Menegaskan Distingsi Islam Indonesia

Auditorium Utama, BERITA UIN Online— Karakter yang moderat, inklusif, dan mengkomodir demokrasi  sebagai distingsi masyarakat Muslim Indonesia harus dikenalkan lebih luas pada publik global. Ini diperlukan guna menampilkan wajah Islam Indonesia yang ramah sekaligus memperkuat jejaring studi keislaman Indonesia sendiri.

Demikian disampaikan Saiful Umam Ph.D, Ketua Pelaksana Konferensi Internasional bertajuk “Southeast Asian Islam: Promoting Moderate Understanding of Islam” UIN Jakarta di Auditorium Utama, Kamis (08/10). Melalui konferensi, diharapkan publik global bisa lebih mengenal Islam dalam karakternya yang moderat, inklusif dan menerima demokrasi.

 “Sebagai forum intelektual dan peneliti, baik dari dalam maupun luar negeri, kegiatan nantinya juga bisa mendiskusikan distingsi Islam Nusantara sebagai bagian dari studi Islam, termasuk kontribusinya dalam diskursus Islam dunia,” ujarnya.

Direktur Eksekutif Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) ini menambahkan, kegiatan juga diharapkan menghasillkan rumusan akademis bahwa Islam Nusantara layak menjadi disiplin/subdisiplin dalam kelompok ilmu humanitas. “Dengan demikian, pada gilirannya nanti, Islam Nusantara atau Islam Indonesia secara otomatis akan mampu mewarnai diskursus Islam secara global,” harapnya.

Konferensi yang diagendakan selama dua hari, Kamis-Jumat (08-09/10), dihadiri sejumlah intelektual dan Indonesianis. Dari dalam negeri diiantaranya Prof Dr Azyumardi Azra (Guru Besar FAH), Prof Dr Masykuri Abdillah (Direktur Pasca Sarjana UIN Jakarta), Prof Dr Noorhaidi Hasan (Direktur Pasca Sarjana UIN Yogyakarta).

Adapun Indonesianis, diantaranya Prof Leonard Andaya (University of Hawaii, Honolulu, USA), Prof James Hosterey (Emory University, Atlanta, USA) dan Prof Muhammad Ali (University of California Riverside, USA). Intelektual dan Indonesianis ini dijadwalkan mempresentasikan paper masing-masing. (LRF)