Peneliti Bahas Kecenderungan Muslim Asia Tenggara Kontemporer

Saiful Umam Ph.D

Saiful Umam Ph.D

Gedung Rektorat, BERITA UIN Online— Para peneliti Islam dan masyarakat Asia Tenggara dari berbagai lembaga dan perguruan tinggi dijadwalkan hadir dalam The2nd Studia Islamika International Conference 2017 yang digelar Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Jakarta di Syahida Inn, Selasa-Kamis (8-10/2017). Dalam konferensi bertema Southeast Asian Islam: Religious Radicalism, Democracy, and Global Trends, mereka dijadwalkan membahas kecenderungan globalisasi, demokrasi, dan radikalisme Islam di kawasan Asia Tenggara.

Direktur Eksekutif PPIM UIN Jakarta Saiful Umam kepada BERITA UIN Online, Selasa (8/8/2017), mengungkapkan konferensi akan menghadirkan sejumlah pembicara kunci yang memiliki concern dalam penelitian Islam dan Masyarakat di kawasan Asia Tenggara. Selain Prof Dr Azyumardi Azra, tiga lainnya yaitu Prof Dr Imtiyaz Yusuf, Dr Sidney Jones, dan Dr Siti Ruhaini Dzuhayatin.

“Insya Allah, semuanya datang. Prof Azra sebagai sebagai editor in-chief Jurnal Studia Islamika akan menyampaikan orasi ilmiah dalam acara ini,” katanya.

Seperti diketahui, Azyumardi Azra merupakan Guru Besar Sejarah Islam sekaligus Rektor UIN Jakarta periode 1998-2006. Sebagai ilmuwan, ia menulis sejumlah karya berpengaruh seperti The Origins of Islamic Reformism in Southeast Asia: Networks of Malay-Indonesian and Middle Eastern ‘Ulama’ in the 17th and 18th Centuries (ASAA-Allen & Unwin dan University of Hawai’i Press, 2004) yang cukup berpengaruh terhadap kajian Islam di Asia Tenggara.

Adapun Imtiyaz, ia merupakan direktur pada Center for Buddhist-Muslim Understanding pada College of Religious Studies, Mahidol University, Thailand. Sedang Jones, Director of Institute for Policy Analysis of Conflict/IPAC, adalah peneliti dengan spesialisasi jaringan terorisme di Indonesia, khususnya Jamaah Islamiyah. Ia menulis Making Money Off Migrants: The Indonesian Exodus to Malaysia (2000). Sementara Ruhaini, ia merupakan Komisioner HAM Organisasi Kerja Sama Islam atau OIC Independent Permanent Human Rights Commission’s (IPHRC) yang banyak menyoroti isu perlindungan hak-hak asasi manusia.

Seminar sendiri, lanjut Saiful, akan menghadirkan presentasi 83 paper yang dipilih dari 200-an abtrak riset yang diajukan para peneliti dari berbagai institusi lembaga pemerintahan, pusat studi dan riset, dan perguruan tinggi dalam dan luar negeri. Ke-83 paper ini merepresentasikan sejumlah kluster tema riset yang dipilih penyelenggara. Diantaranya, radikalisme keagamaan, demokrasi dan kewarganegaraan, radikalisme keagamaan dan pendidikan, globalisasi dan gerakan transnasional, perekonomian Islam kontemporer, filantropi dan masyarakat madani, masyarakat dan keterwakilan perempuan, media dan kontestasi wilayah publik, tantangan kehidupan urban, dan kebangkitan ppopulisme Islam. (farah nh/yuni nurkamaliah/zm)