Konferensi Internasional Studia Islamika Rilis 83 Paper Terpilih

PPIM UIN Jakarta bakal kembali helat konferensi internasional, The 2nd Studia Islamika International Conference 2017 on Southeast Asian Islam: Religious Radicalism, Democracy, and Global Trends di Jakarta, Selasa-Kamis 8-10 Agustus mendatang. Konferensi mengundang para akademisi dalam dan luar negeri untuk mempresentasikan berbagai hasil penelitiannya tentang Islam dan Masyarakat Muslim di kawasan ini.

PPIM UIN Jakarta memilih 83 paper dari hampir 200-an abstrak yang diajukan pada The 2nd Studia Islamika International Conference 2017. Konferensi bertema Southeast Asian Islam: Religious Radicalism, Democracy, and Global Trends ini akan diselenggarakan di Jakarta, Selasa-Kamis 8-10 Agustus 2017. 

Gedung PPIM, Berita UIN Online— Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Jakarta memilih 83 paper yang akan dipresentasikan dalam The 2nd Studia Islamika International Conference 2017 di Jakarta, 8-10 Agustus 2017 (http://conference.ppim.uinjkt.ac.id/selected-papers/). Ke-83 paper terpilih berasal dari hampir 200-an abtrak yang diajukan para peneliti dari berbagai institusi lembaga pemerintahan, pusat studi dan riset, dan perguruan tinggi dalam dan luar negeri untuk dipresentasikan dalam konferensi bertema Southeast Asian Islam: Religious Radicalism, Democracy, and Global Trends.

Demikian rilis panitia Konferensi Internasional PPIM yang diterima Berita UIN Online, Rabu (7/6/2017). “Sepanjang masa pendaftaran, kami menerima hampir 200-an abstrak yang diajukan para peneliti dari berbagai institusi, dalam dan luar negeri. Melalui seleksi ketat, akhirnya terpilih 83 abstrak yang bisa dipresentasikan dalam konferensi sekaligus berpeluang dipublikasikan dalam Studia Islamika,”sebut rilis.

Pembacaan Berita UIN Online, beberapa abstrak paper yang diajukan merepresentasikan tema beragam. Ali Amin dari Graduate School of Asia Pacific Studies Waseda University Japan, misalnya, mengajukan paper bertajuk Globalized Islam in Japan Religious Practices and Discourses among Indonesian Immigrants in Tokyo. Lalu, Dewi Satria Elmiana dari Queen’s University Belfast United Kingdom menulis Multicultural Citizenship Education in Indonesia: Investigating Teachers’Perceptions in Chinese Christian School.

Selanjutnya, Gabriel Maximiliano Facal dari Institut de recherches Asiatiques France menulis ISIS in Banten: Local Dynamics of a Global Movement. Gullnaz Baig dari London School of Economics and Political Science United Kingdom menulis Contesting Syariat Islam for the Pancasila State.

Sebelumnya, konferensi mengundang para peneliti mempresentasikan penelitiannya tentang Islam di Asia Tenggara dalam sejumlah tema utama. Diantaranya, Religious Radicalism: Approaches, Trends and Methods; Democracy, Citizenship and Identity; Religious Radicalism and Education; Globalization and Transnational Movements: Southeast Asian Islam and ISIS. Tema penting pada topik ini menyoroti aspek radikalisme keagamaan.

Topik-topik lainnya adalah berkisar tentang perekonomian, filantropi, dan perempuan. Ini difasilitasi dalam klaster Contemporary Islamic Economics and Tourism; Philanthropy and Civil Society; Women, Society and Representation.

Selanjutnya, para akademisi juga bisa memilih topic seperti peran media sosial, ruang publik, dan populisme Islam. Ini ditawarkan melalui topic-topik seperti Social Media and the Contestation of the Public Sphere; Challenges of Urban Life: Food, Culture and Life Style; dan The Rise of Islamic Populism? Sectarian Politics in Contemporary Indonesia. (farah nh/zm)