Konferensi Internasional FISIP Terima 70-an Paper Radikalisme Agama dan Kekerasan Politik

Gd. FISIP, BERITA UIN Online—Konferensi Internasional Ilmu-Ilmu Sosial dan Politik yang diselenggarakan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) menerima 70-an paper yang diajukan para ilmuwan-peneliti bidang keilmuan terkait dari berbagai perguruan tinggi dalam dan luar negeri. Konferensi yang diagendakan sepanjang Selasa-Rabu (08-09/09) sendiri mengambil tema “Explaining Religious Radicalism and Political Violence: Towards Nation-State Building”.

Demikian disampaikan Dekan FISIP Prof Dr Zulkifli MA saat membuka konferensi, Selasa (08/09). “Panitia menerima lebih dari 70-an paper akademik dengan kualitas akademik dan relevansi kuat yang ditulis para akademisi yang memiliki minat di bidang radikalisme agama dan kekerasan politik,” ungkapnya.

Jacques Bertrand, misalnya, mengajukan paper berjudul Religion, Nation and Democracy in Shifting Global Environment: New Challenges fopr Southeast Asia. Dalam paper ini, Profesor Departemen Ilmu-Ilmu Politik University of Toronto ini menyoroti kecenderungan menguatnya politisasi agama dalam dunia global sejalan dengan surutnya rasa nasionalisme di berbagai negara.

Penguatan politisasi agama terlihat dari bermunculannya gerakan-gerakan politik keagamaan yang lintas batas negara. Hanya saja, kecenderungan demikian tidak berlaku utuh di kawasan Asia Tenggara dimana nasionalisme dan politisasi agama saling berjalinkelindan menjadi tantangan baru bagi negara-negara di kawasan ini.

“Dalam hal ini, gagasan ‘negara’ di Asia Tenggara masih kuat. Tetap di saat yang sama, agama-agama secara luas berpengaruh penting pada pembentukan negara, sehingga menciptakan model tantangan baru bagi negara-negara di kawasan ini,” paparnya.

Greg Barton, Indonesianis dari Alfred Deakin Institute for Citizenship and Globalisation Deakin University menyajikan paper Understanding Islamic State’s ‘Pull-Factor’ in Southeast Asia and Implications for State and Civil Society in Countering Violent Extremism. Dalam makalahnya, Barton menyoroti ancaman perluasan pengaruh radikalisme agama melalui pesan dan pemasaran online yang dilakukan Gerakan NIIS.

Penyebaran pengaruh demikian, sebut buku Biografi Gusdur ini, menjadi faktor penarik (pull-factor) yang lebih berperan dalam menarik jihadis baru dibanding faktor dorongan (push-factor) dari dalam diri (seseorang) sendiri. “Ini menegaskan bahwa faktor penarik (pemasaran dan pesan online) lebih berperan penting dibanding faktor pendorong dalam membangkitkan gerakan radikal keagamaan,” paparnya. (TAM/LRF/ZM)