Pakar: Islam Menjunjung Tinggi Kesetaraan Gender

159

Prof. Dr. Zaetunah Subhan, MA

Ruang Sidang Utama, Berita UIN OnlineIslam mengamanahkan manusia untuk memperhatikan konsep keseimbangan, keserasian, keselarasan, keutuhan, dengan sesama umat manusia maupun lingkungan alamnya. Keserasian dan keseimbangan tersebut tidak dibedakan dengan perbedaan kelamin.

Demikian disampaikan Guru Besar Fiqih UIN Jakarta, Prof Zaitunah Subhan MA, saat menjadi narasumber pada kegiatan Workshop Pengarusutamaan Gender, yang digelar oleh Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) UIN Jakarta. Kegiatan yang juga dihadiri Yudhi Munandi (Dosen FITK UIN Jakarta) ini, dilaksanakan pada, Jumat (24/02), bertempat di Ruang Sidang Utama lantai 2 Gedung Rektorat.

Kegiatan yang diikuti sedikitnya 20 peserta tersebut, mengangkat topik pembahasan tentang Gender Dalam Perspektif Islam. Selain itu, dibahas pula batasan hak dan kewajiban antara laki-laki dan perempuan yang termaktub dalam al-Qur’an.

Prof Dr Zaitunah Subhan MA dalam penyampaiannya mengatakan, bahwa perempuan boleh menjadi pemimpin, baik sebagai pemimpin kaumnya sesama perempuan, maupun sebagai pemimpin terhadap laki-laki, bukan suatu permasalahan, selama ia mampu dan amanah.

“Sebagaimana kebolehannya dalam berdakwah dan memberikan bimbingan pelaksanaan ibadah, yang tersebut dalam surat al-Taubah ayat 71, yang artinya Orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan sebagian mereka adalah menjadi pemimpin sebagian yang lain. Mereka mengajak berbuat yang makruf dan mencegah yang munkar. Mereka menegakkan shalat dan menunaikan zakat dan mereka taat kepada Allah dan rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah,” jelas Zaitunah.

Masih menurut perempuan kelahiran Gresik 67 tahun lalu itu, bahwa Allah SWT telah memberikan peran, tanggung jawab, sanksi atas kesalahan, dan kedudukan yang sama antara laki-laki dan perempuan dalam menjalankan kehidupan beragama.

“Gender itu bukan berbicara perempuan saja lhoo yaa..,” pukasnya sembari terseyum.

Di tempat yang sama, Yudhi Munandi juga mengungkapkan, kiranya perspetif gender dapat dimasukan kedalam silabus mata kuliah setiap Fakultas di UIN Jakarta. “Gender ini sebagai pisau untuk membedah semua kajian keilmuan. Hal itu karena, kesetaraan gender perlu dipahami oleh seluruh sivitas akademika UIN Jakarta,” tambahnya.

Dengan demikian, tambahnya, seseorang karena perbedaan jenis kelamin tidak akan dipandang sebelah mata. Pasalnya, jika kesetaraan telah tertanamkan dalam diri setiap individu di lingkungan kampus UIN khususnya, maka rotasi kehidupan akan berjalan harmonis dan beriringan. (lrf/sf)