Sisi Lemah Buku Tentang Pak Harun

Sangat menggembirakan kehadiran buku bertajuk “Pengembang Islam dan Budaya Moderat”, yang ditulis Prof Dr Abdul Ghani Abdullah MA, Prof Dr Suwito MA, dan beberapa penulis lainnya. Buku tersebut telah diluncurkan pada Rabu (05/10), di Auditorium Harun Nasution UIN Jakarta, dihadiri oleh civitas akademika UIN Syarif Hidayatullah.

Kehadiran Prof Dr Harun Nasution dalam konstelasi pemikiran Islam di Indonesia, membawa warna tersendiri di tengah berbagai pemikiran Islam yang tumbuh dan berkembang di bumi Indonesia. Harun Nasution dikenal sebagai lokomotif dan gerbong pembaruan Islam di Indonesia. Kontribusi Pak Harun diapresiasi oleh Pemerintah RI di bawah Presiden RI, Joko Widodo memberi penghargaan Bintang Mahaputra Utama bagi Pak Harun.

Pemberian penghargaan tersebut terjadi pada peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-70. Pada 13 Agustus 2015 Presiden Joko Widodo menganugerahkan tanda kehormatan kepada 46 tokoh di Istana Negara, salah satunya almarhum Harun Nasution (1919-1998).

Seperti kita tahu, Pak Harun adalah lokomotif dan penarik gerbong pembaruan Islam di Indonesia. Ia salah satu pionir – terutama di periode akhir 1960 dan awal 1970an – yang memperkenalkan keragaman dan kekayaan khazanah Islam dalam berbagai aspeknya. Ia menggugat cara beragama di Indonesia yang tampak sempit. Menurut Harun, ini terjadi karena pendidikan Islam di Indonesia lebih ditekankan pada pengajaran ibadah, fikih, dan tauhid menurut satu mazhab saja.

Banyak tokoh Islam yang mengamini bahwa kancah intelektual Islam pada era 1970-an juga dipicu oleh figur Harun Nasution yang mencoba “membumikan” pemikiran Mu’tazilah di Indonesia. Kendati pada awalnya, ditentang oleh banyak kalangan, namun upaya Harun melalui IAIN Jakarta telah banyak menghasilkan sarjana pemikiran Islam pada era 1980-an dan 1990-an. Peran sentral Harun dalam membuka diskursus pemikiran Islam di Indonesia cukup terasa dampaknya bagi bagi generasi berikut. Hal ini terekam jelas dalam Refleksi Pembaharuan Pemikiran Islam: 70 Tahun Harun Nasution di mana para sarjana Islam dari berbagai generasi 60-an, 70-an, 80-an, dan 90-an mengakui peran Harun dalam menyeru pemikiran rasional di Indonesia, seperti yang ditulis oleh Arief Subhan, Saiful Muzani dan Fauzan Saleh.

Sisi Lemah

Sayang sekali, kebesaran Pak Harun sebagai lokomotif dan penarik gerbong pembaruan pemikiran Islam di Indonesia, tak begitu tampak pada buku Pengembang Islam dan Budaya Moderat, yang ditulis murid-murid Pak Harun. Buku ini terkesan diterbitkan secara tergesa-gesa dengan mengabaikan aspek detil dalam perbukuan.

Selain cover buku yang terkesan sangat kaku dan normatif, di beberapa halaman terlihat cetakan terbalik. Halaman terbalik. Tentu saja, halaman terbalik ini cukup mengganggu bagi pembaca untuk menelusuri jejak pemikiran Pak Harun yang cukup fenomenal itu.

Di tepi lain, buku ini tak dilengkapi data-data penulis yang memberi kontribusi tulisan pada buku tersebut. Padahal data-data penulis bisa membantu pembaca untuk mengetahui jejak rekam para penulis di buku Pengembang Islam dan Budaya Moderat. Hal seperti ini, data penulis, menjadi aturan tak tertulis tapi menjadi ‘kewajiban’ kehadiran sebuah buku.

Selain cover buku yang terkesan kaku dan normatif, di cover belakang, back cover, tak dilengkapi dengan endorsement dari para murid Pak Harun atau beberapa tokoh Islam Indonesia yang mengenal sosok Pak Harun. Endorsement menjadi cara untuk memikat pembaca agar ada gairah atau keinginan membaca isi buku. Endorsement itu seperti pemantik menyedot minat pembaca masuk ke dalam jantung buku.

Sungguh amat disayangkan, isi buku tentang Pak Harun ini berisi tulisan-tulisan yang menarik dan memikat untuk menyimak rekam jejak pemikiran Pak Harun sebagai sosok yang mengilhami kaum intelektual Indonesia. Sekadar saran, pada cetak ulang buku Pengembang Islam dan Budaya Moderat nanti, harus ditangani secara serius dan harus punya orientasi untuk dijual di pasar bebas agar jejak rekam Pak Harun bisa dibaca khalayak ramai. (fnh_eae)