Khutbah Rektor UIN Jakarta: Meraih Kebahagiaan Dunia dan Akhirat

Jatinegara, Berita UIN Online— Kebahagiaan dunia bisa menjadi pangkal kebahagiaan akhirat. Dan, kebahagiaan dunia bisa diraih dengan memenuhi sejumlah kebutuhan dasar manusia yang bercorak ibadah seperti iman, ibadah, menebar kebaikan pada sesama, menjaga hubungan baik, keharmonisan keluarga, kesehatan dan keterpeliharaan kondisi psikologisnya.

Demikian disampaikan Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof. Dr. Dede Rosyada MA, dalam khutbah ‘Meraih Kebahagiaan Dunia dan Akhirat’ yang disampaikan usai Shalat Idul Fitri, Ahad 1 Syawal 1438 H/Minggu 25 Juni 2017 M, di kawasan Jalan Jenderal Urip Sumoharjo, Jatinegara, Jakarta Timur. Ribuan umat Islam dari berbagai kawasan DKI Jakarta ikut shalat ied berjamaah dan mendengarkan khutbah tersebut. Berikut ringkasan khutbahnya:

 

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahi al-Hamdu

Hadirin Jamaah Ied yang berbahagia

Pertama-tama marilah kita senantiasa bersyukur ke hadhirat Allah SWT yang telah memberikan kesempatan kepada kita untuk melaksanakan ibadah ‘Idul Fitri 1438 H pada pagi yang berbahagia ini. Semoga semua amal ibadah kita dapat diterima oleh Allah Yang Maha Kuasa dan dibalas-Nya dengan pahala yang berlipat ganda. Shalawat dan salam semoga selalu dilimpahkan Allah kepada Nabi Besar Muhammad SAW, yang telah berjuang menyampaikan risalah Islamiyah sebagai petunjuk dan pedoman hidup bagi seluruh umat manusia. Begitu juga untuk keluarga dan sahabat-sahabat beliau serta siapa saja yang mengikuti sunnahnya dengan penuh keimanan dan keikhlasan sampai Hari Akhir nanti.

 

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahi al-Hamdu

Hadirin Jamaah Ied yang berbahagia

Kebahagiaan merupakan dambaan seluruh umat manusia, apa pun latar belakang agama, bahasa, geografis atau bahkan suku bangsa mereka. Dan, masing-masing agama yang hadir dalam sejarah manusia telah memformulasikan kebahagiaan, mulai dari definisinya, kriterianya, hingga cara-cara bagaimana manusia bisa menggapainya. Dan kita, umat yang melaksanakan ajaran agama Islam, juga termasuk umat yang sangat mendambakan kebahagiaan, tidak hanya kebahagiaan di kehidupan akhirat kelak, melainkan juga kebahagiaan dalam kehidupan dunia kini. Dan, al-Qur’an sebagai petunjuk bagi umat Islam, banyak menguraikan tentang tema kebahagiaan, meski ia lebih banyak mengangkat tema kebahagiaan dalam kehiudapan akhirat dibanding kehidupan di dunia kini. QS Hud (11): 105-108 yang khatib bacakan di awal merupakan sebagian kecil ayat al-Qur’an yang berbicara tentang kebahagiaan.

 

“Di kala datang hari itu, tidak ada seorangun yang berbicara, melainkan dengan izin-Nya; maka di antara mereka ada yang celaka dan ada yang berbahagia (105). Adapun orang-orang yang celaka, maka (tempatnya) di dalam neraka, di dalamnya mereka mengeluarkan dan menarik nafas (dengan merintih) (106). Mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain). Sesungguhnya Tuhanmu Maha Pelaksana terhadap apa yang Dia kehendaki (107). Adapun orang-orang yang berbahagia, maka tempatnya di dalam surga, mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain); sebagai karunia yang tiada putus-putusnya (108).”

 

Dari ayat-ayat tersebut kita diperlihatkan bahwa inti kebahagiaan itu identik dengan surga (jannah) yang diberikan Allah sebagai karunia yang tidak ada putus-putusnya, dan diberikan pada mereka yang berprestasi baik dalam amal perbuatan selama di dunia ini. Selain itu, ini juga menegaskan bahwa Allah tidak (banyak) menyinggung kebahagiaan di dunia dibanding kebahagiaan di akhirat, karena –seperti diungkapkan para mufassir—kebahagiaan dunia tidak lebih daripada wasilah yang harus dilakukan manusia guna meraih kebahagiaan di akhirat nanti.

 

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahi al-Hamdu

Hadirin Jamaah Ied yang berbahagia

Kebahagiaan dalam kehidupan dunia, seringkali dianggap sederhana oleh semua orang, sehingga kita tidak merasa penting untuk mencoba memahaminya secara konsepsional. Aliran Psikologi Kognitif, misalnya, mencoba menjelaskan bahwa kebahagiaan adalah kesesuaian antara apa yang difikirkan dan yang diinginkan tentang hidup dengan apa yang diraih dalam kehidupan.  Semakin tinggi tingkat kesesuaian yang difikirkan dan diinginkan dengan yang diraih, maka semakin tinggi tingkat kebahagiaannya. Sementara kalangan aliran Psikologi Afektif menjelaskan bahwa kebahagiaan adalah refleksi perasaan dari apa yang sudah mereka capai. Aliran ini tidak mengkalkulasi pencapaian untuk mengukur kebahagiaan, tapi menyimpulkan dari perasaan yang terefleksi dalam setiap pencapaian. Apa yang manusia fikirkan dan apa yang manusia angan-angankan, pada hakikatnya menjadi kebutuhan yang ingin mereka penuhi. Dan ketika seorang manusia melakukan sesuatu, maka pada hakikatnya dia sedang memenuhi kebutuhannya.

            Dalam kehidupannya, masing-masing individu manusia memiliki kebutuhan yang pasti berbeda antara satu dengan yang lainnya. Kendati demikian, seperti disampaikan Dr. Ghalib Ahmad Mishri dan Dr. Nathif Jami Adam dari King Fahd University, setidaknya terdapat beberapa kebutuhan dasar dalam kehidupan setiap Muslim yang sama, yaitu; (1) Keimanan, (2) Beribadah kepada Allah SWT, (3) Berbuat baik dan berbagi pada orang lain (4) Terjaga hubungannya dengan sesama (silaturrahim), (5) Terjaga keharmonisannya dalam keluarga, (6) adanya stabilitas emosional, dan (7) terpeliharanya kesehatan mereka. Itulah daftar kebutuhan yang pasti ingin dipenuhi dalam kehidupan setiap Muslim.

Bahwa, setiap muslim akan bisa mencapai kebahagiaan dengan baik jika mampu memenuhi kebutuhan jiwanya dengan menjadikan iman. Dalam hal ini, iman menjadi dasar dalam setiap amal dan karya mereka, menjadi kekuatan kontrol dalam pelaksanaan amal dan karya manusia, dan menjadi tujuan dari setiap amal dan karya yang mereka lakukan. Begitu juga, mereka akan mencapai kebahagiaan jika dapat melaksanakan ibadah, jika bisa melaksanakan tugas untuk memberi pada orang lain, jika bisa menjaga harmonisme relasi sosial dan seterusnya. Sebab pada hakikatnya, seluruhnya merupakan kebutuhan dasar mereka untuk mencapai kebahagiaan. Dengan demikian, semua ketentuan agama yang disampaikan Allah SWT pada umat manusia, baik berupa perintah maupun larangan, mengikat atau tidak mengikat, pada akhirnya merupakan instrumen normatif yang dibutuhkan manusia dalam meraih kebahagiaan mereka sendiri, tidak hanya kebahagiaan akhirat, melainkan juga kebahagiaan dalam kehidupan dunia ini.

            Disadari atau tidak oleh kita semua, kebermaknaan hidup bagi orang lain, merupakan kebutuhan psikologis semua orang, yang akan mampu menghantarkan kebahagiaan kita di dunia ini. Ketika kita memberi atau berbagai pada orang lain, pada hakikatnya bukan semata sedang berusaha memenuhi kebutuhan mereka dengan apa yang kita bagi, tapi juga sedang memenuhi kebutuhan kita sendiri, yakni kebutuhan akan kebermaknaan hidup kita bagi orang lain melalui sikap dan tindakan “memberi” (giving). Demikian pula, ketika kita mengembangkan relasi sosial (relating) dengan bersilaturrahmi, melakukan komunikasi sosial, berdialog di mushalla atau masjid, di pertemuan warga dan yang sejenisnya, bukan saja untuk membangun kebersamaan, keharmonisan sosial, tapi pada saat yang sama sedang memenuhi kebutuhan kita untuk bisa diterima di tengah-tengah masyarakat di mana kita berada. Semakin kita terasa dibutuhkan oleh masyarakat, maka akan semakin tinggi rasa kepuasan psikologis kita, dan semakin tinggi pula pencapaian kebahagiaan kita dalam kehidupan dunia ini.

Kesimpulan Dr. Ghalib dan Dr. Nathif seperti telah disebutkan di atas, terkonfirmasi oleh pengalaman sebuah organisasi bernama Action for Happiness, sebuah organisasi pergerakan  masyarakat yang berkomitmen membangun masyarakat yang lebih bahagia dan lebih peduli antar sesama asal Berkshire, United Kingdom (Inggris). Organisasi ini menandaskan tentang lima cara yang sangat tinggi tingkat konsistensinya dalam merealisasikan kebahagiaan yang dilakukan setiap individu. Kelimanya yaitu (1) giving atau pemberian, (2) Relating atau hubungan/kesalingterkaitan, (3) Exercising atau latihan (4) Appreciating atau penghargaan/apresiasi, dan (5) Trying Out atau cobaan. Saat seseorang mengamalkan kelima sikap ini, sebutnya, maka ia berpeluang besar mampu meraih kebahagiaan dalam hidupnya.

 

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahi al-Hamdu

Hadirin Jamaah Ied yang Berbahagia.

Pengalaman manusia yang disimpulkan lewat pengamatan oleh para ahli psikologi tersebut, hanyalah sebuah pembenaran terhadap sebuah pola hidup dan kehidupan manusia yang dirancang Tuhan, yang Dia keluarkan secara komprehensif sebagai ajaran Agama. Begitulah istimewanya manusia di mata Allah SWT. Untuk kepentingan subyektif-Nya saja, Allah menyiapkan rancangan disain perilaku yang menjadi agama dan berimplikasi dalam pahala dan dosa. Untuk kebutuhan psikologisnya, seseorang perlu menjadi bagian dari komunitas, perlu komunikasi, dan perlu memiliki kebermaknaan dalam lingkungannya. Semua tindakan untuk menjadi bermakna tersebut, Allah jadikan sebagai bagian dari ajaran agama. Dengan demikian, beragama dengan baik dalam kehidupan sosial, menjadi bagian penting bagi seseorang untuk memperoleh kebahagiaan hidup.

Sejalan dengan itu, Allah sangat mengecam mereka yang lalai terhadap anak yatim, yang lalai terhadap orang-orang miskin, dan juga lalai dalam pelaksanaan ibadah dengan menyebutnya sebagi orang yang mendustakan agama (yukadzdzibu bi al-diin), yakni mengaku beragama, padahal sebenarnya tidak sedang beragama. Sebagaimana diungkap dalam QS al-Ma’un (107): 1-7 yang berbunyi:

 

Artinya: “Tahukah kamu orang yang mendustakan agama, itulah orang yang menghardik anak yatim, Dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin, Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang melakukan shalat, yaitu orang-orang yang lalai dalam shalatnya orang-orang yang berbuat riya dan enggan menolong dengan barang berguna.”

           

QS al-Ma’un seperti dibacakan di atas sebetulnya merupakan kritik terhadap kita semua karena seringnya kita berlaku lalai, baik lalai akan kepedulian pada anak yatim, lalai akan kepedulian pada orang-orang miskin, dan lalai akan pelaksanaan ibadah shalat. Kelalaian akan tiga pekerjaan tersebut, akan menjauhkan kita dari kebahagiaan dunia dan kebahagiaan akhirat, karena beberapa kebutuhan kita tidak kita penuhi, dan pada saat yang sama beberapa perbuatan untuk penyiapan bekal akhirat juga tereduksi.

Kebutuhan akan komunikasi dengan Tuhan, misalnya, akan terkurangi jika kita lalai melaksanakan ibadah shalat. Lalainya kita akan shalat menjadikan kebutuhan untuk terkoneksi dengan Zat Yang Maha Tidak Terbatas, otomatis menjadi terkurangi. Padahal manusia adalah makhluk dengan berbagai keterbatasan, dan akan senantiasa perlu untuk selalu terkoneksi dengan Yang Maha Tidak terbatas, sekedar untuk memenuhi berbagai harapan yang tidak bisa dijangkau karena keterbatasan kemanusiaan.

Demikian juga seandainya kita tidak mempedulikan saudara-saudara kita yang miskin, apalagi tidak mempedulikan anak-anak yatim di sekeliling kita, maka makna hidup kita sebagai seseorang yang berguna bagi lingkungan dan masyarakat akan menjadi sirna. Karena sesungguhnya, pada saat kita memberi, saat kita peduli terhadap saudara-saudara kita yang fakir dan miskin, juga anak-anak yatim piatu, bukan sekedar memenuhi kepentingan penerima atau bukan sedang mencukupi kebutuhan mereka yang kita pedulikan, melainkan justru hal-hal itu kita lakukan guna memenuhi kebutuhan kejiwaan kita untuk menggapai kebermaknaan hidup agar didapat kepuasan dan kebahagiaan di dunia maupun akhirat.

 

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar walillahi al-Hamdu

Hadirin jamaah Ied yang berbahagia ..

Ramadhan yang baru kita lalui selama sebulan terakhir sejatinya melatih kita semua untuk menjadi manusia ideal yang diharapkan Tuhan sehingga pantas meraih kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Semua sumber kebahagiaan dunia telah Allah SWT perintahkan untuk dijalankan sepanjang bulan ramadhan yang menyertai pelaksanaan ibadah puasa. Terkait itu, setidaknya terdapat lima ajaran  agama yang ditradisikan selama ramadhan, sebagai implementasi ajaran Allah, yakni:

  1. Penguatan akidah dan keimanan. Kendati mungkin sebahagian muslim melaksanakan ibadah puasa karena desakan lingkungan keluarga dan sosial, tapi pada tahap tertentu akan sampai pada kesadaran iman yang sangat dalam pada saat mereka tetap melaksanakan ibadah puasa dan tidak membatalkan puasanya di saat lapar dan haus di siang hari, karena dengan kesadaran keimanan, bahwa Tuhan tahu tindakan setiap manusia di dunia kendati luput dari pengawasan manusia lainnya. Kesadaran akan adanya Tuhan yang senantiasa menyertai kehidupan seluruh umat manusia ini, akan membuat setiap muslim memiliki tempat kembali untuk berkeluh kesah, mengadu dan menyampaikan seluruh persoalan dan permohonan kepada-Nya, sehingga tidak ada kekosongan jiwa bagi kehidupan muslim, karena selalu bersama Zat Yang Maha Mutlak.
  2. Penguatan amaliah ritual. Bulan ramadhan adalah bulan ibadah (syahru al ibadah). Allah mensyariatkan ibadah shalat malam yang khas ramadhan, yakni qiyam al-ramadhan yang dilakukan dengan sangat santai, dan jumlah bilangan rakaatnya melebihi rakaat shalat sunah lainnya di luar ramadhan. Dan bahkan di bulan ramadhan, ditradisikan oleh para ulama pendahulu kita untuk memperbanyak zikir dengan memperbanyak menyampaikan istighfar, shalawat, tasbih, tahmid dan tahlil, dan terus semakin intensif pada sepuluh hari terakhir untuk meningkatkan intensitas komunikasi dengan Allah, dengan memberikan sebuah reward yang luar biasa yakni malam al-Qadar yang nilainya melebihi bilangan seribu bulan. Intensitas pendekatan diri kepada Allah, akan semakin memperkuat keimanan, dan akan semakin meningkat dari sekedar sebagai landasan setiap amal dan karya, kemudian menjadi sandaran dalam setiap permasalahan sehingga senantiasa berlapang jiwa, terjauh dari alienasi, kesendirian dan kekecewaan.
  3. Peningkatan tradisi giving; Di bulan ramadhan Allah mentradisikan sebuah ibadah giving yang khas ramadhan, yakni memberi makanan dan minuman untuk berbuka baik dengan mengundang para saudara-saudara kita yang berpuasa untuk berbuka bersama di rumah, memberi buka mereka yang masih dalam perjalanan, atau mereka para musafir yang kebetulan berada di mesjid, mushala atau langgar untuk shalat maghrib. Dan juga di akhir ramadhan, Allah mentradisikan memberi pada orang lain lewat kewajiban zakat fitrah (zakat diri), yakni mereka yang memiliki persediaan lebih untuk pelaksanaan hari raya idul fithri, diwajibkan membayar zakat fitrah untuk mereka yang faqir dan miskin. Giving dalam bentuk zakat fitrah ini merupakan giving wajib, yang juga bisa disekaliguskan dengan pembayaran zakat harta tahunan, sehingga semakin banyak yang didistribusikan pada bulan ramadhan, dan akan semakin banyak orang yang memperoleh pembagian, dan akan semakin banyak orang yang digembirakan dengan distribusi tersebut. Kegembiraan mereka adalah kebahagiaan bagi kita yang mendistribusikan uag atau harta tersebut. Giving dalam makna Islam bukan sedang menggembirakan mereka kalangan fakir dan miskin, bukan sedang meringankan beban hidup mereka, tapi sedang memberi nutrisi pada jiwa kita semua, sehingga bisa meraih kebahagiaan. Semakin banyak giving yang kita lakukan, maka akan semakin besar kenyamanan dan ketenangan dalam jiwa. Dan itulah intinya bahagia.
  4. Memperkuat relating. Bulan ramadhan merupakan bulan pertaubatan, walaupun taubah bisa dilakukan di semua malam di semua bulan, tapi pada bulan ramadhan diperintahkan untuk memperbanyak melakukan ibadah di malam hari sambil melakukan evaluasi diri, tentang apa yang sudah dilakukan yang melanggar aturan, atau sepertinya tidak melakukan pelanggaran, tapi berdimensi pelanggaran, sehingga bisa direkalkulasi untuk memohonkan ampun kepada Allah. Akan tetapi, ada dan bahkan banyak perbuatan-perbuatan salah justru dilakukan dengan sesama manusia, yang tidak akan bisa diampuni oleh Allah, tanpa maaf yang bersangkutan. Perbuatan-perbuatan salah tersebut, bisa kesalahan yang kita tahu itu salah, karena diniatkan untuk menyakitinya, dan bisa pula dengan niat melaksanakan kebaikan dan kebenaran tetapi orang lain tersakiti dengan tindakan dan pekerjaan tersebut. Tindakan dan perbuatan salah akan selalu menjadi halangan untuk akseptabilitas sosial, semakin luas permusuhan pada kita maka akan semakin sempit ruang gerak hubungan sosial, maka akan semakin terisolasi dari kehidupan sosial. Dalam ramadhan ini Allah melatih kita untuk melakukan tindakan-tindakan yang bisa meningkatkan akseptabilitas kita dalam lingkungan kita. Dan semakin luas akseptabilitas sosial, maka semakin lapang kehidupan kita, semakin nyaman dan semakin terasa keharmonisan kita dengan lingkungan. Itulah sumber kebahagiaan.
  5. Penguatan sikap harmoni. Ibadah puasa adalah ibadah tahunan yang sangat besar bagi umat Islam. Semua umat Islam di dunia menyambut bulan ramadhan dengan suka cita, memperbanyak amaliah ritual, amaliah sosial, dan meminimalkan aktifitas profesi dan sosial yang mengurangi intensitas kebersamaan dalam keluarga. Secara kultural ibadah puasa membawa umat Islam pada suasana kebersamaan, saling menghargai satu sama lain dan memperkuat kebersamaan, khususnya dalam lingkungan keluarga, baik keluarga inti maupun keluarga dalam konteks yang yang lebih besar. Semakin tinggi intenstitas kebersamaan, maka akan semakin besar peluang untuk memperoleh kenyamanan, keindahan dan kesenangan jiawa. Dan itulah kebahagiaan yang diraih dengan kebersamaan.

 

Demikianlah, lima tradisi amaliah dan budaya yang mengiringi ibadah puasa secara teoretik akan mampu menghantarkan kita semua menjadi orang bahagia dalam kehidupan dunia ini, yang sekaligus juga memperkuat upaya syari’ah dan kultural untuk meraih kebahagiaan akhirat. Semua umat Islam di dunia tentu mendambakan kebahagiaan dunia dan akhirat. Mudah-mudahan ibadah yang kita laksanakan selama satu bulan penuh yang baru kita lewati akan mampu mengangkat kualitas iman dan taqwa kita kepada Allah SWT sekaligus menghantarkan kita meraih kebahagiaan dunia dan akhirat.

 

Dan, marilah kita akhiri ibadah kita kepada Allah pada hari ini, dengan sama-sama menengadahkan kedua telapak tangan kita berharap penuh kepada-Nya, agar senantiasa melindungi kita dari perbuatan-perbuatan yang akan menjauhkan kita dari-Nya, dan berharap dengan sepenuh hati agar senantiasa dekat dengan-Nya, sehingga terlepas dari berbagai perbuatan buruk yang bertentangan dengan aturan-aturan syari’ah-Nya. (yuni nurkamaliah/zm)