Perlu Ada Kelas Menulis Para Dosen

Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah
― Pramoedya Ananta Toer

Apa yang diuar Pramoedya Ananta Toer perihal menulis, layak direnungkan. Kenapa layak direnungkan? Karena menulis adalah aktivitas yang usianya amat sangat panjang. Jika jasad kita terkubur, tulisan akan terus hidup.

Tulisan ini ingin berbagi perihal menulis di media massa bukan menulis di jurnal. Tentu saja kegiatan menulis di jurnal sudah menjadi bagian rutin sebagian dosen yang ingin ‘naik kelas’.

Problem mendasar adalah banyak sekali para dosen yang amat terampil menulis di jurnal-jurnal ilmiah tapi amat sulit menulis opini di media massa? Kenapa? Karena ada dua gaya penulisan yang berbeda yang dijadikan pilar penyangga penulisan di jurnal dan media massa.

Dua pilar penyangga ini jika dikerucutkan menjadi dua sub bagian; karya ilmiah dan karya ilmiah populer. Penulisan di jurnal masuk dalam kategori menulis karya ilmiah dan penulisan opini di media massa masuk pada kutub karya ilmiah populer. Pada titik ini, tak perlu dijelaskan lagi perihal perbedaan antar menulis karya ilmiah dan menulis karya ilmiah populer. Semua sudah mafhum.

Anggapan bahwa menulis opini di media massa adalah tulisan yang belum selesai, tidak dalam dan tak merujuk pada satu referensi yang ketat, tak selamanya benar. Menulis di media massa juga butuh ruang kontemplasi. Ruang untuk menguar ide agar cipratan tulisan di media massa menjadi bernas. Menjadi bermakna.

Banyak para filosof dan sastrawan melakukan kegiatan awal menulis di media massa. Sebutlah nama John Dewey, seorang filsuf dari Amerika, teoretikus, reformator pendidikan dan kritikus sosial yang lahir di Burlington, Vermontpad tahun 1859. Ia kerap menulis untuk menuangkan ide-ide besarnya dimulai dari menulis kolom di media massa setempat. Salah satu media tempat ia menulis adalah The New Republic bahkan ketika namanya sudah melambung dalam percaturan dunia pemikiran, ia tetap menulis di media massa.

Maka klaim menulis opini di media massa sebagai tulisan yang belum selesai, tidak dalam dan tidak merujuk pada satu referensi yang ketat, terbantahkan. Bahkan penulis yang lahir dari poros Ciputat seperti Fachry Ali, Komaruddin Hidayat dan Azyumardi Azra, kerap menulis di media massa. Dan jauh sebelum tiga penulis tersebut, penarik gerbong pembaruan pemikiran Islam, Nurcholish Madjid, pun tak lepas dari aktivitas menulis di media massa.

Lantas, kenapa ada anggapan bahwa menulis di media massa itu tulisan yang belum selesai? Apakah ini bentuk apologi karena menulis di media massa hanya diapresiasi dengan honor yang amat kecil? Atau karena persaingan yang amat ketat untuk menunggu antrian dimuat? Apologi seperti ini yang kemudian menggiring sebagian dosen memilih jalur melakukan penelitian, riset karena budget penelitian cukup besar.

Jika kita menulis selalu ditimbang dengan uang, tentu menulis di media massa tak bisa jadi parameter. Honor kecil di media massa mainstream seperti Kompas memang tak besar. Tapi menulis itu seperti sebuah ritual kepuasaan diri. Dimuat di Harian Kompas adalah satu perwujudan pengakuan lain dari para penjaga opini di media tersebut, yang nota bene bukan juga orang sembarangan. Dimuat di Kompas itu harus bersaing dengan ratusan artikel atau opini yang masuk setiap hari.

Faktor yang amat fundamental dalam menulis di media massa itu, perihal isu yang aktual. Isu aktual ini terkait dengan karakter media massa harian, di mana isu-isu yang tumbuh dan berkembang begitu cepat. Maka menulis opini di media massa itu butuh kemampuan melihat, mencermati isu-isu aktual yang bergerak di ranah publik.

Tanpa kemampuan mengendus isu-isu aktual, kiriman tulisan opini kita di media massa, mudah ditolak. Ada juga cara lain, tulisan yang bernuansa kontemplatif. Refleksi. Di Harian Republika, tulisan seperti ini masuk dalam rubrik ‘Resonansi’.

Kultur Ciputat itu tak lepas dari kultur menulis. Kultur menulis inilah yang jadi ciri khas Mazhab Ciputat. Dan sebagian lain, banyak yang mengembangkan kultur lisan. Tradisi lisan di Ciputat menjadi poros tersendiri dan seolah-olah orang yang pandai beretorika di area publik, ia sudah masuk dalam maqam tertinggi. Maqam hakikat.

Tapi orang-orang yang mengembangkan kultur lisan sepertinya lupa bahwa kelisanan acap kali tak abadi. Ia mudah dilupakan dan larut dalam kelisanan-kelisanan yang lain. Omong-omong, ngrumpi, itu usianya tak abadi. Omong-omong, ngrumpi menjadi abadi jika itu terkait dengan ghibah dan fitnah. Apakah kita akan mengembangkan tradisi ghibah dan fitnah dalam area kampus yang berlabel UIN Syarif Hidayatullah Jakarta? Tentu saja tidak.

Menulis itu menertibkan antara tindakan dan ucapan. Maka, menulislah karena tulisan akan jadi prasasti hidup. Akan jadi peranti hidup. Tulisan yang “sehat” adalah tulisan yang berjalan beriringan antara tindakan dan ucapan. Ia tak sekadar merayakan pikiran. Dan satu hal yang jadi password menulis itu membaca. Jika bacaan dan referensi kita banyak, tentu akan memudahkan untuk melakukan kegiatan menulis.

Sudah saatnya para dosen di lingkungan UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, menyerbu media massa melalui tulisan-tulisan opininya. Terbayang dalam benak saya, akan lahir pemikir ekonomi Islam dari gerbong kampus UIN Jakarta melalui uaran-uaran pemikirannya di media massa. Terbayang akan lahir pemikir filsafat Islam dari Mazhab Ciputat, yang tidak pelit berbagi pemikirannya melalui kolom opini di media massa mainstream.

Sebagai penutup, mari kita renungkan apa yang dikatakan Imam Al Ghazali: Jika kau bukan anak raja dan juga bukan anak ulama besar, maka menulislah. Dan tentu saja, sebagian besar dosen UIN Jakarta, bukanlah anak ulama besar dan bukan anak raja, maka anjuran hujjatul Islam, Imam Al Ghazali, layak direnungkan. Label hujjatul Islam yang disematkan pada Imam Al Ghazali itu karena kemampuan daya ingatnya yang luar biasa dan sikap bijaknya dalam berhujjah. Dan sebagian besar, dosen-dosen UIN Jakarta memiliki daya ingat luar bisa dan mampu bersikap bijak dalam berhujjah. Maka menulislah….

Menulis itu harus datang dari kalbu bukan dorongan atau godaan hawa nafsu. Dari sinilah tulisan kita akan punya ruh.

Edy A Effendi
, penulis esai-esai budaya di Kompas dan berbagai media massa. Sambil terus menulis, mengajar di UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta.