Kultum B’ada Zhuhur XII: Puasa Mengembalikan Supremasi Ruh atas Jasad

Kultum Bambang PranowoMasjid al-Jamiah, BERITA UIN Online– Ibadah puasa memunculkan nuansa berbeda dibanding ibadah lain. Demikian materi Kultum ba’da Zhuhur diawali Guru Besar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Prof Dr M Bambang Pranowo, Rabu (8/7/2015) di Masjid al-Jamiah Student Center.

Bambang memaparkan, ada fenomena unik di kalangan masyarakat yang terjadi saat puasa Ramadhan. “Ada di antara mereka yang berpuasa, tapi tidak mengerjakan shalat,” ujarnya.

Shalat adalah tiang agama, sambungnya, yang saling terkait antara satu sama lain. Diibaratkan membangun rumah tanpa tiang itu tidak mungkin terjadi.

“Puasa tanpa shalat, bagai rumah tanpa tiang, ibarat pakai baju tapi tidak pakai celana,” tandasnya.

Terkait puasa, menurut doktor lulusan Monash University Australia ini, dapat mengembalikan supremasi ruh atas jasad. Di luar Ramadhan, banyak manusia diplonco nafsu jasadiyah, bahkan terpuruk akibat tidak bisa kendalikan nafsu.

Sebuah kasus faktual diangkat Bambang tentang bagaimana pandangan mata yang ditumpangi nafsu dapat membuat seorang polisi hancur hidupnya.

“Itu akibat dia tidak mampu menjaga pandangan matanya dari seorang gadis cantik, sehingga nafsu menguasai dirinya untuk menodai gadis itu sambil menodongkan pistolnya ke arah korban agar keinginannya terpenuhi,” jelasnya.

Karena sang gadis teriak dan oknum polisi itu panik, lanjutnya, tanpa sengaja tertembaklah gadis malang itu dan meninggal di tempat.

“Di bulan Ramadhan inilah nafsu dapat dikendalikan ruh, sehingga manusia bisa selamat,” katanya.

Bambang melanjutkan ceramahnya dengan menjelaskan istilah Soji yang diambil dari bahasa Jawa. “Soji itu Songo Siji, atau sembilan satu. Tubuhnya satu, lubangnya sembilan,” jelas Bambang.

Diuraikannya, tujuh ada di kepala dan dua ada di bawah kepala. Agama itu, lanjutnya, sebagai acuan untuk membimbing sembilan lobang itu, agar manusia tidak lupa dengan lubang kesepuluh.

“Lubang kesepuluh itu lubang kubur. Banyak manusia yang lupa dengan lubang kesepuluh ini, seakan-akan mereka hidup terus dan tidak masuk lubang itu,” imbuhnya.

Bambang mengakhiri ceramahnya dengan mengingatkan jamaah untuk melakukan ibadah secara intensif agar tidak diplonco nafsu. Dia mengutip hadis Nabi SAW tentang nafsu manusia yang tidak pernah merasa cukup, selalu mempunyai keinginan lain sampai dihentikan keinginannya oleh maut.