Setelah AUN-QA, Apalagi?

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone
Dr. Hj. Sururin MA

Dr. Hj. Sururin MA

Dr. Hj. Sururin MA

Ketua Lembaga Penjaminan Mutu (LPM)

 

Proses visitasi dan asesmen SEAN University Network-Quality Assurance (AUN-QA) telah dilaksanakan UIN Jakarta di awal April ini. Tiga prodi dan satu fakultas telah divisitasi, yakni Prodi Bimbingan dan Penyuluhan Islam (BPI), Prodi Sejarah dan Kebudayaan Islam (SKI), Prodi Pendidikan Agama Islam (PAI), dan Fakultas Dirasat Islamiyah.

Terlepas dari penilaian yang akan diberikan dua bulan lagi, visitasi AUN-QA dinilai telah mendorong semangat peningkatan mutu akademik dan layanan UIN Jakarta. AUN-QA juga memberi konklusi bahwa UIN Jakarta siap menjadi World Class University. Tak hanya itu, mereka juga menilai UIN Jakarta menjadi tumpuan dalam menumbuhkan Islam moderat dan penuh penghormatan di Indonesia dan ASEAN.

Kepada BERITA UIN Online, Ketua Lembaga Penjaminan Mutu (LPM) Dr Sururin MA menceritakan panjang lebar proses visitasi tersebut. Berikut petikan wawancaranya:

 

Visitasi AUN-QA sudah dilakukan. Apa hasilnya?

          Sejauh pengamatan kami, ada banyak hal positif setelah visitasi AUN-QA. Dalam bahasa saya, ada banyak berkah di balik AUN-QA. AUN-QA mendorong kita untuk berbenah serius. Kalau kita melihat cara dosen mengajar, proses pembelajaran, lalu ketersediaan sarana prasarana, seluruhnya bergerak mengikuti standar AUN QA.           Banyak dosen di prodi yang divisitasi bilang, dengan AUN-QA, kampus menjadi lebih bersih, rapi dan tertata. Bahkan lucunya, ada yang bilang, sering-sering saja AUN-QA.

Memang, secara substansial, banyak rekomendasi yang diberikan AUN-QA. Tapi secara umum dari yang dipresentasikan para asesor AUN QA, seluruhnya bernada positif. Untuk itu, apapun penilaiannya, dengan AUN-QA, kita ingin meningkatkan mutu UIN Jakarta.

Di konklusi, AUN-QA berbicara soal UIN Jakarta sebagai tumpuan Islam moderat di ASEAN maupun Indonesia?

          Iya betul, dalam konklusinya para asesor AUN-QA bilang bahwa UIN Jakarta sangat potensioal menjadi World Class University. Dalam bahasa mereka, UIN Jakarta has a great potential to be a world class university, begitulah kira-kira konklusinya. Jadi menurut mereka, dilihat selama visitasi, wawancara, observasi langsung, UIN Jakarta sangat layak menjadi WCU.

          Yang lebih menarik lagi, konklusi yang mereka sampaikan, Indonesia and ASEAN depend on UIN Jakarta to propagate Islamic moderate, tolerant. Jadi intinya, UIN Jakarta dinilai mereka mampu dan bisa mempropagandakan ajaran-ajaran Islam yang benar, yang penuh perdamaian, moderat, toleran, dan menghargai HAM.

          Jadi para asesor sangat berharap UIN Jakarta bisa menjadi pionir, agen propaganda dalam mewujudkan Islam yang rahmatan lil alamin. Mereka melihat UIN Jakarta mampu membuat Indonesia dan ASEAN melakukan kontra atas aktifitas dan ide yang menyebabkan carut marut sosial seperti berlangsung di kawasan Timur Tengah kini.

         

Aspek apa saja yang membuat mereka memberikan konklusi demikian?

          Dari sisi kurikulum. Kita mengajarkan kurikulum yang inti dan content-nya sesuai visi misi kita yang mengintegrasikan sisi keislaman, keindonesian, keilmuan, dan kemodernan. Dan, kita betul-betul berusaha menjalankannya sehingga mampu mewujudkan Islam sebagai rahmatan lil alamin, sehingga Indonesia menjadi lebih baik, dunia Islam lebih baik, peradaban juga jajdi lebih baik lagi. Kemudian penerbitan juga mengarah ke sana, sehingga benar-benar menjadi referensi dalam mempropandagakan Islam Rahmatan lil-‘Alamin, Islam moderat, penuh damai, toleran, dan penuh penghargaan hak-hak orang lain. Selanjutnya, suasana yang kondusif di UIN Jakarta Indonesia. Jadi. baik kurikulum, penerbitan, maupun suasana menjadi faktor pendukung lahirnya konklusi tersebut.

 

Lalu, apa sisi kelemahan kita?

          Banyak item yang mereka minta kita memperbaikinya. Standar penilaian AUN-QA kan ada 15 item yang harus dilihat dan dipenuhi siapapun, termasuk UIN Jakarta. Dari ke-15 itu, ada beberapa hal penting koreksi yang mereka berikan kepada UIN Jakarta. Pertama, kurikulum, mereka kritisi. Kedua, teaching learning process juga dikritisi. Center teaching learning kitamasih lemah, belum terdesain dengan baik. Meski kita juga bilang bahwa masing- masing prodi mempunyai kekuatan berbeda-beda.

          Di prodi Islam, misalnya, ada Fakultas Dirasat Islamiyah. Kita bilang ini adalah model pendidikan Universitas al-Azhar. Tapi mereka bertanya, mengapa mahasiswa asingnya sedikit, hanya enam orang. Jadi kalau disimpulkan, promosi kita masih kurang. Mahasiswa ASEAN kurang banyak yang belajar ke sini.

          Item lain adalah aspek alumni dan user. Kelemahan kita menurut mereka adalah alumni kita belum diprospek, belum tertangani dengan baik. Untuk itu, UIN Jakarta direkomendasikan punya Career Development Center (CDC). CDC menjadi keniscyaan. Dengannya, kita bisa mengoneksikan mereka dengan market, sehingga begitu lulus, mereka sudah bisa terserap. Itu sudah ada, tapi belum by design.

15 item yang menjadi kriteria penilaian AUN-QA itu apa saja?

          Salah satu diantaraya expected learning outcome. Dalam hal ini, ditanyakan mahasiswa UIN Jakarta ke depan itu mau jadi apa? Sasaran mereka kemana? Kemudian, program spesifik prodi satu dengan prodi lain itu apa? Apa distingsi dan karakter yang membedakan satu prodi dengan prodi lain. Lalu,struktur program dan content kurikulum. Beruntung kita sudah menggunakan KKNI. Itu sangat membantu karena KKNI diproses dan diarahkan ke sana.

          Kriteria lain adalah pendekatan kita. Begitu juga student assessment, penilaian mahasiswa ke dosen dan sebaliknya dosen menilai mahasiswa. Itu juga jadi bagian yang ditanyakan. Misalnya kita berikan nilai 3, apa alasannya? Item lain adalah academic staff, dilihat dari profil dosennya, bagaimana mereka mengajar, apa saja kualifikasi mereka.

          Kemudian teaching e-larning bagaimana. Misalnya di Fakultas Adab dan Humaniora yang sudah menggunakan e-learning, itu dicek betul oleh mereka. Begitu juga fasilitas, sarana prasarana, dan fasilitas K3. Seluruhnya betul-betul dicek, termasuk alumni. Jadi 15 item yang menjadi standar penilaian mereka itu mulai dari proses pembelajaran, tujuan pembelajaran, hingga kepuasan pelanggan.

 

Sebetulnya apa yang ingin dicapai UIN Jakarta dengan AUN QA ini?

          Mungkin tidak ada sebuah tujuan akhir. Bagi UIN Jakarta ini adalah improvement. Sebab yang namanya mutu itu bukan tujuan, bukan destinasi akhir, melain sebuah proses yang harus terus berjalan. Artinya dengan AUN-QA, kita berusaha melangkah untuk memperbaiki standar mutu sesuai kriteria AUN QA. Saya kira itu yang ingin kita lakukan dengan AUN-QA.

         

Setelah PAI, SKI, BPI, dan FDI dan dampak positifnya, ada prodi lain yang akan mendaftar akreditasi AUN QA?

          Banyak yang ngantri ingin didaftarkan AUN-QA. Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan telah meminta Prodi Pendidikan Bahasa Arab masuk dalam program akreditas AUN-QA 2017. Begitu juga Fakultas Syariah dan Hukum, Fakultas Ushuluddin, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, dan fakultas-fakultas lain menyatakan ketertarikannya untuk diakreditasi AUN-QA. Ini adalah berkah, bahwa AUN-QA kemarin menumbuhkan kesadaran kita untuk memperbaiki mutu, mengerek standar lebih baik.

 

Banyak yang ingin ikut AUN QA, saran Anda?

          Kita ini baru pertama kali melakukan sertifikasi AUN-QA sehingga kemarin kita lakukan persiapan pontang-panting, kita lakukan dengan penuh keterbatasan. Saran kami, bila ingin disertifikasi AUN-QA, mulailah merancangnya dari sekarang secara lebih sistematis, lebih matang sehingga bisa diproses lebih baik. Terkait itu, Pak Rektor telah meminta LPM menyiapkan presentasi rekomendasi AUN-QA kemarin. Di situ, kita bisa sampaikan apa saja yang harus disiapkan dari sekarang.

 

UIN Jakarta pertama kalinya AUN QA?

          Betul, semua belum disertifikasi AUN-QA, baru UIN Jakarta saja. Karena itu, saat UIN Jakarta divisitasi, mereka sangat reponsif, apresiatif, dan bilang ingin belajar ke UIN Jakarta. Tanggal 19-21 April besok misalnya, ada forum jaminan mutu Pergruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) di UIN RIAU. Dalam forum tersebut, mereka minta UIN Jakarta mempresentasikan AUN QA. Untuk itu, kita minta Pak Rektor UIN Jakarta (Prof Dr Dede Rodaya MA) menjadi keynote speech kegiatan tsersebut. Begitu juga UIN Surabaya pada 27 April meminta UIN Jakarta memaparkan proses akreditasi AUN-QA. Jadi visitasi AUN-QA tidak hanya berdampak bagi internal UIN, tapi juga bagi PTKIN secara keseluruhan.  (zm/hmn)