Ramadhan di Kanada (4): Kanada dan Ajaran Islam

University of Toronto

Ali Hudaibi di depan University of Toronto Canada

Kanada, Berita UIN Online– Kembali Ali Hudhaibi, salah satu dari dua imam di SKC Kanada utusan UIN Jakarta menuturkan kisahnya selama bertugas di sana. Kali ini, ia bercerita tentang Kanada dan Ajaran Islam. Melalui akun Facebook-nya, Selasa (19/6/16) ia menuturkan:

“Ketika kami bertanya kepada salah seorang warga Indonesia yang pernah lama tinggal di Amerika dan sekarang tinggal di Kanada;

“Pak enak mana tinggal di Amerika atau di Kanada?”

Beliau menjawab, “Kalau dari sisi kenyamanan menjalankan ritual keagamaan, Kanada lebih welcome dan sangat menghargai. Sementara di Amerika tidak. Di Kanada kita bisa melihat banyak kaum muslimin yang berpeci dan berkerudung di jalanan, di mall-mall, dan sebagainya. Mereka bebas menampilkan identitas keislamannya dengan tanpa rasa takut dan pandangan sinis sedikitpun. Sementara di Amerika tidak. Tapi kalau dari sisi “perdapuran” di Amerika lebih murah-murah. Murah-murah karena pajaknya yang rendah. Sementara di Kanada mahal-mahal karena pajaknya yang tinggi.”

Selain itu, Kanada adalah negara pertama yang menerima pengungsi muslim dari Amerika akibat teror Pentagon 09/11/01. Kaum muslimin berbondong-bondong ke Kanada, bahkan tidak sedikit yang kemudian tinggal dan mendapat pekerjaan di Kanada.

Bila kita keliling-keliling kota di Kanada, sebutlah Toronto, kita akan menemukan ajaran Islam yang teramalkan di sini. Ajaran yang justru ada di mayoritas non-muslim.

Misalnya, kami tidak menemukan ada pengemudi mobil yang saling adu klakson dengan pengemudi lain karena buru-buru atau yang lainnya. Di jalanan sangat rapih dan tertib.

Setiap belokan, pertigaan, dan perempatan, ada pejalan kaki atau tidak, pengemudi mobil akan mengurangi kecepatannya, bahkan terkadang berhenti, apalagi lewat pejalan kaki, pasti didahulukan.

Setiap mobil yang dikemudikan wajib berjarak antara satu dengan yang lainnya. Karena itu wajar tingkat kecelakannya sangat rendah. Belum lagi bicara kebersihan, keramahtamahan penduduknya, dan sebagainya.

Inilah ajaran Islam, mencegah kerusakan itu mesti didahulukan daripada memperbaikinya. Dar ul mafasid muqaddam ‘ala jalb al-mashalih. Bukan tertusuk duri dulu baru menghilangkannya.

Di sisi lain, ada yang unik dari cara non-muslim Kanada menghormati kaum muslimin setiap memasuki Ramadhan. Sebagian mereka ada yang ikut berpuasa karena menghormati kaum muslimin yang berpuasa. Bahkan ada yang berkerudung karena alasan menghormati juga. Kami tidak tahu ada sejarah apa di balik itu dengan kaum muslimin. Aneh tapi nyata. Kita doakan saja, semoga mereka medapat hidayah lalu menjadi muslim. (mf)