Sambut Penghuni Baru, Ma’had Jami’ah Terapkan Kurikulum Baru

WhatsApp Image 2016-08-15 at 12.19.33

Penyerahan piagam kepada mahasantri oleh Ketua UPT Ma’had Jami’ah Dr Akhmad Sodiq MA pada acara Haflah at-Thakhorruj (Pelepasan) Mahasantri Ma’had al-Jami’ah, Selasa (21/07/16)

Ma’had Jami’ah, BERITA UIN Online– Pada awal September mendatang, UIN Jakarta akan memulai Tahun Akademik Baru 2016. Ribuan mahasiswa baru akan mengikuti perkuliahan perdana di kampus yang menempati ranking pertama versi Google Scholar Citation di lingkungan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) dan 6 besar skala nasional edisi Juli 2016 ini.

Guna menyambut penghuni (baca: mahasantri) baru, Unit Pelayanan Teknis (UPT) Ma’had Jami’ah yang menjadi bagian UIN Jakarta dalam menghasilkan output berkualitas, mulai berbenah diri dengan menerapkan kurikulum baru.

In sya Allah tahun ini kita akan terapkan pembinaan untuk seluruh mahasantri baru,” ujar Ketua UPT Ma’had Jami’ah Dr Akhmad Sodiq MA saat ditemui BERITA UIN Online usai memimpin kegiatan rutin Zikir dan Taushiah di kediamannya, Komplek Peruri Legoso Ciputat, Sabtu (1/8/16).

Tahun lalu, lanjut pria yang selalu berkopiah tersebut, pembinaan hanya dilakukan di Ma’had Putra dan Ma’had Putri saja. Untuk tahun ini, pembinaan dilaksanakan di seluruh asrama yang sekarang sebutannya menjadi Ma’had.

“Sekarang istilah Ma’had kita pakai untuk seluruh asrama, maka penghuninya disebut mahasantri. Mereka tidak lagi hanya numpang tidur, tapi mendapatkan pembinaan mirip di pondok pesantren (ma’had),” imbuh Sodiq.

Sodiq menjelaskan, UPT yang menaungi lima ma’had/asrama ini mampu menampung 974 mahasantri baru dengan rincian kuota Ma’had Putra 204 orang, Asrama Putri (Aspi) 360 orang, Asrama Putra (Aspa) 140 orang, Aspi Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) 210 orang dan Aspa FKIK 60 orang.

“Setiap 16 orang akan dibimbing 1 mudabbir/mudabbiroh (pengurus) yang menjadi mentor pelajaran bahasa Arab, bahasa Inggris, Kitab Kuning dan Tahfizh Qur’an. Tahun ini, mahasantri hanya diperkenankan untuk tinggal di ma’had selama satu tahun, kecuali bagi yang rajin dan berprestasi, kita persilahkan untuk tinggal sampai selesai studinya,” tegasnya.

Dosen Akhlak Tasawuf Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan tersebut mengungkapkan, untuk para mentor, mereka dibebaskan dari biaya ma’had. Mereka dipilih dari mahasantri semester tiga yang memenuhi kualifikasi sebagai mentor untuk bahasa Arab, bahasa Inggris, Kitab Kuning dan Tahfizh Quran.

Sebelumnya, untuk penghuni yang tinggal di asrama, baik putra maupun putri dikenakan biaya Rp 2.000.000 pertahun, sementara penghuni ma’had (putra dan putri) dikenakan biaya lebih besar, yaitu Rp 3.300.000 karena ada pembinaan.

“Untuk tahun ini, semua diseragamkan menjadi Rp 3.500.000 karena seluruhnya mendapatkan pembinaan. Kita sudah mengajukan usulannya kepada pimpinan, termasuk usulan untuk merubah nama asrama dengan nama-nama tokoh yang ada relevansinya dengan Syarif Hidayatullah. Semoga disetujui,” harap Sodiq.

Diuraikannya, Ma’had Putra dinamai Ma’had Syeikh Nawawi al-Bantani, Aspa dinamai Ma’had Syeikh Abdul Karim Tanara dan Aspa FKIK dinamai Syeikh Asnawi Caringin. Sementara Aspi dan Ma’had Putri dinamai Ma’had Syarifah Khodijah putri Syarif Hidayatullah, dan Aspi FKIK dinamai Ma’had Syarifah Muda’im (Rara Santang) ibu Syarif Hidayatullah.

“Di samping program baru, pelayanannya juga baru. Tahun lalu masih ditangani bagian kemahasiswaan, tapi tahun ini seluruhnya diserahkan ke UPT Ma’had Jami’ah, mulai urusan pendaftaran, pembayaran, pengelolaan ma’had, baik untuk keperluan perlengkapan maupun pembinaan mahasantri,” pungkas Doktor Bidang Pemikiran Islam tersebut. (mf)