Resensi Buku: Lentera Kehidupan

159

Berkembangnya tradisi pengetahuan dan sains tak hanya melahirkan kemajuan peradaban manusia, melainkan turut mengkreasikan gugatan atas nalar iman religiusitas mereka. Cara berfikir dengan corak rasional dan empiris yang muncul di dalam tradisi pengetahuan dan sains seringkali menyodorkan argumentasi yang membabat nalar keimanan akan Realitas Yang Maha Mutlak.

Dalam peradaban modern ini, neurolog dan pendiri aliran psikoanalisis Sigmund Freud misalnya, menempatkan ide tentang tuhan sebagai ilusi dan keyakinan atasnya sebagai hal sia-sia. Seperti halnya Freud, etolog dan biolog evolusioner Richard Dawkins menempatkan ide tentang tuhan sebagai delusi. Kendati terkesan sarkastis bagi masyarakat pengiman, namun argumentasi ilmiah mereka terkadang sulit dibantah oleh banyak masyarakat pengiman.

Menghadapi argumen demikian, seorang pengiman butuh basis argumentasi yang kuat. Basis ini diperlukan agar ‘pembelaan’ iman yang mereka lakukan tak kalah rasional dan argumentatif.

Tentang hal itu, buku Mulyadhi Kartanegara bisa menjadi salah satu karya yang patut dipertimbangkan. Buku berjudul Lentera Kehidupan Panduan Memahami Tuhan, Alam dan Manusia bisa diletakkan sebagai rujukan penting masyarakat pengiman dalam membangun basis argumentasi keimanan mereka.

Sebagai basis argumentasi iman, buku ditulis dengan menjawab sejumlah pertanyaan yang seringkali masih digunakan dalam mengkritik nalar iman masyarakat pengiman. Misalnya, apakah Tuhan ada? Jika ada, bagaimana membuktikannya?

Untuk menjawab pertanyaan dan keraguan kelompok sekuler tentang keberadaan Tuhan yang mengukurnya secara empirik, penulis membangun argumentasi iman dari sudut pandang kosmologis, ontologis, dan teleologis. Dari sudut kosmologis, penulis menariknya dari perenungan semesta dan apa yang terjadi di dalamnya bahwa seluruhnya tidak mungkin tercipta dan berjalan tanpa ada sebab. Dalam hal ini, maka Tuhan dikonsepsikan sebagai Sebab Pertama (al-‘Ilāh al-Ūla) atas hadirnya semesta (h.16-17).

Dari sudut ontologis, penulis membangunnya dari perdebatan tentang wujud (alam). Salah satunya, argumen kemungkinan (dalīl al imkān) Ibnu Sina dimana tuhan merupakan Wājib al Wujūd, wujud yang harus selalu ada, baik pada masa lalu, masa kini, dan masa depan. Ia berbeda dengan wujud yang tercipta, baru, atau tidak terbebas dari kemusnahan (h 20-21).

Sedang dari sudut teleologis, penulis menuliskan argumen keberadaan tuhan dari keyakinan bahwa alam semesta diciptakan dengan tujuan (kepentingan manusia) dan dalam rancangan (design) khusus. Penciptaan yang menakjubkan dan rancangan semesta yang indah inilah menjadi bukti adanya tuhan sebagai pencipta dan perancang luar biasa (h. 25).

Secara teknis, buku ini memuat tiga bagian utama yang mewakili tiga tema penting yang seringkali jadi perdebatan masyarakat pengiman dan non-pengiman, yakni Tuhan, Alam, dan Manusia. Bagian pertama, Tuhan, memuat empat bab yang membahas zat dan sifat tuhan, argumen keberadaan tuhan, keesaan tuhan, dan transendensi dan imanensi tuhan.

Bagian kedua, Alam, memuat empat bab yang mendeskripsikan hakikat alam, hubungan alam dan tuhan, teori penciptaan alam, dependensi dan otonomi alam. Bagian ketiga, manusia, memuat empat bab tentang hakikat manusia, relasi manusia dan alam, relasi manusia dengan tuhan, dan relasi manusia dengan sesamanya. Di bagian akhir, buku ini dilengkapi epilog sebagai ringkasan yang padat atas penjelasan penulis tentang tema Tuhan, alam, dan manusia.

Ditulis dalam bahasa yang cukup ringan dengan berbagai rujukan al-Quran, hadits, dan karya-karya teologis dan mistik memungkinkan pembaca buku ini tidak akan kesulitan untuk segera menangkap diskursus ketiga tema, tanpa kehilangan kedalaman substansinya.

Lebih dari itu, ditulis seorang Guru Besar Filsafat Islam UIN Jakarta, buku ini menawarkan panduan penting bagi siapapun untuk memegang agama bukan hanya sebagai dogma yang diimani (ta’abbudi), melainkan dilandasi nalar ilmiah (ta’aqquli).

Judul              : Lentera Kehidupan Panduan Memahami Tuhan, Alam, dan Manusia

Penulis            : Mulyadhi Kartanegara

Penerbit          : Mizan

ISBN               : 978-602-441-008-7

Tahun              : Mei 2017

Tebal               : xxvi + 296 Halaman (Farah/zm)