Kaca Mata Lahir dan Kaca Mata Batin Para Sahabat

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Oleh Habib Luthfi Yahya

Habib Luthfi Yahya

Habib Luthfi Yahya

Pandangan lahiriah dan pandangan batiniah, punya dimensi yang berbeda. Sedalam apapun kaca mata lahiriah dan argumen yang diolah, tetap saja ranah ini sangat terbatas. Berbeda dengan “kaca mata” batiniah, yang jauh lebih luas dan tak tertakar ujungnya.

Kaca mata batiniah, jika diibaratkan sinar-X yang mampu menebus hal-hal lahiriah (dzahir), maka sosok Imam Nawawi, melebihi sinar-X tadi. Lebih menembus. Para ulama lain mungkin memiliki kemampuan sinar-X yang menembus materi, tapi mungkin tidak sedalam yang dimiliki Imam Nawawi.

Ibarat lain lagi, jika para ulama mujtahid ketika di pinggir pantai sudah dapat melihat isi lautnya, Imam Nawawi lebih tahu yang dalam lagi. Mungkin bisa yang lebih dalam, lebih dalam, dan lebih menembus hakikat materi yang ada di dalam lautan.

Jadi penempatan sebuah pendapat ulama mujtahid, tidak melulu didasarkan pada lebih alim dan argumen yang lebih kuat. Tapi kemampuan menembus kedalam ruang batin tersebut. Ini baru pada baru pada level ulama, yang hidup setelah Baginda Nabi wafat puluhan bahkan ratusan tahun lamanya. Lantas bagaimana dengan para sahabat?

Sebodoh-bodohnya sahabat, tidak dapat dibandingkan dengan para ulama mujtahid sekalipun. Setinggi-tingginya maqam batiniah seorang mujtajid, tidak akan layak dibandingkan dengan maqam batiniiah para sahabat.

Kemampuan seorang mujtahid bertemu Baginda Nabi secara kasat mata, dengan maqam batiniahnya, tidak seperti sahabat. Para sahabat makan bersama Baginda Nabi, salat bersamanya, berbincang-bincang dengannya, secara langsung, sewaktu beliau hidup.

Sementara ulama mujtahid untuk mencapai maqam batiniah tertentu, harus menempuh jalan riyadlah (menempa diri) dan lain-lain, baru dibuka hijabnya oleh Allah. Demikianlah letak perbedaan tentang maqam bathiniyah, sehingga berakibat pada kualitas pendapat para ulama. Wallahu A’lam.

– Habib Luthfi Yahya, Ra’is ‘Am Jam’iyyah Ahl Thariqah Mu’tabarah an-Nahdhiyah (JATMAN)