Resensi Buku: Membaca Ulang Pemahaman Hadits Para Jihadis

159Bagi sebagian masyarakat Muslim yang belum mendalami ilmu agama, propaganda kelompok radikal tentang jihad dengan menggunakan hadis-hadis Nabi sepertinya sulit untuk dibantah. Setiap muslim pasti mengakui kedudukan hadis Nabi Muhammad sebagai sumber hukum kedua setelah al-Quran. Namun, memahami hadis tanpa ilmunya tidak bisa dilakukan secara serampangan, termasuk menyangkut hadis-hadis jihad.

Kelompok radikal yang dimaksud adalah IS (Islamic State) —dulunya bernama ISIS (Islamic State of Iraq and Suria). Dengan memakai hadis seputar hijrah, jihad, ghuraba dan lain-lain, mereka merekrut ribuan anggota dari seluruh dunia, tak terkecuali Indonesia. Padahal, hadis-hadis yang dijadikan alat legitimasi oleh mereka itu perlu dikajiulang.

Dalam konteks itulah, para peneliti hadits alumni UIN Jakarta yang tergabung dalam el-Bukhari Institute turut merasakan kekhawatiran akan sepak terjang IS memanfaatkan hadis-hadis Nabi untuk kepentingan mereka. Atas tanggung jawab akademik, mereka akhirnya menyusun buku dengan judul Meluruskan Pemahaman Hadis Kaum Jihadis untuk menangkal propaganda IS.

Tim penyusun buku mendata hadis-hadis yang termuat di majalah Dabiq (majalah terbitan IS sebagai alat propaganda dapat diakses online, red.) dan menklasifikasikannya menjadi sebelas topik. Hadis tersebut dikupas secara tuntas dan gamblang dalam bahasa yang ringan dan mudah dipahami. Meski memakai bahasa populer, bobot buku ini tidak berkurang sedikit pun. Karena sumber referensi yang otoritatif disertakan sebagai catatan kaki.

Dalam buku ini diuraikan bahwa untuk memahami hadis sedikitnya diperlukan dua metode: pertama kritik sanad untuk melihat sejauh mana hadis itu terpercaya (tsiqqah) dari segi periwayatan, dan kedua metode pemahaman hadis yakni dengan melihat konteks kemunculan (asbab wurud) dan relevansinya di masa sekarang. (hlm. 6)

Ketika memahami hadis tentang hijrah dalam kitab Ahmad dan Abu Daud, misalnya, dijelaskan bahwasanya salah satu perawi dari jalur periwayatannya lemah (dhaif). Selain bermasalah dari sisi periwayatan, diterangkan pula dari sisi konteks kesejarahan dan fikih. Pada dasarnya hadis tentang hijrah mesti dipahami dalam naungan kebebasan praktek ibadah. (hlm.22)

Contoh lain adalah hadis mengenai jihad dengan berperang. Meskipun dari jalur periwayatan tidak diragukan kesasihannya, tetapi hadis ini tidak serta merta harus diamini begitu saja. Jihad tidak selalu tentang perang, tetapi jihad yang sesungguhnya adalah menebar kebaikan dan perdamaian. Ditambah lagi perlu dibedakan konteks situasinya, hadis ini muncul dalam situasi konflik. Hadis tentang jihad berperang ini semestinya diletakkan di bawah hadis tentang perdamaian, bukan malah sebaliknya. (hlm. 32)

Menurut buku ini, kesalahan pemahaman hadis yang diperlihatkan IS tidak berhenti pada aspek riwayat dan konteksnya saja. Namun seringkali mereka memotong hadis dengan tidak menyertakan redaksi hadis secara utuh. Seperti contoh hadis tentang Negara Islam, kelompok IS tidak memperlihatkan semua bunyi hadis. Hadis tersebut berbunyi: “Aku (Nabi Muhammad saw) berlepas diri dari setiap Muslim yang hidup di tengah-tengah orang musyrik. Tidak akan terkumpul dua api mereka berdua.”

Padahal, konteks hadisnya terkait Khalid bin Walid dalam perang Khats’am. Ia tetap membunuh orang-orang yang sudah menyerah. Kemudian Nabi menghukum pasukan Khalid dengan membayar diyat (denda). Dan bunyi sabda Nabi mengenai berlepas diri, sebenarnya dimaksudkan agar pasukan Khalid tidak tinggal di wilayah konflik. Pemaknaan IS malah terbalik, mereka mengajak umat Muslim untuk hijrah ke negara konflik. (hlm. 60)

Yang menjadikan buku ini sangat penting, selain karena kontennya, adalah testimoni dari berbagai tokoh tingkat Nasional dan Internasional. Sebut saja Lukman Hakim Saifuddin Menteri Agama, Nadirsyah Hosen dosen Rais Syuriah PCINU Australia-Selandia Baru dan lain lain. Artinya, buku ini penting karena sudah dibaca oleh orang-orang penting.

Identitas buku

Judul               : Meluruskan Pemahaman Hadis Kaum Jihadis

Penulis            : Abdul Karim Munthe, dkk

Penerbit          : Yayasan Pengkajian Hadits el-Bukhori

Cetakan           : I, April 2017

Tebal               : xxiv + 170 halaman

ISBN               : 978-602-74686-2-7

(Farah/Wildan Imaduddin Muhammad/ZM)