PBSI Gelar Diskusi Sastra Lintas Komunitas

159Student Center BERITA UIN OnlineHimpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) UIN Jakarta bekerja sama dengan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia menggelar diskusi sastra lintas komunitas dengan tema “Teror Bahasa dalam Media Sosial” di Hall Student Center UIN Jakarta, Rabu (17/05/2017). Diskusi diadakan guna meningkatkan hubungan baik antar komunitas yang ada di UIN Jakarta dan menambah kecintaan kalangan muda pada sastra dan kebudayaan Indonesia. Diskusi dipandu langsung oleh pakar bahasa dan sastra Indonesia Jamal D. Rahman,M.Hum.

Dalam sambutannya Rhamadan selaku ketua HMJ PBSI menjelaskan bahwa diskusi lintas  komunitas ini adalah rangkaian acara dari Pekan Apresiasi Sastra dan Drama (PESTA RAMA) yang bertajuk “Sepekan Bersama Putu Wijaya” yang telah resmi di buka pada Selasa (16/05/2017) bersama tokoh sastrawan Putu Wijaya. Acara akan berlangsung selama sepekan dengan kegiatan testimoni sahabat Putu Wijaya, launching buku Putu Wijaya dan musikalisasi puisi Putu Wijaya sebagai penutup kegiatan PESTA RAMA pada Senin mendatang.

Dalam pemaparan Jamal mengatakan, teror dapat berwujud menjadi beberapa bentuk kekerasan atau hal-hal yang menimbulkan ketakutan yaitu baik pada kekerasan bahasa, kekerasan visual, dan kekerasan fisik. “Pada diskusi ini kita akan fokus pada teror bahasa yang mana kita tahu teror bahasa menggunakan media sosial semakin marak dan sudah ditanggapi serius oleh pemerintah bahkan presiden.” Katanya.

Ia menambahkan, teror bahasa bisa dipandang sederhana bahkan serius. Namun fenomena yang ada saat ini kekerasan bahasa atau teror bahasa di media sosial tidak mendapat respon yang memadai dan kontrol yang cukup di kalangan netizen atau pengguna media sosial. Bahkan kekerasan bahasa justru ditimpali oleh kekerasan bahasa pula yang bisa saja lebih keras lagi dan dapat menjadi awal mula dari kekerasan fisik.

Diskusi berjalan menarik dengan hadirnya tanggapan forum yang beragam tentang sikap terhadap teror bahasa, mulai dari menyikapi secara sederhana karena teror bahasa merupakan hal yang biasa pada era ini, kekeliruan penamaan istilah“teror bahasa”, hingga pandangan ketiadaan teror bahasa dalam praktik komunikasi antar sesama manusia sebagai makhluk yang independen. (Farah/Risa DR/ZM)