Mendedah Peran Ilmu Jiwa Terhadap Radikalisme Agama

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

159Gedung Psikologi, Berita UIN Online – Pada Kamis (13/04/2017), telah dilaksanakan Seminar  Nasional di Ruang Teater Prof. Dr. Zakiah Daradjat, Fakultas Psikologi UIN Jakarta. Seminar bertajuk Religion and Radicalism ini menghadirkan pembicara dari Univesite Catholique de Louvain (UCL) Belgia, Prof. Louis-Leon Christians, serta salah satu dosen Fakultas Psikologi UIN Jakarta, Dr. Gazi Saloom.

Pada sambutannya, Prof. Dr. Abdul Mudjib, Dekan Fakultas Psikologi UIN Jakarta menyatakan bahwa seminar ini selain bertujuan untuk menambah wawasan sivitas akademika Fakultas Psikologi, juga sebagai langkah untuk menjalin relasi internasional. “Dari sini juga, riset-riset Fakultas Psikologi UIN Jakarta bisa dikembangkan, sehingga menegaskan peran UIN Jakarta sebagai kampus riset dan berperan aktif dalam melawan radikalisme agama,” ujarnya dalam bahasa Inggris.

Prof. Louis-Leon, yang juga menjadi salah satu pimpinan di RSCS (Research Institute for Religions, Spiritual, Cultures, Societies) UCL, menyampaikan hasil risetnya terkait studi interdisipliner antara bidang kajian hukum dan peran kajian psikologi terhadap gerakan radikalisme. “Secara aktif, para pakar psikologi perlu meninjau kebijakan hukum suatu pemerintahan, dengan tujuan untuk menegakkan hukum terhadap upaya-upaya radikal hingga teror,” ujarnya dalam bahasa Inggris.

Selanjutnya, dosen bidang hukum UCL ini juga menyatakan bahwa radikalisme bermula dari sikap beragama yang tidak disertai dengan sikap keterbukaan, sehingga akan berkelanjutan pada fundamentalisme pada agama apapun. Hal ini bisa disebutkan karena etika masyarakat, kebutuhan eksistensi pribadi, interaksi kelompok, atau malah karena negara tidak memberikan ruang untuk ekpresi beragama sehingga muncul sikap radikal terhadap hukum yang ada. “Karena itu, para ahli ilmu jiwa tetap perlu melakukan riset-riset yang mendukung untuk pembuatan suatu kebijakan,” imbuhnya.

Di sesi selanjutnya, Gazi Saloom menjelaskan bagaimana gerakan-gerakan radikal dan teror di Indonesia bisa terbentuk dan bergerak. “Masuknya masyarakat ke golongan-golongan radikal ini bermula dari pencarian identitas. Hal ini banyak menimpa khususnya bagi yang baru mengenal pengajaran agama di taraf dewasa, dan kebetulan yang mendekati mereka adalah kaum radikal ini,” ujar doktor lulusan Universitas Indonesia ini. “Dan nantinya, melalui gerakan-gerakan ini, mereka akan dicekoki dan didoktrin tentang konsep-konsep Islam yang gagal dipahami oleh mereka,” imbuhnya. (lrf/Iqbal Syauqi)