini UIN Jakarta). Sebagai cendekiawan muslim, Harun menghabiskan sebagian besar hidupnya dalam menumbuhkan tradisi akademik dan keilmuan Islam yang moderat dan bercorak rasional. Dalam hal ini, ia juga merupakan guru yang melahirkan banyak mahasiswa IAIN Ciputat yang kini berkiprah banyak dalam keilmuan-keislaman tanah air seperti Prof Dr Azyumardi Azra MA, Prof Dr Komaruddin Hidayat, dan Prof Dr Dede Rosyada MA.

Selain pernah memimpin IAIN Jakarta periode 1973-1984, di tangan Harun pula didirikan program pascasarjana paling pertama di lingkungan perguruan tinggi keagamaan Islam tanah air. Sebagai akademisi, Harun menulis sejumlah karya dengan kedalaman pengaruh yang bisa dirasakan hingga kini seperti Akal dan Wahyu dalam Islam (1981), Filsafat Agama (1973), Islam Rasional (1995), Sejarah Pemikiran dan Gerakan (1975), Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya, dan Teologi Islam.

Dengan berbagai kiprahnya, banyak institusi yang menganugerahi penghargaan kepada cendekiawan kelahiran Pematangsiantar, Sumatera Utara, tahun 1919 dan wafat pada 18 September 1998 ini. Diantaranya, “Penghargaan FISIP 2009” dari FISIP UIN Jakarta bersama (alm.) Prof Dr Nurcholish Madjid dan Fachry Ali MA, Anugerah Kebudayaan berupa Tanda Kehormatan Kelas Bintang Budaya Parama Dharma dari Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono tahun 2014, dan Bintang Mahaputra Utama dari Presiden RI Joko Widodo tahun 2015. (zm)