Kurban dan Pendidikan Cinta

Muhbib Abdul Wahab Dosen Pascasarjana FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Muhbib Abdul Wahab
Dosen Pascasarjana FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Oleh : Muhbib Abdul Wahab*

Ibadah kurban tidak dapat dipisahkan dari ibadah haji karena salah satu ritual (manasik ) haji, yaitu melempar jumrah merupakan manifestasi dari napak tilas perjuangan dan pengorbanan Nabi Ibrahim AS dan putranya, Ismail AS.

Keduanya mendapat ”ujian iman” dari Allah SWT untuk berkurban. Melalui mimpi Ibrahim AS diperintahkan oleh Allah untuk ”menyembelih” anak kesayangannya. Mengapa Ibrahim AS patuh dan rela melaksanakan perintah berkurban, padahal yang harus ”disembelih” adalah anak sendiri, bukan hewan sembelihan?

Mengapa pula Ismail, yang baru menginjak usia dewasa, bersedia dengan tulus dan sabar menuruti ajakan orang tuanya yang sepintas tidak masuk akal? Mengapa setan gagal total membujuk Ibrahim dan Ismail untuk mengurungkan niatnya menyembelih anak yang paling dicintainya?

Salah satu jawaban yang bisa menjelaskan pertanyaan tersebut adalah karena ada cinta yang mendalam, tulus, dan tanpa pamrih dalam diri sang kekasih Allah (khalilullah), Ibrahim AS dan Ismail AS.

Ibrahim mengaktualisasikan cintanya kepada Allah dengan menyerahkan dan mengorbankan ”Ismail” yang paling dicintainya, karena cinta Allah itu tidak menyisakan ruang untuk merasa berat hati mengorbankan segala yang dimilikinya, termasuk anak yang paling dicintainya. Cinta Allah itu cinta dengan totalitas, cinta tanpa pamrih dan tanpa syarat.

Integrasi Cinta Tuhan dan Kemanusiaan 

Prosesi dan ritual haji memang sangat sarat dengan dinamika cinta kasih (rahmah). Karena cinta, dua insan, Adam dan Hawa, yang telah lama berpisah saling mencari dan dipertemukan kembali oleh Allah SWT di Jabal Rahmah (bukit cinta dan kasih sayang) di kawasan Arafah. Keduanya saling mencari cinta sejati: cinta kemanusiaan dan cinta Tuhan.

Dalam usaha mencari dan menemukan cinta kemanusiaan itu terdapat spirit perjuangan yang tulus dan kerelaan berkurban, sehingga membuahkan kearifan (arafah) yang mendalam, baik kearifan personal, kearifan sosial, maupun kearifan keduniaan dan kearifan keakhiratan.

Karena itu, jamaah haji yang ”khusyuk” meraih cinta Tuhan harus berhenti sejenak sambil berefleksi (wuquf ) di Arafah. Sejarah Arafah adalah sejarah pencarian cinta dan kasih sayang yang sangat humanis, berorientasi kepada kesadaran pentingnya mencintai sesama dengan menghormati dan menegakkan hak-hak asasi manusia (HAM), dan kesadaran perlu cinta masa depan: cinta ukhrawi dan cinta Tuhan.

Di Arafah ini pula Nabi SAW dulu pernah menyampaikan khotbah wadawada yang pada intinya menyerukan integrasicintaTuhandankemanusiaan dengan tidak menumpahkan darah (perdamaian, hidup harmoni, antikekerasan), menjaga hak properti (antikorupsi, eksploitasi, dan pemerolehan harta secara halal dan ilegal), dan menjaga kehormatan diri (antipelecehan, anti-perbuatan amoral).

Cinta kemanusiaan juga diperagakan oleh ibunda Ismail AS pada saat mencari air kehidupan. Ketika diminta tinggal oleh Ibrahim AS di lembah Mekkah sambil diberi amanah memelihara putra satu-satunya, Ismail, di tanah yang tandus dan gersang, tanpa tanaman dan tumbuh-tumbuhan. Perbekalan makanan dan minuman yang dimiliki Hajar semakin hari semakin sedikit.

Cinta Hajar tumbuh bersemi mengasihi putranya. Karena keyakinan dan cintanya kepada Tuhan dan suami, Hajar berusaha mencari air kehidupan untuk anaknya yang mulai kehausan karena kekurangan air minum. Cinta anak mendorong ibunya mengoptimalkan segala usaha demi masa depannya.

Daya juang dan etos pengorbanan tanpa kenal lelah karena anak yang dicintainya menjadikan sang ibu melejitkan tekad kuat dengan hati yang bersih dan tulus (shafa) untuk terus mencari dan menemukan air kehidupan, sehingga apa yang diusahakan hanyalah sematamata untuk mencapai keberkahan dan kepuasan (marwah) bagi masa depan anaknya.

Cinta seorang ibu yang tanpa pamrih mengantarkan masa depan Ismail yang penuh dedikasi. Sejarah dan dinamika cinta anak manusia juga terjadi di Mina (berarti: lembah cinta dan cita-cita). Di tempat ini Ibrahim AS pernah diuji imannya melalui mimpi, berupa perintah ”menyembelih” anak yang sangat dicintainya, Ismail.

Drama pengorbanan ini juga sarat dengan aktualisasi integrasi cinta Tuhan dan cinta kemanusiaan. Untuk menggapai cinta Tuhan, diperlukan pengorbanan dan keikhlasan yang tinggi. Perintah kepada sang ayah untuk ”mengorbankan” anak kandungnya sendiri tidak mungkin terlaksana jika Ibrahim tidak memiliki ketulusan dalam mencintai Tuhan.

Cinta Tuhan harus melebihi dan mengatasi segala bentuk cinta yang ada: cinta keduniaan, cinta harta benda, cinta kedudukan dan kekuasaan, terutama cinta buah hati. Pengorbanan di Mina memberi pelajaran kepada kita bahwa cinta Tuhan mengharuskan totalitas kepasrahan, ketaatan, dan ketulusan mengorbankan segala yang dimilikinya, termasuk anak sendiri yang paling dicintainya.

Mengapa yang diminta oleh Allah untuk dikorbankan Nabi Ibrahim itu adalah yang paling dicintainya? Karena manusia kerap terjebak dalam cinta buta, yaitu cinta dunia, cinta harta, cinta anak, cinta wanita, dan cinta takhta, sementara ia melupakan cinta abadi, yaitu cinta Ilahi.

Selain itu, qurban (berarti pendekatan diri) juga merupakan tolok ukur cinta seorang hamba kepada Tuhannya. Jika panjang jarak dan luas diukur dengan meter, kilometer atau mil, berat diukur dengan kilo, kuintal, dan ton, kadar emas diukur dengan karat, maka kadar cinta kepada Allah SWT diukur dengan seberapa ikhlas kita mengorbankan ”Ismail” yang kita miliki dan sekaligus paling kita cintai.

Singkatnya, jangan berharap meraih cinta abadi atau cinta Ilahi, jika tidak ada pengorbanan sepenuh hati terhadap karunia Allah yang paling dicintainya! Itu esensi dari pendidikan cinta.

 Pendidikan Cinta 

Ternyata kadar cinta Ibrahim kepada Allah yang luar biasa tulus itu membuahkan citacita indah. Anaknya, Ismail, urung disembelih, namun diganti oleh Allah dengan domba. Setan yang berjibaku menggoda keduanya tidak berhasil menggoda dan mempengaruhi orang-orang yang ikhlas seperti Ibrahim dan Ismail.

Dengan kata lain, pendidikan cinta yang tulus karena Allah merupakan senjata paling ampuh untuk menangkal segala bujuk rayu setan yang selalu menyesatkan. Pendidikan cinta dalam ibadah kurban sebagaimana ditunjukkan oleh Ibrahim dan Ismail AS memberi pelajaran berharga bagi kita bahwa manusia, seperti Ismail yang dicita-citakan ayahnya untuk meneruskan perjuangannya, tidak pantas dan tidak semestinya disembelih untuk dikorbankan.

Terlalu mahal manusia dijadikan korban; biarlah hewan- hewan saja yang dikorbankan, agar manusia tidak lagi berperilaku seperti hewan korban. Walhasil, dengan pendidikan cinta melalui kurban, manusia harus dihormati, dihargai, dicerdaskan dan diberdayakan, bukan disikapi dengan kekerasan, penindasan, pelecehan, apalagi pengorbanan.

Karena itu, hakikat kurban dengan menyembelih hewan bukanlah terletak pada darah yang dialirkan dan daging yang dimakan oleh pemberi kurban atau yang dibagikan kepada fakir miskin, melainkan pada ketulusan cinta dan kedalaman takwa kita kepada Allah. ”Daging- daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi takwa dari (lubuk hati)-mu-lah yang dapat mencapainya.” (QS Al-Hajj: 37).

Integrasi cinta Tuhan dan cinta kemanusiaan harus diaktualisasikan dalam rangka memaknai kehidupan yang penuh pengabdian dan nilai-nilai kemanusiaan. Dengan ”tauhid cinta” yang tulus dan mantap, Ibrahim AS berhasil mengorbankan egonya berupa anak atau harta benda yang dimilikinya, sehingga beliau dinobatkan oleh Allah sebagai khalilullah.

Adakah maqam cinta yang melebihi khalilullah ? Karena itu, kita tidak mungkin dapat mencintai Allah bila kita lebih mencintai ego dan individualitas kita. Karena itu, jika kita mampu mencintai Allah melebihi cinta kita kepada yang lain, niscaya kita akan dapat mencintai dan menyayangi sesama.

Dengan mengorbankan nafsu kebinatangan dan ego yang ada dalam diri, kita akan dapat meraih cinta Allah. Dengan modal pendidikan cinta Allah itu kita akan dapat meraih cita-cita mulia dan agung dalam hidup ini: mencintai sesama dengan penuh dedikasi kemanusiaan.

 Muhbib Abdul Wahab 

Dosen Pascasarjana FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Artikel ini telah dimuat pada kolom Opini Koran SINDO, terbit pada hari Rabu,  23 September 2015.