Narasi kemunculan Islam: Cerita Lama dalam Penjelasan Baru

Gedung PPIM, Berita UIN Online-Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Jakarta dan Jurnal Studia Islamika kembali menyelenggarakan diskusi rutin “PPIM Seminar Seri Ke-20”, Rabu (01/07). Tema diskusi kali ini adalah Narasi Kemunculan Islam: Cerita Lama dalam Penjelasan Baru.

Acara yang dimoderatori Prof Dr Oman Faturrohman M.Hum ini menghadirkan dua narasumber utama, Mun’im Sirry Ph.D dan Fuad Jabali Ph.D. Mun’im merupakan dosenDepartemen Teologi sekaligus Peneliti Kroc Institute for International Peace StudiesUniversity of Notre DameAS, sedangkan Fuad merupakan Peneliti PPIM dan Dosen Fakultas Adab dan Humaniora UIN Jakarta.

Dalam paparannya, Mun’im mendorong masyarakat akademis untuk meninjau kembali sumber-sumber penulisan sejarah Islam awal. “Bila diperhatikan seksama, Sirrah Nabawiyah (Sejarah Nabi, red.) ditulis dan muncul sekitar 200 tahun setelah Nabi wafat,” paparnya.

Dalam rentang waktu tersebut, lanjutnya, setidaknya memunculkan tiga pertanyaan besar terkait penulisan sejarah. Pertanyaan pertama, sumber-sumber yang merekontruksi Islam muncul ditulis belakangan oleh Ibnu Hisyam. Padahal jarak penulisan dan masa hidup Nabi SAW mencapai 200 tahun.

“Dalam teori sejarah, kejadian itu harus ditulis oleh orang yang se-zaman atau orang yang melihat dan merasakan kejadian tersebut,” tandasnya.

Pertanyaan kedua, berbagai sumber banyak menyimpan kontradiksi di dalamnya. Ini tercermin dari banyaknya perbedaan pendapat yang muncul seputar penulisan sejarah. Terakhir, gambaran tentang Islam yang ada cenderung lebih merefleksikan corak Islam selanjutnya. “Muncul opini bahwa Islam telah sempurna, di luar itu adalah bid’ah,” ungkapnya.

Jika kita telusuri lebih seksama, kata dia, terdapat kecenderungan pengaburan sejarah yang dilakukan oleh Dinasti Abbasiyah. Diantaranya meminimalisir peran khalifah Abdul Malik bin Marwan dari Dinasti Umayyah yang memiliki pengaruh besar pada fase editing penulisan al-Quran.

Sementara itu, Fuad meminta masyarakat akademik pemerhati sejarah untuk tidak mengabaikan sumber-sumber sejarah yang selama ini dinilai minor. Sebab sangat besar kemungkinkan sumber-sumber demikian menjadi bukti otentik atas fakta sejarah yang sebenarnya.

“Tidak sedikit kisah sederhana dan kecil di zaman Rasulullah yang kita tidak tahu, namun justru kisah kecil tersebut mampu mewujudkan argumen besar, hal yang kecil tersebut mengkonstruk sesuatu yang besar,” jelasnya. (Tutur A Mustofa/Luthfy R. Fikri)