|
Kelas Menengah Muslim Indonesia (1) |
|
|
|
|
Ditulis oleh Prof Dr Azyumardi Azra MA
|
|
Kamis, 29 Desember 2011 11:00 |
|
Pembicaraan publik tentang 'kelas menengah' Indonesia meningkat menjelang akhir 2011. Dalam berbagai diskusi dan pemberitaan media terungkap, jumlah kelas menengah Indonesia terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Jumlah mereka kini diperkirakan atau bahkan lebih dari separuh jumlah total penduduk Indonesia-sekitar 130-140 juta orang.
Apa ukuran seseorang atau satu keluarga tertentu termasuk kelas menengah (middle class)? Secara sederhana, ukurannya adalah perbelanjaan per kapita sekitar 5-20 dolar AS (Rp 45 ribu-1,8 juta) per hari. Sebaliknya, mereka dengan pendapatan kurang dari jumlah itu, apalagi cuma dua dolar per hari, termasuk kelas bawah (lower class), tegasnya bahkan miskin. Dalam sebuah ukuran lain, sebuah keluarga disebut termasuk kelas menengah jika memiliki gelar sarjana, pekerjaan tetap (apakah ayah atau ibu atau kedua-duanya) dengan pemasukan tetap, rumah dan kendaraan (meski secara cicilan), serta sejumlah tabungan. Ukuran tambahan lain; mampu membiayai liburan dengan segenap anggota keluarga minimal sekali dalam setahun.
Apakah Anda atau keluarga Anda termasuk golongan kelas menengah? Silakan dihitung-hitung dan dirasakan sendiri. Tapi, hampir bisa dipastikan, sebagian besar pelanggan dan pembaca Harian Republika ini termasuk kelas menengah; apakah kelas menengah atas (upper middle class), kelas menengah tengah (middle middle class), atau kelas menengah bawah (lower middle class). Para pelanggan dan pembaca Republika jelas sudah memiliki sedikit atau banyak kelebihan penghasilan sehingga mampu melanggan koran ini.
Maka, jika berbicara tentang pertumbuhan kelas menengah Indonesia, mau tidak mau kita harus berbicara tentang peningkatan jumlah kelas menengah Muslim negeri ini. Hal ini sama sebangun dengan pembicaraan tentang kelas bawah dan miskin di negeri ini, yang hampir bisa dipastikan pula sebagian besarnya adalah kaum Muslim. Inilah 'takdir' demografis Indonesia, yang sekitar 88,2 persen penduduknya beragama Islam; sehingga ada orang yang berkata, jika batu dilemparkan ke tengah kumpulan orang, 'pastilah' yang terkena lemparan itu orang Muslim.
Karena itu, penerima (beneficiaries)-positif atau negatif-perkembangan ekonomi negeri ini adalah kaum Muslimin. Memang sering dikatakan orang, ekonomi dan kekayaan Indonesia dikuasai segelintir konglomerat atau tycoon, yang termasuk ke dalam 20 atau 40 orang terkaya Indonesia, yang sebagian besarnya adalah non-Muslim dan sekaligus merupakan warga keturunan. Tanpa harus bersikap rasis, masih perlu waktu bagi kian pertumbuhan jumlah konglomerat/tycoon Muslim.
Terlepas dari itu, pada lapisan kelas menengah jelas kaum Muslim-sedikitnya dari segi jumlah-merupakan pihak yang paling banyak terkena, apakah jika ekonomi Indonesia membaik, atau sebaliknya merosot. Sekali lagi, meski masih ada sekitar 30 sampai 50 juta warga miskin di negeri ini-yang umumnya Muslim-secara kasat mata orang juga bisa melihat pertumbuhan kelas menengah Muslim sedikitnya dalam tiga dasawarsa terakhir.
Pertumbuhan kelas menengah Muslim bermula dengan tersedianya pendidikan-khususnya pendidikan tinggi agama Islam (PTAI). Inilah salah satu buah kemerdekaan karena sepanjang masa penjajahan Belanda sampai dasawarsa pertama kemerdekaan, terdapat hanya dua pendidikan tinggi di negeri ini; sekolah tinggi teknik (yang kemudian menjadi ITB) di Bandung dan STOVIA (Sekolah Tinggi Kedokteran yang kemudian menjadi UI) di Jakarta.
Berkat kemerdekaan, sejak akhir 1950-an terjadi ekspansi kesempatan memperoleh pendidikan bagi anak bangsa pada berbagai tingkatannya. Pada tingkat pendidikan tinggi, di kalangan kaum Muslim ini ditandai berdirinya PTAIN di Yogyakarta dan ADIA di Jakarta, yang pada 1960 berubah menjadi IAIN. Sejak saat itu sampai awal 1970-an berdiri pula IAIN di berbagai ibu kota provinsi dengan fakultas-fakultas cabangnya (yang pada 1996 menjadi STAIN) di kota-kota tingkat kabupaten.
Pada periode yang sama, perguruan tinggi umum (PTU) juga berdiri di hampir seluruh ibu kota provinsi. PTU-PTU ini juga memberikan akses lebih besar kepada putri-putri kaum Muslim untuk mempelajari bidang ilmu. Pada tingkat sarjana lengkap (Drs), PTU juga memberikan tempat bagi para sarjana muda (BA) lulusan IAIN untuk melanjutkan studinya.
Hasil ekspansi pendidikan tinggi ini jelas sudah. Sejak akhir 1960-an dan selanjutnya sampai sekarang, terjadilah apa yang disebut almarhum Nurcholish Madjid sebagai 'panen sarjana' kaum Muslimin Indonesia. Jumlah sarjana muda (BA) dan sarjana lengkap (Drs/Dra), apakah lulusan PTAI ataupun PTU (baik negeri maupun swasta), selalu bertambah dalam jumlah berlipat ganda dari tahun ke tahun. Dan, mereka ini memunculkan berbagai perkembangan yang bahkan tidak pernah terbayangkan pada masa sebelumnya, baik pada lingkungan umat Islam sendiri maupun negara-bangsa secara keseluruhan.
Penulis adalah Direktur Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Tulisan dimuat pada Harian Republika, Kamis (29/12). |
|
Dunia Muslim-Barat: Pesan dari Qatar |
|
|
|
|
Ditulis oleh Prof Dr Azyumardi Azra MA
|
|
Kamis, 22 Desember 2011 10:00 |
|
Hubungan Dunia Muslim dan Barat 10 tahun pasca-9/11/2001 masih menjadi subjek yang seksi di banyak forum internasional, regional, dan lokal. Ini terlihat, misalnya, dari Doha Forum: Fourth UN Alliance of Civilizations 2011 yang menyelenggarakan panel khusus dalam rangkaian acara 11-13 Desember 2011 membicarakan topik ini. Panel yang menghadirkan enam panelis, antara lain wakil dari Pew Research Institute, Tariq Ramadan, Rashad Hussain (utusan khusus Presiden Obama untuk Urusan Islam), dan saya sendiri, untuk membahas berbagai segi dinamika dan perkembangan di antara kedua dunia dalam masa 10 tahun terakhir.
Inilah pesan dari Doha, Qatar. Pertama, kategorisasi ‘Dunia Muslim’ dan ‘Barat’ dalam posisi binari bertentangan tidak lagi bisa diterima. Hal ini berdasarkan kenyataan, sejauh menyangkut Muslim, mereka tidak hanya terdapat di wilayah negara-negara berpenduduk mayoritas Muslim, tetapi juga kian banyak di Eropa dan Amerika, atau Barat umumnya. Dan, kaum Muslim di Dunia Barat, apakah penduduk asli, keturunan imigran, ataupun imigran yang belum lama menetap umumnya tidak berada dalam posisi binari oposisional dengan masyarakat dan pemerintah negara masing-masing.
Selain itu, secara politik internasional, umumnya negara berpenduduk dan berpemerintahan Muslim memiliki hubungan baik dengan banyak negara dan masyarakat Barat. Hubungan itu tidak hanya dalam bidang politik, tetapi juga ekonomi, budaya, pendidikan, dan sains-teknologi. Tetapi, juga terdapat negara Muslim yang terlibat dalam ketegangan dan konflik dengan negara-negara Barat tertentu, yang menjadi ganjalan bagi hubungan internasional lebih aman dan damai.
Kedua, berdasarkan riset dan survei tahunan yang diselenggarakan Pew Research Institute dan Gallup, secara umum tensi permusuhan konflik di antara kalangan pemerintah dan masyarakat Barat dengan negara dan masyarakat Muslim menunjukkan kecenderungan terus menurun.
Dalam beberapa tahun terakhir, di kalangan masyarakat Barat, berkembang persepsi dan pandangan lebih positif terhadap Islam dan kaum Muslim. Dan, umumnya pemerintah dan masyarakat di kedua wilayah samasama memiliki keprihatinan pada ekstremisme dan terorisme. Mereka menolak ekstremisme, kekerasan, dan terorisme atas nama agama. Mereka juga sepakat semua pihak harus secara bersama menanganinya dengan pendekatan dan cara tegas, adil, dan objektif.
Ketiga, masyarakat Muslim umumnya kian bisa menerima sistem politik demokrasi, yang sering diasosiasikan dengan dunia Barat. Mereka merasakan dan melihat demokrasi yang meski memiliki kelemahan tertentu, lebih baik dibandingkan sistem-sistem lain, seperti teokrasi atau otoritarianisme militer dan sipil. Dalam penerimaan demokrasi, pada saat yang sama juga berlangsung usaha serius di kalangan pemerintahan dan masyarakat Muslim sendiri untuk mengontekstualisasikan dan mempribumisasikan demokrasi, sehingga menjadi lebih sesuai dengan realitas historis, demografis, sosial, dan budaya masyarakat Muslim masing-masing.
Keempat, dalam 10 tahun terakhir kian banyak negara dan masyarakat Muslim yang mengalami peningkatan ekonomi dan kesejahteraan. Dengan begitu, mereka menjadi lebih mungkin meningkatkan kualitas SDM, yang pada gilirannya memperkuat rasa percaya pada diri sendri. Tetapi, di tengah pening katan kehidupan ekonomi itu, kian meningkat pula kecemasan pada korupsi yang tampak tambah meruyak di dalam berbagai lapisan pemerintahan, birokrasi, dan lembaga-lembaga publik lainnya.
Namun, pesan dari Qatar tidak hanya berisi berita baik, tetapi juga kabar tidak menyenangkan, yang memerlukan perhatian dan usaha kedua belah pihak untuk memperbaikinya. Pertama, di kalangan masyarakat awam di kedua belah pihak, masih bertahan pandangan dan mispersepsi stereotipikal satu sama lain. Hal ini karena kurangnya pengetahuan, informasi akurat, dan interaksi di antara masyarakat pada tingkat akar rumput ini.
Pada saat yang sama, krisis dan kesulitan ekonomi yang melanda banyak negara dan masyarakat di Eropa dan Amerika dalam waktu beberapa tahun terakhir, mendorong munculnya kelompok masyarakat dan partai politik antiimigran, tegasnya anti-Muslim. Kelompok dan partai dengan sikap seperti ini memanfaatkan pesimisme ekonomi dan sosial masyarakat mereka sendiri untuk menggalang semangat antiimigran dan anti-Muslim.
Dengan demikian, masih terdapat sejumlah ‘PR’, baik bagi pemerintah maupun masyarakat Barat sendiri untuk menghilangkan —atau sedikitnya mengurangi—semangat anti-Islam. Sedangkan di pihak pemerintah dan masyarakat Muslim, juga terdapat ‘PR’ yang tidak ringan, yaitu membereskan kekisruhan dan kekacauan di rumahnya masing-masing. Situasi dalam negeri negara Muslim yang kisruh, kacau, dan penuh kekerasan, jelas tidak kondusif bukan hanya dalam konteks dalam negeri, melainkan juga dalam kaitan dengan dunia internasional.
Penulis adalah Direktur Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Tulisan dimuat pada harian Republika, Kamis (22/12).
|
|
|
Mengapa Teroris Segelintir |
|
|
|
|
Ditulis oleh Prof Dr Azyumardi Azra MA
|
|
Kamis, 15 Desember 2011 12:27 |
|
Dunia terlihat lebih aman dari terorisme, termasuk di Indonesia. Sepuluh tahun setelah 9/11/2001 yang menjadi salah satu tahap terpenting terorisme, kini terdapat kecenderungan menyurutnya terorisme. Ini terjadi bukan hanya karena tewas atau ditangkapnya sebagian besar pimpinan dan anggota kelompok teroris di berbagai penjuru dunia, tetapi juga sebab pengamanan dan sekuriti ketat yang kini mapan, antara lain, di bandara dan bangunan umum.
Meski demikian, jelas sel-sel terorisme masih terdapat di mana-mana, bergerak di bawah tanah, juga di Indonesia. Dan, sel-sel itu bisa dipastikan terus berusaha merekrut anak-anak muda untuk menjadi apa yang mereka sebut sebagai 'pengantin', atau bahkan 'syahid' atau 'martir' dengan meledakkan diri mereka sendiri dan orang-orang yang di sekitar mereka.
Dalam konteks itu, menarik membaca buku karya Charles Kurzman, The Missing Martyrs: Why There Are So Few Muslim Terrorists (Oxford: OUP, 2011). Kurzman mencoba menjelaskan alasan teroris Muslim hanya segelintir dan menimbulkan korban jiwa jauh lebih sedikit dibandingkan teroris-teroris lain. Atau, dengan jumlah korban tewas yang lebih 'sedikit' dibanding dengan korban nyawa berbagai bentuk terorisme dan kekerasan lain di banyak tempat di muka bumi.
Tetapi, sebelum menjelaskan argumen Kurzman menjawab pertanyaan itu, jelas ia-dan kita semua-tidak berharap bertambahnya jumlah teroris Muslim. Sebaliknya, ia ingin menunjukkan kegagalan terorisme atas nama Islam dengan para pelaku Muslim, yang menimbulkan korban jiwa dan harta benda sejak dari New York, Virginia di AS, Denpasar, Jakarta, London, Madrid, dan sejumlah tempat lain.
Mengapa teroris Muslim begitu segelintir? Menurut Kurzman, hal ini berkaitan dengan kegagalan kelompok dan sel teroris merekrut anak muda revolusioner Muslim dalam jumlah signifikan. Meski upaya rekrutmen dilakukan melalui berbagai media, seperti kelompok pengajian, lewat dunia maya, dan melalui tatap muka intensif, tidak banyak yang berhasil terekrut. Jaringan teroris Muslim global berhasil merekrut hanya kurang dari satu orang dari setiap 15 ribu Muslim dalam waktu seperempat abad terakhir, dan kurang dari satu orang dalam 100 ribu Muslim sejak peristiwa 11 September 2001. Meski angka ini sangat kecil, perlu tetap wanti-wanti karena satu atau dua teroris saja sudah terlalu banyak. Apalagi, dampak luar biasa yang bisa ditimbulkan satu atau dua orang tersebut terhadap kehidupan publik dan agama secara keseluruhan.
Karena kesulitan dan kegagalan dalam rekrutmen, terjadilah apa yang disebut Kurzman sebagai 'bottleneck', sumbatan di leher botol, bagi tersedianya calon-calon 'pengantin' yang membawa bom dan meledakkan dirinya di sasaran-sasaran tertentu. Memang organisasi dan kelompok teroris sering mengklaim memiliki daftar panjang sukarelawan yang siap meledakkan diri mereka, tetapi dalam kenyataannya, kian sedikit jumlah mereka yang kemudian benar-benar melakukan bom bunuh diri.
Lebih jauh lagi, sejak 9/11 yang diikuti berbagai peristiwa bom bunuh diri yang menghasilkan banyak tekanan dari hampir seluruh kekuatan negara dan pemerintahan kepada kelompok-kelompok teroris, jumlah pelatihan bagi kader teroris jauh berkurang. Selama lima tahun pemerintahan Taliban di Afghanistan, misalnya, diketahui terdapat sekitar 10 ribu sampai 20 ribu calon-calon pengebom mengikuti latihan militer dan teror. Tetapi, setelah 9/11 jumlah pelatihan berkurang sampai 90 persen. Tindakan terorisme banyak dilakukan para rekrutan masa Taliban.
Di tengah penurunan itu, banyak rekrutan yang melakukan kekerasan dan berniat meledakkan bom bunuh diri tidak kompeten sama sekali. Banyak mereka yang gagal melakukan bom bunuh diri karena tercium aparat keamanan lebih dulu sehingga langsung diciduk. Atau kalau pun berhasil meledakkan bom, sering korbannya hanyalah ia sendiri; mengingatkan kita pada kasus M Syarif di Masjid Kapoltabes Cirebon. Tindakan pengeboman di masjid dan rumah ibadah lain seperti gereja, jelas sangat kontra-produktif, amat merugikan diri dan kelompok mereka sendiri. Akhirnya, membuat mereka kian teralienasi dari arus utama kaum Muslim.
Semua gejala ini sekaligus menunjukkan kenyataan lain bahwa panggilan 'jihad' bagi seluruh umat Islam yang dilakukan kelompok-kelompok teroris tidak pernah efektif; diabaikan sama sekali oleh kaum Muslimin umumnya. Dan, organisasi dan kelompok teroris itu dalam website dan penerbitannya hampir selalu menyesalkan dan mengecam kaum Muslimin yang tidak menghiraukan panggilan mereka. Mereka menganggap kaum Muslim umumnya masih terus 'tertidur'.
Kenyataan ini sekaligus menunjukkan, kaum Muslim umumnya cinta damai dan tidak tertarik pada kekerasan, apalagi terorisme. Kurzman juga menunjukkan kasus kaum Muslim Indonesia umumnya yang berbondong-bondong ikut dalam pemilu dan proses demokrasi lainnya sejak masa pasca-Soeharto. Mereka menerima dan melaksanakan demokrasi yang dalam pandangan mereka merupakan sistem politik lebih baik dibandingkan dengan sistem politik lain semacam daulah Islamiyah atau khilafah
Penulis adalah Direktur Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Tulisan dimuat pada harian Republika, Kamis (15/12). |
|
Partai Kebebasan dan Keadilan |
|
|
|
|
Ditulis oleh Prof Dr Azyumardi Azra MA
|
|
Kamis, 08 Desember 2011 11:07 |
|
Jumpa lagi dengan Essam el-Haddad; kali ini dalam Forum Demokrasi bertajuk ‘Sustaining Democracy in the Arab World’ yang diselenggarakan International Institute for Democracy Assistance (IDEA) di Madrid, Spanyol, 27-28 November 2011. Sebelumnya 6-8 April 2011, saya pertama kali bertemu dengan el-Haddad dalam diskusi meja bundar di kantor pusat International IDEA di Stockholm—membahas tentang gejolak transisi Mesir pasca-Mubarak.
Sejak pertama bertemu, percakapan saya sangat mengalir dengan el-Haddad, tokoh muda al-Ikhwan al-Muslimun (IM), penyandang gelar PhD dari Universitas Birmingham, Inggris. Ia juga menjabat ketua Dewan Penyantun Islamic Relief yang bermarkas di London. Kehangatan dalam percakapan, bukan hanya karena saya bisa bercerita panjang lebar padanya tentang banyak tokoh el-Haddad lain—dan juga warga keturunan Hadharim Indonesia—tapi karena pembicaraan saya yang ‘nyambung’ tentang IM. Saya memang sudah lama mengkaji IM—sejak mengambil MA Kajian Timur Tengah di Columbia University, New York (1986-88) dalam perspektif perbandingan dengan masyarakat Muslim Asia Tenggara.
El-Haddad agaknya tipikal IM; berpendidikan tinggi, profesional, analitis, dan argumentatif. Karakter ini berbeda dengan (mis)persepsi di kalangan Barat yang sertamerta memasukkan IM ke dalam kaum ‘Islamis’ —istilah yang menjadi ‘anathema’ bagi Barat. Apa yang mereka maksud dengan ‘Islamis’? Sederhananya, mengacu kepada golongan Islam yang kaku pemahaman keislamannya dan tidak toleran terhadap perbedaan baik antarumat Islam sendiri, maupun dengan umat non-Muslim.
El-Haddad menolak mispersepsi dan bias yang menggeneralisasi IM dan sayap politiknya Partai Kebebasan dan Keadilan/PKK (Hizb al-Hurriyah wa al-‘Adalah, didirikan IM 6 Juni 2011) sebagai kaum ‘Islamis’. Ia mengemukakan, tidak seluruh gerakan dan partai Islam dapat dimasukkan ke dalam ‘kotak tunggal’ Islamis. Karena, kaum ‘Islamis’ tidak monolitik dan memiliki spektrum cukup luas. El-Haddad mengambil contoh PKK dengan Wakil Ketua Rafiq Habib, seorang Protestan, mendampingi Ketua Umum Mohammad Mursi dan pimpinan lain berlatar belakang IM. Dengan begitu, PKK menampilkan diri sebagai parpol Islam inklusif terhadap non-Muslim.
Dalam perkembangan Mesir pasca-Mubarak, banyak kalangan di Barat dan di Timur Tengah, dan bahkan masyarakat Mesir sendiri, khawatir transisi menuju demokrasi hanya memberikan kesempatan besar kepada kekuatan yang mereka sebut sebagai ‘Isla mis’ merebut kekuasaan untuk kemudian menerapkan agenda Islamisasi dengan mengor bankan golongan non-Muslim dan kelompok sekuler-liberal. Teoretisasi persepsi ini terkenal sebagai ‘democracy trap’, yaitu demokrasi mengandung jebakan tampilnya kaum Islamis mengambil alih kekuasaan melalui sistem dan proses demokrasi.
Apakah ‘ democracy trap’ bisa berlaku dalam transisi Mesir menuju demokrasi? Kelihatan sulit. Pemilu legislatif 28 November 2011 menghasilkan PKK sebagai peraih suara terbanyak—dengan perolehan suara sementara sekitar 40 persen. Kemudian Partai al-Nour, ‘partai kaum Salafi’, memperoleh sekitar 20 persen suara. Partai ini semula berkoalisi dengan PKK dan Partai al-Wafd; tetapi 3 September 2011 menarik diri dari koalisi karena menganggap PKK terlalu moderat dan kompromistis, dan pada 29 September membentuk koalisi baru guna merekrut kalangan lebih berorientasi Salafi di dalam IM.
Dikotomi intra-Islam antara PKK dan Partai al-Nour khususnya jelas tidak mudah diatasi dan meningkatkan pergumulan kian intra umat Muslim. Dalam pada itu, IM dan PKK (sebagai kubu Muslimin) terlibat pula dalam pergumulan dengan berbagai kelompok liberal-sekuler dan non-Muslim, meski tidak selalu terlihat secara jelas di permukaan dinamika sosial-politik.
Tetapi, hal inilah yang paling mendasari mengapa IM dan PKK tidak ikut serta mengerahkan massa ke Maydan Tahrir (Tahrir Square) yang berujung dengan kekerasan dan tewasnya lebih dari 30 demonstran menjelang Pemilu Parlemen 28 November lalu. Alasan yang sama membuat mereka tidak memboikot Pemilu. Tetapi, bertolak belakang dengan dugaan banyak pengamat, massa berbondong-bondong memberikan suara; dan pemilu berlangsung relatif aman.
Menurut el-Haddad, pengerahan massa merupakan bagian dari rekayasa dan skenario politik untuk menimbulkan kekacauan yang dapat menjadi justifikasi bagi militer guna terus mencengkeram kekuasaan. Dan, para pencipta skenario semacam itu merasa lebih ‘aman’ dan ‘terjamin’ di bawah kekuasaan militer.
Jalan panjang menuju demokrasi sipil masih bakal berlangsung lama dan sekaligus pedih di Mesir bukan hanya karena kerumitan penyelenggaraan Pemilu di negeri ini, tetapi juga karena terus berlangsungnya pergumulan perebutan kekuasaan. Apakah IM dan PKK mampu terus menjadi kekuatan moderasi Islam; masih harus kita tunggu.
Penulis adalah Direktur Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Tulisan dimuat pada harian Republika, Kamis (8/12). |
|