Temukan Aplikasi Permudah Haji, Mahasiswa TI UIN Jadi Juara

Mahasiswa Teknik Informatika (TI) Fakultas Sain dan Teknologi (FST) UIN Jakarta berhasil memenangkan Hackathon Indosat Ooredo Wireless Innovation Competition (IIWC). Pasalnya, mereka berhasil membuat aplikasi yang mempermudah ibadah haji dan umrah. Sabtu, (10/9).

Mahasiswa Teknik Informatika (TI) Fakultas Sain dan Teknologi (FST) UIN Jakarta berhasil memenangkan Hackathon Indosat Ooredo Wireless Innovation Competition (IIWC). Pasalnya, mereka berhasil membuat aplikasi yang mempermudah ibadah haji dan umrah. Sabtu, (10/9).

Tangerang, BERITA UIN Online— Mahasiswa Teknik Informatika (TI) Fakultas Sain dan Teknologi (FST) UIN Jakarta berhasil memenangkan Hackathon Indosat Ooredo Wireless Innovation Competition (IIWC). Pasalnya, mereka berhasil membuat aplikasi yang mempermudah ibadah haji dan umrah.

“Alhamdulillah, kami berhasil keluar sebagai aplikasi terbaik pertama dalam kompetisi ini,” ujar Ghiyats Hanif, anggota tim UIN Jakarta kepada tim BERITA UIN Online, usai penyerahan hadiah di Universitas Multimedia Nusantara, Tangerang Selatan, Banten, Sabtu, (10/9).

Masih menurut Ghiyats, bahwa aplikasinya tersebut merupakan marketplacetravel umrah dan haji. Selama ini, belum ada aplikasi yang khusus untuk travel umrah dan haji. “Jadi, calon haji cukup mencarinya dengan satu situs. Dengan apliklasi tersebut, para pendaftar dapat mengetahui kapan berangkatnya? harganya? serta fasilitas apa saja yang didapatkan,” katanya.

Ditambahkannya, pembuatan aplikasi tersebut terinspirasi dari permasalahan yang dihadapi masyarakat. Selain itu, topik skripsinya juga menyangkut ibadah haji dan umrah. “Ini baru ide awal, nanti akan ada tahap pengembangan,” katanya.

Di tempat yang sama, Kepala Grup Budaya Transformasi Thomas Purnawan
Hackathon mengatakan, bahwa hackathon merupakan rangkaian IWIC 10 yang bertujuan mencari aplikasi mobile yang membawa manfaat dan kemudahan bagi orang banyak.

“Ini membuktikan talenta-talenta muda kita tidak kalah dari luar negeri. Cuma masalahnya, mereka kurang ruang untuk berkompetisi,” ujar Thomas.

Ditambahkannya, melalui IWIC 10 yang juga terbuka untuk peserta dari luar negeri, kami juga ingin membawa karya anak bangsa untuk siap bersaing di kancah internasional.

“Di kemudian hari Indonesia tidak hanya menjadi negara pengguna, tetapi juga pembuat aplikasi mobile yang bisa dinikmati oleh semua orang di dunia,” tambahnya.

Sebagai informasi, IWIC merupakan kompetisi pembuatan aplikasi mobile secara maraton selama 24 jam yang diikuti talenta muda berbakat. Kompetisi itu diikuti sebanyak 71 tim menjadi peserta pada kompetisi ini yang berasal dari berbagai kota, antara lain, Jabotabek, Bandung, Jambi, Padang, Pontianak, Probolinggo, Yogyakarta, Semarang, Wonosobo, Manado, dan Surakarta. Setiap tim berisi dua hingga tiga personel yang terdiri atas para developer muda, start-up lokal, dan pelajar/mahasiswa.

IWIC 10 menghadirkan berbagai kategori yang dapat diikuti, yaitu Kids, Teens, University Student and Public, Developers Category, Special Category for Women & Girls, dan Disabled Category yang dapat diikuti oleh peserta sesuai jenjang usia.

Seluruh kategori akan berkompetisi untuk ide dan aplikasi di bidang communicationslifestyle & educationmultimedia & gamesutility (tools, security, ideas/apps for disabled), tourism, dan social innovation. Peserta dapat membuat ide dan aplikasi untuk diaplikasikan di sistem operasi Android, Apple, Symbian, Blackberry, dan Windows Phone.(lrf/republika)