Rektor: UIN Jakarta Kampus Humanis Inklusif

159Auditorium Utama, BERITA UIN Online— UIN Jakarta akan terus mengokohkan diri sebagai kampus yang humanis-inklusif dalam mendorong tumbuhnya iklim akademik sekaligus budaya penghargaan terhadap keragaman. Selain infrastruktur, karakteristik humanis inklusif disemai melalui tradisi akademik yang berlangsung di dalamnya.

Demikian disampaikan Rektor Prof Dr Dede Rosyada MA saat melantik 749 wisudawan wisudawati program sarjana, magister, dan doktoral di hari kedua edisi wisuda ke-105, Rabu (30/7/2017). Selain wisudawan dan keluarga, wisuda juga dihadiri pimpinan rektorat dan senat UIN Jakarta.

Rektor menuturkan, sebagai lembaga pendidikan tinggi keagamaan Islam nasional, UIN Jakarta memiliki tugas dan tanggung jawab menyemai sikap humanis dan inklusif. “Yang (ketiganya, red.) dibutuhkan dalam konteks kehidupan keislaman, keindonesiaan, dan kemanusiaan modern yang lebih berbudaya,” ujarnya.

Sikap humanistik sendiri, ungkapnya, disemai dengan mendorong tumbuhnya humanisme dalam ruang belajar, akses pendidikan, dan lingkungan. Di ruang belajar, proses pembelajaran diarahkan dengan memfasilitasi kreatifitas dan inovasi pembelajaran, baik yang dilakukan guru maupun –yang terpenting— mahasiswanya.

“Ini ditujukan agar para sarjana lulusan UIN Jakarta menjadi generasi yang kreatif, inovatif, percaya diri, dan berpandangan humanis atas keragaman sehingga dengan begitu mereka bisa diterima dalam realitas keragaman saat memasuki dunia professional masing-masing,” tuturnya.

Humanisme di akses pendidikan, UIN Jakarta terus berikhtiar menjadi kampus yang ramah terhadap mahasiswa-mahasiswi difabel. Selain terus me-redisgn kurikulum dan perkuliahan yang memungkinkan para mahasiswa difabel bisa belajar dengan nyaman, UIN Jakarta juga menjadikan kampus ini menjadi humanis dengan menyediakan infrastraktur gedung yang ramah bagi mereka.

“Dengan begitu, hak-hak mereka untuk belajar dan beraktifitas selama di wilayah kampus semaksimal mungkin bisa terpenuhi dengan baik,” katanya.

Tidak hanya ramah bagi kelompok difabel, UIN Jakarta juga terus berikhtiar menjadi kampus yang ramah bagi para ibu menyusui dengan membuat ruang-ruang laktasi. Sementara ini, penyediaan ruang laktasi sudah dimulai di gedung rektorat melalui Pusat Studi Gender dan Anak/PSGA) dan Rumah Sakit UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

“Ini merupakan bagian terkecil ikhtiar UIN Jakarta menjadi kampus humanis. Insya Allah ke depan, penyediaan ruang-ruang laktasi akan menjadi perhatian universitas,” tambahnya.

 

PTKIN Inklusif

Sementara sikap inklusif, lanjutnya, diteguhkan dengan sikap keterbukaan universitas terhadap siapa pun yang memiliki keinginan untuk belajar di kampus ini, termasuk para calon mahasiswa dengan latar belakang keagamaan yang berbeda. UIN Jakarta melalui Sekolah Pascasarjana dan Pascasarjana Fakultas, misalnya, telah menerima sejumlah mahasiswa dari kalangan non-Muslim.

Diantaranya, Pastor Katolik Romo Dr. Gregorius Soetomo SJ dan Pendeta International Full Gospel Fellowship sekaligus Teolog Protestan Sekolah Tinggi Teologia Internasional Harvest Hannas. Keduanya telah berhasil menamatkan pendidikan doktor tahun ini.

Soetomo lulus setelah mempertahankan disertasi berjudul Bahasa, Kekuasaan, dan Sejarah. Historiografi Islam Marshall G.S. Hudgson dalam Perspektif Kajian Poststrukturalisme Michel Foucault. Sedang Hannas lulus setelah mempertahankan disertasi berjudul Islam Rahmatan Li Al-Alamin: Studi tentang Pemikiran dan Kiprah Dakwah Muhammad Shamsi Ali di New York.

Selain keduanya, di program Magister Fakultas Ushuluddin, puluhan warga dan tokoh agama Khonghucu juga belajar di kampus ini. Bahkan, Ketua Umum Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (MATAKIN) Uung Sendana tengah menyelesaikan tesis magisternya di fakultas tersebut.

“Keterbukaan UIN Jakarta menerima mereka sebagai mahasiswa menegaskan bahwa kampus ini merupakan kampus yang inklusif,” kata rektor.

Di luar keyakinan agama, inklusifitas UIN Jakarta ditandai dengan keterbukaan untuk menerima mahasiswa dengan beragam latar belakang tidak hanya dari 34 provinsi seluruh tanah air, melainkan juga dari negara-negara dari berbagai kawasan geo-kultural. Selain Asia Tenggara, ratusan mahasiswa berasal dari negara-negara di kawasan Asia, Afrika, Australia, Eropa, dan Amerika.

“Seluruhnya –dengan keragaman latar belakang masing-masing— datang belajar dan diterima dengan tangan terbuka oleh UIN Jakarta,” jelasnya.

Di lingkungan UIN Jakarta sendiri, sambungnya, sikap inklusif sudah merupakan bagian penting dari sejarah perkembangan institusi ini. Melalui kurikulum dan akademisinya, UIN Jakarta meneguhkan diri sebagai perguruan tinggi keagamaan Islam negeri terdepan dalam mendorong tumbuhnya sikap toleransi dan penghargaan atas keragaman.

“Tentu saja, hal yang harus digarisbawahi, sikap inklusif yang ditekankan UIN Jakarta adalah sikap toleransi dan penghargaan terhadap keragaman yang diimbangi dengan dorongan kesetiaan terhadap komitmen keagamaan masing-masing,” tandasnya.

Keragaman sendiri, lanjutnya, merupakan modal bagi masing-masing pihak untuk berkompetisi memberikan kontribusi terbaik bagi kehidupan kemanusiaan dan lingkungan.  (farah nh/yuni nurkamaliah/zm)