Pembelajaran Bermakna untuk Efektifitas Pembelajaran PAI di Sekolah

Prof. Dr. Dede Rosyada MA

Prof. Dr. Dede Rosyada MA

Oleh Prof. Dr. Dede Rosyada, MA

Pendahuluan

Pendidikan Agama Islam (PAI) di sekolah berfungsi membentuk manusia Indonesia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, dan mampu menjaga kedamaian dan kerukunan hubungan intern dan antar umat beragama. Pendidikan agama bertujuan untuk berkembangnya kemampuan peserta didik dalam memahami, menghayati, dan mengamalkan nilai-nilai agama yang menyerasikan penguasaannya dalam ilmu pengetahuan, teknologi dan seni.[1]Materi pelajaran ini memiliki fungsi dan tujuan yang amat mulia, mencakup keyakinan, tradisi peribadatan, budaya sosial, dan bahkan pengembangan pola hubungan berbangsa dan bernegara bagi Indonesia yang majemuk.

Pembelajaran PAI di sekolah, dan juga madrasah, menuntut sebuah model pembelajaran yang harus menyentuh aspek-aspek potensi berpikir, kejiwaan, tindakan, dan bahkan pola hubungan sosial kemasyarakatan dalam sebuah komunitas besar sebagai sebuah bangsa. Ia menuntut keseriusan para guru untuk merancang pembelajaran yang dapat secara komprehensif membina dan mengembangkan seluruh aspek kemanusiaan murid-muridnya. Dengan begitu, para murid bisa menjadi insan kamil yang dapat melaksanakan agama dalam seluruh aspek kehidupan manusia, sehingga benar-benar mewujud dalam seluruh aspek kehidupan manusia, dan masyarakat muslim akan menjadi komunitas umat manusia yang paling ideal di muka bumi ini.

Sejarah panjang perubahan dan reformasi pembelajaran dalam PAI di sekolah telah menghasilkan model yang paling terkini di Indonesia, yaitu pembelajaran aktif, inovatif, kreatif, efektif dan menyenangkan. Sebuah model pembelajaran untuk ilmu-ilmu sosial, yang juga diterapkan pada pembelajaran sains, ilmu-ilmu humaniora, dan ilmu-ilmu keagamaan. Akan tetapi, kritik terus bermunculan terkait implementasi pembelajaran aktif untuk mata pelajaran PAI, yang sebahagian ilmunya adalah Ilahiyah, tidak berubah dan tidak bisa dikritik. Kehati-hatian guru terhadap muatan pelajarannya, menyebabkan mereka harus membatasi kesempatan dan peluang para siswa untuk melakukan discovery atau penemuan sendiri. Oleh sebab itu, peran guru di kelas menjadi  besar, karena harus menjadi sumber bahan ajarpara siswa sekaligus mengawasi mereka belajar dari sumber-sumber tertulis agar tidak keliru dan mampu membangun pemahaman yang baik dengan konstruksi konten yang koheren antara satu materi dengan lainnya.

Pembelajaran Bermakna

Setiap anak akan berubah karena pengetahuan yang diperolehnya, apakah melalui teman sepermainan, tontonan, atau pelajaran yang diberikan oleh orang tua, saudara yang lebih dewasa atau oleh para guru di sekolah. Semakin banyak pengetahuan yang didapatkan, maka semakin besar peluang mereka untuk mengubah cara pikir, cara pandang tentang sesuatu dan juga cara bertindak dalam kehidupan pribadi dan sosialnya. Oleh sebab itu, peningkatan pengetahuan akan lebih baik dan akan lebih bermakna, jika terkoneksi dengan fenomena di luar dirinya, dan pengetahuannya itu kemudian mempengaruhi pola pikir, tindakan dan perilaku sosialnya.

Lantas, apa yang seharusnya dilakukan sehingga proses pembelajaran menjadi bermakna, mampu membangun sebuah konsep prilaku yang holistik tidak parsial, terkoneksi dengan fenomena sosial, dan para siswa mampu memiliki pemahaman yang komprehensif? David Paul Ausubel, seorang ahli Psikologi Kognitif, memberikan sebuah teori pembelajaran yang distinktif, yakni meaningful learningatau pembelajaran bermakna, yakni suatu proses pembelajaran yang diikatkan dengan berbagai informasi baru tentang konsep-konsep relevan yang terdapat dalam struktur kognitif seseorang.[2]Dalam pembelajaran ini, informasi baru dikoneksikan dengan pengetahuan yang sudah ada dan diketahui serta dipahami oleh pembelajar (siswa). Pengetahuan baru akan berinteraksi dengan pengetahuan yang ada dalam pemahaman siswa, sehingga akan melahirkan sebuah struktur pengetahuan baru yang selanjutnya mempengaruhi cara berpikir dan bertindak dalam kehidupan pribadi, keluarga dan sosialnya.

Ausubel sangat yakin bahwa pengetahuan baru hasil belajar sangat mengandalkan sesuatu yang sudah diketahui oleh para siswa. Konstruksi pengetahuan baru akan terjadi setelah menerima atau memperoleh pengetahuan yang berinteraksi dengan pengetahuan yang sudah ada dan dikuasai oleh para siswa. Belajar pada hakikatnya mengembangkan konstruksi pengetahuan baru sebagai hasil interaksi pengetahuan baru dengan pengetahuan yang sudah ada. Menurut Ausubel, belajar dengan menerima jauh lebih bermakna daripada belajar dengan menemukan. Dan belajar dengan membangun konstruksi pengetahuan baru lebih bermakna daripada belajar dengan hafalan. Ausubel menegaskan bahwa belajar dengan menerima konten final itu yang seharusnya lebih direkomendasikan di sekolah, tanpa harus menegasikan sama sekali discovery learning. Akan tetapi, pemahaman konsep, prinsip dan ide-ide itu bisa dicapai melalui proses belajar deduktif.[3]

Pembelajaran bermakna merupakan jalan tengah model konstruktivisme yang keluar dari pembelajaran transformatif dan mengunggulkan model kolaboratif serta pembelajaran koperatif, kendati butuh terlalu banyak waktu, karena sangat memperkuat proses pembelajaran. Atas dasar itu, maka pembelajaran bermakna juga menyederhanakan proses belajar yang terlalu menyita waktu siswa, seperti discovery learning, padahal target kompetensi yang harus diketahui dan dimiliki siswa sudah ada dalam buku teks. Oleh sebab itu, mulai saja dari akhir, yakni belajarkan siswa pada inti materi, akan tetapi dihubungkan dengan pengetahuan yang sudah mereka kuasai, dan biarkan mereka membangun pengetahuan baru, dan mereka membangun fenomena berdasarkan bangunan keilmuannya itu.

Ada tiga manfaat positif dalam dari belajar bermakna. Ketiganya yaitu, pertama,  informasi yang dipelajari secara bermakna lebih lama dapat diingat; kedua, informasi yang terbangun berakibatkan peningkatan bangunan-bangunan ilmu baru yang akan memudahkan proses belajar berikutnya untuk materi belajar yang mirip; dan, ketiga, informasi yang dilupakan sesudah terbangun struktur pengetahuan baru akan mempermudah belajar hal-hal yang mirip walaupun telah terlupakan. Teori belajar bermakna inisebenarnya terlahir bersamaan dengan berkembangnya teori konstruktivisme meski kemudian tidak terlalu populer dibandingkan dengan teori Piaget dan Vigostky. Indonesia sendiri, kini lebih banyak mengembangkan teori konstruktivisme, dibanding dengan teori belajar lainnya.

Prosedur Pembelajaran Bermakna

Untuk pengembangan pembelajaran bermakna, setidaknya ada dua prasyarat yang harus dipenuhi.[4]Pertama, materi yang akan dipelajari harus bermakna secara potensial. Kebermaknaannya sangat bergantung pada dua faktor. Salah satunya, materi harus memiliki kebermaknaan logis, yaitu materi yang akan dipelajari para siswa harus memiliki keterkaitan logis, dan disajikan secara substantif, bukan ilustratif, sehingga bisa dijelaskan dalam berbagai ilustrasi tanpa mengubah artinya. Faktor lainya, gagasan-gagasan yang relevan harus terdapat dalam struktur kognitif siswa. Dalam hal ini harus diperhatikan pengalaman anak-anak, tingkat perkembangan intelektual mereka, intelegensi dan usia.Kedua, Siswa yang akan belajar harus siap untuk melakukan pembelajaran bermakna. Siswa harus siap untuk mengkoneksikan materi pelajaran ke dalam struktur kognitifnya, dan dalam struktur kognitif siswa harus terdapat unsur-unsur yang cocok untuk menghubungkan materi baru secara non-arbitrar dan substantif. Jika salah satu komponen tidak ada, maka pembelajaran akan kembali pada hafalan.

Selanjutnya, terdapat sejumlah prinsip yang harus benar-benar diperhatikan oleh setiap guru saat menjalankan proses pembelajaran bermakna. Hal ini diperlukan agar pembelajaran bermakna mampu menghasilkan produk sesuai dengan yang diharapkan. Beberapa prinsip tersebut antara lain:

  1. Advance Organizer
(pengaturan/persiapan awal)yakni mengarahkan para siswa ke materi yang akan dipelajari dan mengingatkan siswa pada materi sebelumnya yang dapat digunakan dalam membantu menanamkan pengetahuan baru.
  2. Diferensiasi Progresif, yakni mengembangkan proses pembelajaran deduktif. Dengan strategi ini guru mengajarkan konsep mulai dari konsep yang paling utama, prinsip dan inklusif, kemudian dibawa pada ilustrasi yang sangat partikular, operasional dan merupakan satuan-satuan unit pelajaran.
  3. Pembelajaran Superordinat
yakni konsep-konsep yang telah dipelajari sebelumnya diposisikan sebagai unsur-unsur dari suatu konsep yang lebih luas. Belajar dengan superordinat bila diperlukan, bisa dilakukan di luar kelas, untuk melihat dengan lebih nyata tentang bagian-bagian kecil yang dicakup dalam konsep dasar yang prinsip dan inklusif tersebut.
  4. Rekonsiliasi Integratif, yakni menghubungkan penjelasan partikular pada satu konsep dasar yang prinsipil dan inklusif.

 

Signifikansi Pembermaknaan Pembelajaran PAI 

Pembelajaran PAI, sebagaimana ditegaskan dalam Peraturan Pemerintah No. 55 tahun 2007, berfungsi mempersiapkan para siswa untuk menjadi orang beriman, bertakwa, berakhlak mulia dan mampu menjaga kerukunan. Kriteria orang beriman, bertakwa dan berakhlak mulia, sudah ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Iman, takwa dan akhlak mulia, pada hakikatnya merupakan satu kesatuan konsep yang utuh menyatu pada insan kamil. Dengan demikian, pembelajaran PAI harus di bawah kontrol guru sebagai orang yang terlebih dahulu mengenal sebuah kebaikan pada agama dan beragama, dan pengalaman tersebut ditransformasikan pada para siswa untuk menjadi seperti dia atau bahkan lebih baik.

Pembelajaran PAI dengan hanya mengandalkan akumulasi pengetahuan melalui hafalan atau penambahan ilmu tanpa dibangun koneksitas antara satu dengan lainnya, maka akan semakin banyak ilmu, tapi kurang bermanfaat, karena partikular-partikular ilmu tersebut tidak membangun satu kesatuan utuh menuju cita insan kamil. Demikian pula dengan memperbanyak penemuan, baik dengan membaca buku, modul, atau bahkan penelitian empirik, juga para siswa akan memiliki banyak ilmu, tapi belum tentu mampu merekonstruksi ilmunya menjadi satu kesatuan untuk bisa menghantarkannya menjadi insan kamil. Nampaknya pembelajaran bermakna hasil renungan Ausubel ini, sangat menolong kita merekonstruksi pembelajaran PAI. Pasalnya, model ini mendorong keterlibatan penuh guru dalam proses pembelajaran, dalam bingkai pembelajaran aktif, kolaboratif dan juga kerjasama antar siswa, dan siswa dengan guru.

Dalam pembelajaran bermakna yang memperkenalkan teori belajar deduktif, PAI kembali menemukan rumahnya, karena kajian agama berkarakter deduktif. Karena pembelajaran atas Al-Qur’an dan al-Sunah, misalnya, baru bisa dijelaskan dengan pemahaman-pemahaman yang diperoleh para ulama. Tidak ada norma agama yang ditemukan dari budaya dan tata kehidupan sosial masyarakat. Norma kehidupan keagamaan senantiasa diderivasi dari kitab suci. Kalaupun ditemukan dari budaya masyarakat, tetapi akan dikembalikan pada teks suci untuk memperoleh validasi atas kesimpulan logis dari pengalaman masyarakat. Demikian pula penyampaian PAI pada para siswa secara deduktif dalam bingkai pembelajaran aktif, akan sangat menolong untuk menjaga keutuhan pemahaman dan pengamalan agama di kalangan para siswa, karena selain paham secara utuh, mereka juga dapat memahami secara logis dan holistik tentang agama yang dipelajarinya.

Daftar Bacaan

Ariyanto, Penerapan Teori Ausumber pada Pembelajaran Pokok bahasan Pertidaksamaan

Kuadrat di SMU, Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Matematika, tahun 2012,

FPMIPA, Learning Theories, Universitas Pendidikan Indonesia,

Joko Sulianto, Teori Belajar Kognitif David AusubelBelajar Bermakna”, Zoltan P. Dienes ”Belajar Permainan”, dan Van Heille “Pengajaran Geometri” Makalah pada Program Studi PGSD IKIP PGRI Semarang, tth.

Peraturan Pemerintah No. 55 tahun 20017, Pasal 2 ayat 1 dan 2.

[1] Peraturan Pemerintah No. 55 tahun 20017, Pasal 2 ayat 1 dan 2

[2] Joko Sulianto, Teori Belajar Kognitif David Ausubel”Belajar Bermakna”, Zoltan P Dienes”Belajar Permainan”, Van Heille”Pengajaran Geometri” Makalah pada program studi PGSD IKIP PGRI Semarang, tth. h. 4

[3] FPMIPA, Learning Theories, Universitas Pendidikan Indonesia, h. 1

[4] Ariyanto, Penerapan Teori Ausumber pada Pembelajaran Pokok bahasan Pertidaksamaan Kuadrat di SMU, Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Matematika, tahun 2012, h. 56